Film Operasi Pesta Copet: Merangkai Keramaian Pestapora ke Layar Lebar
- 24 Agt 2026 00:11 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Film 'Operasi Pesta Copet' mengangkat tema pencopetan dengan latar belakang festival musik Pestapora yang menampilkan suasana ramai dan natural.
- Sutradara Edy Khemod menggabungkan teknik sinematografi dengan memanfaatkan lokasi Pestapora dan menciptakan adegan khusus untuk keperluan naratif film.
- Proses produksi film ini melibatkan perhitungan matang dan perencanaan panjang untuk menghasilkan cerita yang kohesif antara latar nyata dan adegan rekayasa.
Di balik aksi pencopetan yang menjadi premis utama, Operasi Pesta Copet membawa cerita tentang empat anak muda. Ijal, Adut, Tia, dan Melodi digambarkan menghadapi tekanan hidup yang mendorong mereka mengambil pilihan sulit.
Keempat karakter tersebut tidak sejak awal digambarkan sebagai orang yang memilih kriminalitas. Mereka berada dalam situasi ekonomi yang sulit dan kesulitan mendapatkan pekerjaan layak.
Sutradara Edy Khemod mengatakan film ini ingin melihat kehidupan para tokohnya dari sisi yang lebih luas. Menurutnya, pencopetan menjadi bagian dari persoalan sosial yang ingin dibicarakan melalui cerita.
“Nyopet di konser bukanlah pilihan utama mereka. Mereka melakukannya karena terpepet,” kata Edy Khemod.
Pilihan tersebut membuat cerita tidak hanya berpusat pada aksi mereka di tengah festival. Persahabatan keempat tokoh juga menjadi bagian penting ketika mereka menghadapi berbagai persoalan.
Karakter Ijal menjadi salah satu gambaran paling jelas mengenai latar belakang tersebut. Ia memiliki mimpi seperti anak muda lainnya, tetapi tidak memiliki dukungan ekonomi yang cukup untuk mengejar kehidupan yang diinginkan.
Iqbaal Ramadhan melihat Ijal sebagai karakter yang dekat dengan persoalan ketidakadilan sosial. Ia menilai perbedaan kehidupan Ijal dengannya bukan terletak pada keinginan untuk memiliki masa depan, tetapi pada kondisi tempat seseorang dilahirkan.
“Dia juga anak muda yang punya mimpi. Yang membedakan Ijal dan kita, dia tidak dilahirkan di keluarga yang bisa menopang dia dengan segala privilesenya untuk berada di titik kayak kita sekarang,” ujar Iqbaal.
Menurut Iqbaal menjadi pencopet bukanlah tujuan utama karakter Ijal. Ia juga melihat Ijal sebagai bagian dari kelompok yang terpinggirkan oleh sistem dan struktur sosial.
Perspektif tersebut menjadi penting karena film tidak hanya menempatkan karakter sebagai pelaku tindak kriminal. Penonton juga diajak melihat kondisi yang membentuk keputusan mereka sebelum akhirnya menjalankan aksi nekat tersebut.
Dengan pendekatan itu, persoalan ekonomi tidak digunakan untuk membenarkan tindakan para tokoh. Sebaliknya, latar belakang tersebut menjadi cara film memperlihatkan bahwa sebuah tindakan kriminal juga dapat memiliki konteks sosial yang lebih panjang.
Ernest Prakasa turut menekankan pendekatan tersebut. Menurutnya, karakter dalam film bukanlah orang yang sejak awal ingin menjadi pencopet, melainkan anak muda yang berada dalam keadaan terdesak.
“Karakter-karakter di film Operasi Pesta Copet itu sebenarnya bukan orang jahat. Mereka hanya anak-anak muda yang terpaksa nekat karena tuntutan ekonomi,” katanya.
Pada akhirnya, perjalanan Ijal, Adut, Tia, dan Melodi tidak hanya berbicara tentang bagaimana mereka menjalankan aksi di tengah kerumunan. Cerita mereka juga memperlihatkan persahabatan, tekanan hidup, dan pilihan yang muncul ketika jalan keluar semakin sempit.
Melalui empat karakter tersebut, Operasi Pesta Copet mencoba membawa penonton melihat manusia di balik tindakan yang salah. Film ini tidak berhenti pada pertanyaan tentang siapa salah dan benar, tetapi juga mengajak melihat alasan dibalik semua itu.
|
Selanjutnya,
Kisah Copet Tapi Bukan Mengglorifikasi Kriminalitas
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....