Film Operasi Pesta Copet: Merangkai Keramaian Pestapora ke Layar Lebar
- 24 Agt 2026 00:11 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Film 'Operasi Pesta Copet' mengangkat tema pencopetan dengan latar belakang festival musik Pestapora yang menampilkan suasana ramai dan natural.
- Sutradara Edy Khemod menggabungkan teknik sinematografi dengan memanfaatkan lokasi Pestapora dan menciptakan adegan khusus untuk keperluan naratif film.
- Proses produksi film ini melibatkan perhitungan matang dan perencanaan panjang untuk menghasilkan cerita yang kohesif antara latar nyata dan adegan rekayasa.
Gagasan Operasi Pesta Copet tidak muncul dalam waktu singkat. Film ini telah dikembangkan sejak 2023, sebelum akhirnya diproduksi dan dijadwalkan tayang di bioskop pada 2026.
Ide tersebut berawal dari keresahan Edy Khemod terhadap aksi pencopetan yang kerap ditemuinya ketika menghadiri konser bersama band Seringai. Keresahan itu kemudian berkembang menjadi gagasan film yang mengambil latar festival musik.
Produser Dipa Andika mengatakan, pertemuan pertama pihak Imajinari dengan Khemod berlangsung pada 2023. Saat itu, Khemod datang membawa gagasan sederhana tentang cerita pencopetan di konser.
“Pertama kali Khemod cuma bilang, ‘Gue pengen bikin film tentang copet.’ Karena setiap konser Seringai pasti ada copet,” kata Dipa dalam konferensi pers di Plaza Senayan, Jakarta, Rabu 22 Juli 2026.
Dari gagasan tersebut, tim kemudian mulai memikirkan bentuk cerita dan lokasi yang paling sesuai. Festival musik sungguhan dipilih karena memberikan suasana yang sulit direplikasi jika seluruh latar dibuat sebagai set film.
Pilihan tersebut kemudian membawa tim kepada Pestapora. Dipa menjelaskan, membuat festival sendiri dengan skala yang menyerupai Pestapora membutuhkan biaya yang sangat besar.
“Kalau kami harus membuat festival sendiri yang menyerupai Pestapora, biayanya pasti sangat besar. Akhirnya kami memutuskan bekerja sama dengan Boss Creator,” ujarnya.
Kerja sama dengan Boss Creator menjadi bagian penting dari perjalanan proyek tersebut. Tim tidak hanya mendapatkan latar festival, tetapi juga harus menyesuaikan proses produksi dengan penyelenggaraan acara yang benar-benar berlangsung.
Rencana awalnya, proses syuting dilakukan di Pestapora 2024. Namun, setelah melihat kompleksitas produksi, tim memutuskan menundanya hingga 2025 agar persiapannya lebih matang.
Ernest Prakasa menyebut keputusan tersebut justru menjadi salah satu langkah penting dalam proses produksi. Ia mengatakan tim sempat menyadari bahwa pengambilan gambar di festival nyata tidak semudah yang dibayangkan.
Ernest menyampaikan, keputusan itu diambil setelah tim menyadari besarnya tantangan yang akan dihadapi. Mereka kemudian memilih menggunakan waktu tambahan untuk mempersiapkan produksi secara lebih matang sebelum benar-benar masuk ke Pestapora 2025.
Dipa bahkan mengatakan persiapan khusus untuk syuting di Pestapora telah dilakukan sejak 2024. “Kita dateng ke Pestapora 2024 kita lihat stage mana yang perkiraan akan kita syuting untuk dilakukan pada saat 2025,” katanya.
Persiapan tersebut penting karena tim hanya memiliki waktu terbatas untuk mengambil gambar ketika Pestapora 2025 berlangsung. Kondisi itu membuat produksi harus dirancang sedetail mungkin sebelum kamera benar-benar mulai merekam.
Dengan demikian, perjalanan Operasi Pesta Copet bukan hanya tentang membawa kamera ke sebuah festival musik. Film ini membutuhkan proses panjang untuk memastikan gagasan yang berawal dari keresahan terhadap pencopetan dapat diwujudkan.
Dari sebuah ide sederhana tentang copet di konser, tim kemudian menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Mereka harus menemukan cara untuk menjadikan keramaian Pestapora bukan sekadar latar, tetapi bagian penting dari dunia film.
|
Selanjutnya,
Ketika Pestapora Menjadi Lokasi Syuting
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....