Tragedi Maling Ayam Bali, Amuk Massa dan Air Mata yang Tertinggal

  • 28 Jul 2026 11:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • KD tewas setelah diduga menjadi korban pengeroyokan massa usai kepergok hendak mencuri ayam aduan di Desa Batunya, Tabanan, sementara anak bungsunya menangis histeris saat jenazah tiba di rumah duka.
  • Polisi menyatakan amuk massa dipicu maraknya kasus kehilangan ayam di wilayah tersebut, lalu mengevakuasi jenazah KD setelah melakukan olah tempat kejadian perkara.
  • KD meninggalkan seorang istri dan tiga anak, dengan dua di antaranya masih bersekolah, sehingga kisah keluarga yang ditinggalkan menjadi sorotan publik.

Duka yang menyelimuti keluarga korban pengeroyokan di Kabupaten Tabanan mengundang simpati luas dari berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Bantuan berupa uang, sembako, hingga kebutuhan pendidikan anak terus mengalir sejak peristiwa tersebut menjadi perhatian publik nasional.

Perhatian masyarakat semakin besar setelah beredar video yang memperlihatkan anak korban menangis saat menyambut jenazah ayahnya di rumah. Momen tersebut mendorong banyak warga, relawan, hingga tokoh nasional memberikan bantuan bagi keluarga yang ditinggalkan korban tersebut.

Pegiat Media Sosial, Ary Ulangun bersama sejumlah relawan menginisiasi penggalangan donasi untuk membantu keberlangsungan pendidikan anak-anak korban. Pengumpulan bantuan dilakukan selama dua hari dan mendapat respons besar dari masyarakat yang menunjukkan kepedulian terhadap keluarga korban.

Selain bantuan uang tunai, warga juga menyerahkan sembako, perlengkapan rumah tangga, hingga satu unit sepeda motor Honda Scoopy. Hingga akhir penggalangan, total donasi yang berhasil dihimpun mencapai sekitar Rp190 juta untuk kepentingan pendidikan kedua anak korban.

"Totalnya ada sekitar Rp190 jutaan. Rencana akan kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk pendidikan anaknya," ujarnya.

Ia menjelaskan seluruh dana bantuan akan ditempatkan dalam bentuk deposito agar penggunaannya tetap berada dalam pengawasan bersama para donatur. Langkah tersebut dilakukan supaya dana benar-benar dimanfaatkan untuk kebutuhan pendidikan kedua anak korban hingga jenjang yang lebih tinggi.

Ia berharap bantuan tersebut dapat menjadi jaminan keberlangsungan pendidikan anak-anak korban meski telah kehilangan sosok pencari nafkah keluarga. Sementara itu, keluarga menyatakan tetap mendukung penuh proses hukum yang sedang berjalan terhadap para pelaku pengeroyokan tersebut.

"Kita serahkan penuh dalam bentuk deposito, jadi tetap ada pengawasan ketika dananya digunakan. Harapan para donatur, dana ini benar-benar bisa mengamankan masa depan anak-anaknya," katanya.

Gelombang kepedulian juga datang dari Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni yang menyalurkan bantuan kepada keluarga korban. Bantuan tersebut berupa lima puluh kilogram beras, tiga puluh dus mi instan, dua ratus liter minyak goreng, serta dua puluh lima kilogram telur.

Sahroni menyampaikan belasungkawa kepada keluarga sekaligus menegaskan tindakan main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan dalam negara hukum Indonesia. Ia berharap bantuan tersebut mampu meringankan beban keluarga sembari menunggu proses hukum terhadap para pelaku berjalan hingga tuntas.

"Saya turut berbelasungkawa atas apa yang terjadi kepada korban dan keluarganya. Main hakim sendiri jelas merupakan tindakan yang salah dan para pelaku harus diusut," ujarnya.

Ia berharap bantuan yang diberikan dapat meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Setidaknya, bantuan tersebut diharapkan membawa secercah harapan baru bagi anak-anak korban untuk melanjutkan kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....