Hari Pertama Sekolah Rakyat, Langkah Awal Anak Menggapai Masa Depan
- 20 Jul 2026 17:08 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- MPLS Sekolah Rakyat menjadi tahap awal adaptasi siswa keluarga prasejahtera sebelum memasuki pembelajaran reguler
- Pemerintah menerapkan empat gelombang MPLS untuk memastikan seluruh fasilitas pendidikan dan asrama siap digunakan
- MPLS menekankan pembentukan karakter, kemandirian, kedisiplinan, serta perlindungan anak melalui lingkungan belajar yang aman
- Pemerintah menargetkan Sekolah Rakyat menjadi sarana memutus rantai kemiskinan melalui akses pendidikan yang setara hingga jenjang perguruan tinggi atau dunia kerja
Membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera tidak cukup hanya menerima mereka sebagai peserta didik. Negara juga harus memastikan setiap anak belajar di lingkungan aman, nyaman, dengan fasilitas yang mendukung tumbuh kembang optimal.
Atas dasar itu, pembangunan Sekolah Rakyat dilakukan secara bertahap di berbagai daerah Indonesia. Pemerintah juga menghadirkan kawasan pendidikan terpadu dengan ruang kelas, asrama, laboratorium, sarana olahraga, serta rumah ibadah lengkap modern.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan pembangunan SR merupakan bagian dari komitmen pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Menurutnya, infrastruktur pendidikan menjadi fondasi penting dalam menghadirkan pemerataan kesempatan belajar bagi seluruh anak bangsa.
"Pembangunan Sekolah Rakyat ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah untuk membangun sumber daya manusia yang unggul. Kementerian PU ingin memastikan fasilitas pendidikan ini dibangun secara cepat dan berkualitas," ujar Menteri Dody.
Komitmen tersebut mulai diwujudkan di SRT 2 Kota Medan yang berdiri di atas lahan seluas 6,01 hektare. Sekolah itu kini siap melayani 270 peserta didik baru dari jenjang SD, SMP, hingga SMA setelah seluruh bangunan utama dinyatakan siap digunakan.
Kesiapan itu tidak hanya diukur dari rampungnya pembangunan fisik. Para guru juga telah menyusun berbagai modul pembelajaran dan media interaktif agar siswa dapat segera mengikuti proses matrikulasi setelah MPLS selesai dilaksanakan.
"Di SR permanen ini kesiapan bangunan sudah baik. Setelah MPLS, para guru telah menyiapkan modul dan media interaktif yang dapat meningkatkan kemampuan anak mengikuti pembelajaran matrikulasi nantinya," kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Kota Medan Lastiar Pasaribu.
Sementara itu, Direktur Utama PT Nindya Karya Firmansyah menilai dimulainya MPLS menjadi penanda bahwa hasil pembangunan mulai memberi manfaat nyata. Baginya, keberhasilan proyek tidak berhenti pada selesainya konstruksi, melainkan ketika fasilitas tersebut digunakan untuk membentuk generasi masa depan Indonesia.
"Dimulainya kegiatan MPLS menjadi bukti bahwa hasil pembangunan yang dikerjakan Nindya Karya sudah dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Keberhasilan proyek ini bukan hanya diukur dari rampungnya konstruksi, tetapi dari manfaat yang terus dirasakan oleh generasi penerus bangsa," ujar Firmansyah.
Di berbagai daerah, pembangunan memang terus disempurnakan meski kegiatan belajar telah dimulai. Pemerintah memilih melakukan penyelesaian secara bertahap tanpa mengganggu aktivitas siswa yang telah memasuki kehidupan berasrama.
Saat meninjau Sekolah Rakyat Provinsi Bali, Menteri Dody memastikan sebagian besar fasilitas utama telah siap digunakan. Namun, ia tetap meminta penyempurnaan beberapa fasilitas pendukung agar kenyamanan peserta didik semakin terjamin selama tinggal di lingkungan sekolah.
"Saat ini ada 82 Sekolah Rakyat yang sudah beroperasi. Yang masih perlu dibenahi adalah beberapa fasilitas pendukung, seperti genangan di area kamar mandi dan penambahan tempat sampah," kata Dody.
Perhatian serupa juga diberikan saat meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kupang. Selain memastikan penyelesaian akses jalan menuju kawasan sekolah, Menteri Dody meminta seluruh pekerjaan segera dituntaskan tanpa mengurangi kualitas pembangunan.
"Kami harus memastikan sarana dan prasarana benar-benar siap untuk mendukung adik-adik belajar. Yang belum selesai segera diselesaikan, terutama akses menuju sekolah, sehingga seluruh kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik," ujarnya.
Pembangunan fisik yang hampir rampung menjadi modal penting bagi penyelenggaraan pendidikan. Namun, bangunan yang megah saja belum cukup untuk menjawab tantangan yang dihadapi ribuan peserta didik baru.
Sebagian besar anak harus belajar hidup jauh dari keluarga untuk pertama kalinya. Mereka memasuki dunia baru yang menuntut kemandirian, kedisiplinan, sekaligus kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali berbeda dari rumah.
|
Selanjutnya,
Belajar Hidup Mandiri Sejak Hari Pertama
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....