Hari Pertama Sekolah Rakyat, Langkah Awal Anak Menggapai Masa Depan
- 20 Jul 2026 17:08 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- MPLS Sekolah Rakyat menjadi tahap awal adaptasi siswa keluarga prasejahtera sebelum memasuki pembelajaran reguler
- Pemerintah menerapkan empat gelombang MPLS untuk memastikan seluruh fasilitas pendidikan dan asrama siap digunakan
- MPLS menekankan pembentukan karakter, kemandirian, kedisiplinan, serta perlindungan anak melalui lingkungan belajar yang aman
- Pemerintah menargetkan Sekolah Rakyat menjadi sarana memutus rantai kemiskinan melalui akses pendidikan yang setara hingga jenjang perguruan tinggi atau dunia kerja
MPLS Menjadi Gerbang Perubahan bagi Anak-anak Sekolah Rakyat
BAGI sebagian anak Indonesia, hari pertama sekolah identik dengan seragam baru, tas baru, dan pelukan hangat orang tua. Namun, ribuan anak keluarga prasejahtera justru memaknai hari pertama Sekolah Rakyat (SR) sebagai awal perubahan kehidupan mereka.
Mereka datang membawa mimpi yang lama terkubur akibat himpitan ekonomi keluarga dan berbagai keterbatasan hidup. Sebagian berasal dari keluarga buruh, petani, pekerja serabutan, serta anak-anak yang hidup dalam kondisi rentan.
Langkah mereka memasuki gerbang Sekolah Rakyat bukan sekadar perjalanan menuju ruang belajar yang baru setiap hari. Hari itu menjadi awal kehidupan mandiri bersama teman-teman baru dalam lingkungan pendidikan berasrama yang mendukung perkembangan mereka.
Di sisi lain, orang tua juga memulai perjuangan baru dengan perasaan bangga, cemas, sekaligus penuh harapan. Mereka mempercayakan pendidikan anak kepada negara melalui program berasrama untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Kepercayaan tersebut tumbuh karena pemerintah memenuhi kebutuhan dasar peserta didik selama menempuh pendidikan berasrama secara menyeluruh. Fasilitas belajar, tempat tinggal, makanan, perlengkapan sekolah, hingga pembinaan karakter disiapkan tanpa membebani kondisi ekonomi keluarga.
Karena itulah, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi tahapan penting sebelum siswa memasuki pembelajaran reguler secara bertahap. Selama masa tersebut, siswa dikenalkan dengan lingkungan sekolah sekaligus membangun kebiasaan hidup mandiri sejak awal.
Pemerintah menyadari proses adaptasi tersebut tidak dapat berlangsung tergesa-gesa tanpa persiapan yang benar-benar matang sebelumnya. Kesiapan fasilitas, tenaga pendidik, serta sistem pendampingan menjadi kunci keberhasilan pendidikan berasrama bagi seluruh peserta didik.
Dari sinilah perjalanan panjang Sekolah Rakyat mulai menumbuhkan harapan baru bagi ribuan anak Indonesia setiap tahunnya. Program tersebut bukan sekadar membangun sekolah, melainkan membuka masa depan lebih baik melalui kesempatan pendidikan yang setara.
Sekolah Rakyat Dibangun sebagai Wujud Kehadiran Negara
Pelaksanaan MPLS Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027 tidak dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia. Pemerintah memilih menerapkan empat gelombang pelaksanaan untuk memastikan seluruh sarana pendidikan dan asrama siap sebelum menerima siswa baru.
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menegaskan keputusan tersebut bukan menunjukkan ketidaksiapan pemerintah. Sebaliknya, langkah itu menjadi bentuk tanggung jawab agar seluruh fasilitas pendidikan dan asrama telah memenuhi standar keamanan sebelum ditempati siswa.
"Kami tidak ingin anak-anak datang ke tempat yang sarananya belum benar-benar siap. Setiap titik harus aman dan nyaman sebelum kami menyambut mereka," kata Gus Ipul di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Senin 13 Juli 2026.
Sebanyak 101 Sekolah Rakyat akan melaksanakan MPLS dalam empat gelombang. Gelombang pertama diikuti 19 Sekolah Rakyat permanen pada 14 Juli 2026.
Gelombang kedua diikuti 63 Sekolah Rakyat permanen pada 31 Juli 2026. Delapan Sekolah Rakyat rintisan di Jabodetabek memulai MPLS pada 15 Agustus 2026.
Sementara itu, 11 Sekolah Rakyat permanen lainnya memulai MPLS pada gelombang keempat, yakni 31 Agustus 2026. Seluruh gelombang menggunakan kurikulum dan tahapan MPLS yang sama.
Gus Ipul menjelaskan MPLS menjadi bagian dari program persiapan sebelum siswa memasuki pembelajaran reguler. Program tersebut berlangsung sekitar tiga bulan dan dilanjutkan dengan matrikulasi serta kehidupan berasrama.
"MPLS merupakan bagian dari program persiapan yang berlangsung kurang lebih tiga bulan. Setelah MPLS dilanjutkan dengan matrikulasi, kemudian siswa memasuki program pembelajaran reguler dan program keasramaan."
Program persiapan terdiri atas 19 hari MPLS dan sekitar dua setengah bulan matrikulasi. Selama masa itu, siswa dikenalkan dengan lingkungan sekolah, kurikulum, potensi diri, dan kehidupan di asrama.
Materi MPLS mencakup 36 pembelajaran yang dikelompokkan dalam tujuh tema. Tema tersebut meliputi pengenalan sekolah, pembentukan karakter, literasi, numerasi, kesehatan, perlindungan anak, literasi digital, kedisiplinan, serta pencegahan perundungan, penyalahgunaan narkoba, dan judi daring.
Seluruh siswa juga akan mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis, asesmen psikologis, dan pemetaan potensi diri. Mereka turut mendapat pendampingan untuk membangun kebiasaan hidup mandiri di lingkungan asrama.
Pada lima hari pertama, Taruna TNI dan Polri akan mendampingi siswa membangun disiplin dan kemandirian. Pendampingan dilakukan dalam aktivitas sehari-hari tanpa mengesampingkan prinsip perlindungan anak.
Gus Ipul menegaskan seluruh rangkaian MPLS dilaksanakan dengan pendekatan ramah anak. Kemensos menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap segala bentuk kekerasan di lingkungan Sekolah Rakyat.
"Tidak ada kekerasan seksual, kekerasan fisik, perundungan maupun intoleransi. Jika terjadi kekerasan, pelakunya langsung diberhentikan. Tidak ada surat peringatan pertama ataupun kedua," ucapnya.
Komitmen menciptakan lingkungan belajar yang aman juga kembali ditekankan menjelang dimulainya MPLS. Mensos juga meminta setiap tenaga pendidik memastikan siswa merasa terlindungi sejak hari pertama berada di lingkungan sekolah.
"Pastikan mereka aman dan nyaman, tidak ada perpeloncoan, tidak ada tindakan kekerasan, tidak ada hal-hal yang menciderai MPLS," kata Gus Ipul saat koordinasi dengan seluruh Kepala Sekolah Rakyat.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena peserta didik Sekolah Rakyat memiliki karakteristik yang berbeda dibanding sekolah pada umumnya. Mereka berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang dijangkau langsung pemerintah melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), bukan melalui mekanisme pendaftaran terbuka.
Hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 28.478 siswa baru telah ditetapkan sebagai peserta didik Sekolah Rakyat. Jika digabungkan dengan siswa angkatan sebelumnya, jumlah peserta didik telah mencapai 43.346 orang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
"Sekolah Rakyat tidak ada pendaftaran, yang ada adalah penjangkauan. Penjangkauan dilakukan oleh para pendamping sosial di daerah bekerja sama dengan pemerintah daerah dan BPS," ucapnya.
Keberhasilan menjangkau puluhan ribu anak dari keluarga prasejahtera menjadi langkah awal pemerintah memperluas akses pendidikan. Namun, kesempatan belajar tersebut baru akan bermakna apabila didukung lingkungan yang layak serta fasilitas memadai bagi peserta didik.
Belajar Hidup Mandiri Sejak Hari Pertama
Membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera tidak cukup hanya menerima mereka sebagai peserta didik. Negara juga harus memastikan setiap anak belajar di lingkungan aman, nyaman, dengan fasilitas yang mendukung tumbuh kembang optimal.
Atas dasar itu, pembangunan Sekolah Rakyat dilakukan secara bertahap di berbagai daerah Indonesia. Pemerintah juga menghadirkan kawasan pendidikan terpadu dengan ruang kelas, asrama, laboratorium, sarana olahraga, serta rumah ibadah lengkap modern.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan pembangunan SR merupakan bagian dari komitmen pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Menurutnya, infrastruktur pendidikan menjadi fondasi penting dalam menghadirkan pemerataan kesempatan belajar bagi seluruh anak bangsa.
"Pembangunan Sekolah Rakyat ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah untuk membangun sumber daya manusia yang unggul. Kementerian PU ingin memastikan fasilitas pendidikan ini dibangun secara cepat dan berkualitas," ujar Menteri Dody.
Komitmen tersebut mulai diwujudkan di SRT 2 Kota Medan yang berdiri di atas lahan seluas 6,01 hektare. Sekolah itu kini siap melayani 270 peserta didik baru dari jenjang SD, SMP, hingga SMA setelah seluruh bangunan utama dinyatakan siap digunakan.
Kesiapan itu tidak hanya diukur dari rampungnya pembangunan fisik. Para guru juga telah menyusun berbagai modul pembelajaran dan media interaktif agar siswa dapat segera mengikuti proses matrikulasi setelah MPLS selesai dilaksanakan.
"Di SR permanen ini kesiapan bangunan sudah baik. Setelah MPLS, para guru telah menyiapkan modul dan media interaktif yang dapat meningkatkan kemampuan anak mengikuti pembelajaran matrikulasi nantinya," kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Kota Medan Lastiar Pasaribu.
Sementara itu, Direktur Utama PT Nindya Karya Firmansyah menilai dimulainya MPLS menjadi penanda bahwa hasil pembangunan mulai memberi manfaat nyata. Baginya, keberhasilan proyek tidak berhenti pada selesainya konstruksi, melainkan ketika fasilitas tersebut digunakan untuk membentuk generasi masa depan Indonesia.
"Dimulainya kegiatan MPLS menjadi bukti bahwa hasil pembangunan yang dikerjakan Nindya Karya sudah dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Keberhasilan proyek ini bukan hanya diukur dari rampungnya konstruksi, tetapi dari manfaat yang terus dirasakan oleh generasi penerus bangsa," ujar Firmansyah.
Di berbagai daerah, pembangunan memang terus disempurnakan meski kegiatan belajar telah dimulai. Pemerintah memilih melakukan penyelesaian secara bertahap tanpa mengganggu aktivitas siswa yang telah memasuki kehidupan berasrama.
Saat meninjau Sekolah Rakyat Provinsi Bali, Menteri Dody memastikan sebagian besar fasilitas utama telah siap digunakan. Namun, ia tetap meminta penyempurnaan beberapa fasilitas pendukung agar kenyamanan peserta didik semakin terjamin selama tinggal di lingkungan sekolah.
"Saat ini ada 82 Sekolah Rakyat yang sudah beroperasi. Yang masih perlu dibenahi adalah beberapa fasilitas pendukung, seperti genangan di area kamar mandi dan penambahan tempat sampah," kata Dody.
Perhatian serupa juga diberikan saat meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kupang. Selain memastikan penyelesaian akses jalan menuju kawasan sekolah, Menteri Dody meminta seluruh pekerjaan segera dituntaskan tanpa mengurangi kualitas pembangunan.
"Kami harus memastikan sarana dan prasarana benar-benar siap untuk mendukung adik-adik belajar. Yang belum selesai segera diselesaikan, terutama akses menuju sekolah, sehingga seluruh kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik," ujarnya.
Pembangunan fisik yang hampir rampung menjadi modal penting bagi penyelenggaraan pendidikan. Namun, bangunan yang megah saja belum cukup untuk menjawab tantangan yang dihadapi ribuan peserta didik baru.
Sebagian besar anak harus belajar hidup jauh dari keluarga untuk pertama kalinya. Mereka memasuki dunia baru yang menuntut kemandirian, kedisiplinan, sekaligus kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali berbeda dari rumah.
Haru Orang Tua Melepas Anak Menggapai Mimpi
Tantangan terbesar siswa Sekolah Rakyat ternyata tidak hanya dimulai ketika mengikuti proses pembelajaran di ruang kelas. Tantangan tersebut justru muncul saat mereka meninggalkan keluarga dan menjalani kehidupan berasrama untuk pertama kalinya.
Pengalaman penyelenggaraan Sekolah Rakyat pada tahun sebelumnya menunjukkan proses adaptasi tidak selalu berjalan dengan mudah. Sebagian siswa merasa rindu keluarga, kurang betah tinggal di asrama, bahkan ingin segera kembali pulang.
Pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi pemerintah dalam menyambut peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027. MPLS kemudian dirancang sebagai tahap penting membangun rasa aman sebelum pembelajaran dimulai.
"Belajar dari tahun yang lalu banyak sekali tantangannya, ada yang tidak betah, rindu orang tua, hadapi itu semua dengan baik. Mereka akan jadi anak-anak yang bisa mengikuti pembelajaran dengan baik," kata Mensos.
Menurut Gus Ipul, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya ditentukan kualitas pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik. Seluruh guru dan tenaga kependidikan juga harus mampu mendampingi siswa melewati masa adaptasi dengan penuh empati.
Pendampingan tersebut diharapkan mampu membantu siswa merasa nyaman menjalani kehidupan baru bersama teman-teman sebayanya. "Bapak-ibu sekalian kuatkan mereka, dampingi dengan penuh empati, saya berharap, kita berhasil menciptakan kondisi mereka betah di Sekolah Rakyat," ujar Gus Ipul.
Pendekatan tersebut mulai diterapkan sejak hari pertama pelaksanaan MPLS di berbagai Sekolah Rakyat seluruh Indonesia. Seluruh aktivitas siswa disusun secara terarah agar proses penyesuaian berlangsung bertahap dan tetap mendapatkan pendampingan.
Salah satu penerapannya di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kediri melalui jadwal kegiatan yang terstruktur. Di sana, seluruh siswa mengikuti berbagai aktivitas harian bersama guru serta tenaga kependidikan sejak pagi hingga malam.
Kepala Sekolah SRT 1 Kabupaten Kediri, Fadeli, mengatakan seluruh kegiatan disusun untuk mendukung proses adaptasi siswa. "Prinsip kami sederhana, tidak ada satu menit pun anak tanpa kegiatan dan tidak ada satu kegiatan pun tanpa pendampingan," ucapnya.
Ini menunjukkan, pendampingan tidak berhenti ketika kegiatan belajar mengajar selesai berlangsung setiap harinya di lingkungan sekolah berasrama. Guru juga menjalankan peran sebagai pengasuh yang mendampingi siswa menghadapi berbagai tantangan selama proses penyesuaian.
Perhatian terhadap perkembangan perilaku siswa menjadi bagian penting selama masa pengenalan lingkungan sekolah berlangsung. Pendekatan dilakukan sejak awal agar seluruh peserta didik mampu berbaur dan berkembang bersama teman-temannya.
Upaya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman juga dilakukan sebelum seluruh siswa memasuki kawasan asrama sekolah. Pemerintah memastikan fasilitas pembelajaran dan tempat tinggal siap digunakan sebelum kegiatan MPLS dimulai.
Materi MPLS juga tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah kepada seluruh peserta didik baru setiap tahunnya. Siswa juga dibiasakan menjalani rutinitas kehidupan berasrama dengan dukungan berbagai pihak sejak hari pertama.
Selain itu, koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting untuk memastikan pelaksanaan MPLS berlangsung sesuai harapan seluruh pihak terkait. Fasilitas yang tersedia juga diharapkan membantu siswa belajar dengan tenang dan membangun masa depan lebih baik.
Pada akhirnya, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya diukur melalui bangunan maupun kelengkapan fasilitas yang tersedia. Keberhasilan sesungguhnya terlihat ketika anak-anak mampu beradaptasi, tumbuh mandiri, dan kembali percaya meraih cita-citanya.
Namun, proses tersebut tidak hanya mengubah kehidupan para siswa, tetapi juga menumbuhkan harapan baru bagi setiap orang tua. Rasa khawatir melepas anak ke asrama perlahan berubah menjadi keyakinan bahwa pendidikan mampu membuka masa depan lebih baik.
Ketika Mimpi Anak-anak Mulai Tumbuh Kembali
Bagi banyak orang tua, diterimanya anak di Sekolah Rakyat menjadi kabar yang disambut dengan rasa syukur mendalam. Kesempatan memperoleh pendidikan berasrama tanpa terbebani biaya menghadirkan harapan baru bagi masa depan keluarga.
Namun, rasa syukur tersebut berjalan beriringan dengan kecemasan saat melepas anak tinggal jauh dari rumah. Bagi sebagian keluarga, kehidupan berasrama menjadi pengalaman pertama yang harus dijalani putra maupun putri mereka.
Perasaan itu dirasakan Walkadri Basri, orang tua siswa di Sekolah Rakyat Sudiang, Makassar. Ia mengaku tidak mudah melepas anak menjalani pendidikan berasrama meskipun memahami manfaat program tersebut.
"Meski harus tinggal di asrama, ini justru akan membentuk karakter anak menjadi lebih mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab. Kesempatan memperoleh pendidikan dengan fasilitas lengkap merupakan peluang yang tidak mudah didapatkan dan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya" ucapnya.
Keyakinan tersebut tumbuh karena pemerintah menyediakan pendidikan berasrama dengan berbagai fasilitas penunjang pembelajaran bagi peserta didik. Orang tua berharap kesempatan itu membantu anak mengembangkan kemampuan tanpa dibatasi kondisi ekonomi keluarga.
Harapan serupa juga menyertai keberangkatan Haikal Abdul Majid menuju lingkungan belajar yang benar-benar baru. Kesempatan mengikuti Sekolah Rakyat menjadi awal perjalanan untuk mewujudkan cita-citanya melalui pendidikan yang lebih baik.
Setelah kedua orang tuanya berpisah, Haikal tumbuh bersama bibi yang merawatnya hingga sekarang. Dukungan keluarga menjadi bekal penting ketika dirinya memulai kehidupan baru bersama teman-teman di asrama.
Bagi keluarga Haikal, keberangkatan menuju Sekolah Rakyat bukan sekadar perpindahan menuju tempat belajar yang berbeda. Momen tersebut menjadi awal harapan agar pendidikan mampu mengubah kehidupan keluarganya pada masa mendatang.
"Perkembangannya luar biasa, terutama kedisiplinan dan kepercayaan dirinya. Dulu dia jarang tampil di depan orang banyak, sekarang sudah berani tampil dan bahkan menjadi imam di sekolah," kata Bibi Haikal siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 18 Lombok Barat tersebut.
Berbagai kisah orang tua menunjukkan Sekolah Rakyat menghadirkan harapan sekaligus tanggung jawab besar bagi setiap keluarga. Mereka mempercayakan pendidikan anak kepada negara dengan keyakinan masa depan dapat berubah melalui pendidikan.
Hal itulah yang kemudian menjadi bukti bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar menyediakan ruang belajar. Tetapi juga menghadirkan kesempatan kedua bagi anak-anak yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
Pendidikan sebagai Jalan Memutus Rantai Kemiskinan
Setahun menjalani pendidikan, perubahan mulai terlihat pada wajah dan sikap para siswa Sekolah Rakyat. Kesempatan belajar perlahan mengembalikan kepercayaan diri mereka yang sempat memudar akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
Perubahan tersebut tidak selalu diukur melalui nilai akademik maupun prestasi yang berhasil diraih peserta didik. Keberanian menyampaikan pendapat dan membangun mimpi baru menjadi pencapaian penting selama mengikuti pendidikan berasrama.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menilai perubahan itu mencerminkan tujuan utama penyelenggaraan Sekolah Rakyat bagi keluarga prasejahtera. "Anak-anak yang selama ini mungkin mengubur mimpinya, sekarang mulai lebih percaya diri, lebih optimistis, dan berani meraih cita-citanya," ujar Gus Ipul saat menghadiri kegiatan Open House Sekolah Rakyat di Lombok Barat, Jumat 10 Juli 2026.
Perubahan tersebut tergambar pada Novatul Alratia, siswi SRMP 18 Lombok Barat, yang dahulu dikenal pendiam. Kini, Novatul berhasil menjadi juara pertama pencak silat tingkat nasional dan bercita-cita menjadi polisi wanita.
Transformasi Novatul tidak hanya dirasakan para guru selama proses pembelajaran berlangsung setiap harinya. Keluarganya juga menyaksikan perubahan sikap yang semakin disiplin, mandiri, dan penuh kepercayaan diri.
"Alhamdulillah perkembangan anak saya jauh lebih baik dari sebelumnya. Sekarang dia lebih disiplin, rajin membantu di rumah, dan lebih percaya diri," ujar ibunda Novatul.
Harapan baru juga tumbuh dalam diri M. Faturrahman yang bermimpi menjadi seorang pilot pada masa mendatang. Baginya, pendidikan bukan sekadar memperoleh pekerjaan, tetapi kesempatan membahagiakan ibunya melalui cita-cita yang ingin diwujudkan.
Selain itu, semangat yang sama terpancar dari Abi Alfian, putra seorang buruh pabrik kopi di Kota Semarang. Kesempatan bersekolah tanpa membebani kedua orang tuanya menjadi motivasi kuat untuk terus belajar meraih masa depan.
"Terima kasih, Pak Presiden. Berkat Bapak, saya bisa bersekolah di sini," ucap Abi.
Kisah mereka membuktikan pendidikan mampu menghidupkan kembali harapan yang sempat padam karena kemiskinan keluarga. Sekolah Rakyat menghadirkan kesempatan agar setiap anak kembali percaya terhadap mimpi dan masa depannya.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan Sekolah Rakyat menjadi wujud nyata kehadiran negara bagi masyarakat. Menurutnya, seluruh kebutuhan belajar dipenuhi agar anak-anak dapat tumbuh tanpa dibatasi kondisi ekonomi keluarganya.
"Mereka yang selama ini tidak pernah merasakan sekolah bisa disekolahkan di sini. Bahkan bukan cuma disekolahkan, tapi dimuliakan, diberi fasilitas yang megah, dikasih buku, seragam, makan, sampai tempat tidur di asrama," ujar Dody saat meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kota Semarang, di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Sabtu 18 Juli 2026.
Sementara itu, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto juga menitipkan harapan besar kepada seluruh siswa Sekolah Rakyat melalui pemerintah. Presiden Prabowo ingin seluruh siswa Sekolah Rakyat tidak boleh kalah dari anak-anak negara lain.
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengatakan pemerintah tidak berhenti ketika siswa menyelesaikan pendidikan menengah atas. Anak-anak didorong memiliki kepercayaan diri, kecerdasan, serta keterampilan untuk menghadapi masa depan yang semakin kompetitif.
"Pak Presiden ingin nanti setelah kalian lulus SMA, nanti yang mau kuliah akan kita antarkan untuk bisa kuliah. Yang mau bekerja akan kita antarkan untuk bisa bekerja baik di dalam maupun di luar negeri," kata Agus Jabo.
Harapan tersebut menunjukkan Sekolah Rakyat tidak sekadar menyediakan ruang belajar bagi anak-anak keluarga prasejahtera. Program ini juga menjadi jembatan menuju pendidikan tinggi maupun dunia kerja yang lebih baik.
Melalui pendidikan, negara berupaya memastikan kemiskinan tidak lagi menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Akses yang setara diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia unggul dari berbagai penjuru Indonesia.
Pada akhirnya, program ini tidak hanya menghadirkan gedung, ruang kelas, dan fasilitas pembelajaran yang memadai. Kehadirannya membuka peluang bagi setiap anak untuk berani bermimpi sekaligus mewujudkan cita-cita melalui pendidikan.
Ketika mimpi mulai tumbuh, keyakinan keluarga pun perlahan mengarah pada kehidupan yang lebih baik. Dari sanalah upaya membangun generasi Indonesia yang unggul dan berdaya saing mulai diwujudkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....