Kebakaran TPA Jatiwaringin, Respons Lamban Regulasi Pemerintah

  • 09 Jul 2026 03:17 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang berindikasi lambannya merespon regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah
  • Lantaran, penyebabnya bukan hanya karena faktor cuaca dimusim kemarau, melainkan lambatnya perapihan sistem tata kelolanya
  • Praktik open dumping (pembuangan sampah secara terbuka di TPA) dilarang secara hukum di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
  • Regulasi ini memberikan tenggat waktu masa transisi hingga 2013 atau sekitar lima tahun setelah Undang-undang itu diterbitkan

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik mengaku kebakaran TPA Jatiwaringin tersisa sekitar 30 persen dari total area yang sebelumnya terbakar mencapai 15 hektare. "Untuk hari kesembilan, tinggal kurang lebih sekitar 30 persen lagi dari 15 hektare yang terbakar" ujar Taufik.

Taufik menyatakan titik api yang tersisa di area kebakaran TPA Jatiwaringin saat ini terus menujukkan progres yang positif. Di mana, area yang sebelumnya terbakar sekitar 15 hektare dari total luasan tempat pembuangan sampah mencapai 33 hektare.

"Petugas hingga saat ini masih berupaya memadamkan sisa titik api. Sekaligus mengantisipasi kemunculan api baru di dalam timbunan sampah," ucapnya.

Taufik mengungkapkan kebakaran di TPA memiliki karakteristik berbeda dengan kebakaran lahan gambut. Pasalnya, timbunan sampah di TPA Jatiwaringin telah menggunung selama bertahun-tahun.

Kondisi itulah yang membuat kandungan gas metana muncul. Saat cuaca panas, gas tersebut dapat memicu munculnya api secara tiba-tiba dari dalam timbunan sampah.

Oleh sebab itu, dalam proses pemadamannya, para petugas harus mengurai gunungan sampah tersebut dengan alat berat agar lebih mudah memadamkannya. "Dibagian dalamnya itu mengandung gas metana," kata dia.

Berbeda dengan data laporan dari Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Brigjen TNI Djohan Darmawan. BNPB mencatat bila total area TPA Jatiwaringin yang terbakar 18,24 hektar.

Sedangkan pada hari ke-sembilan progres pemadama mencapai 60 persen. Walaupun pengendalian titik api mendapatkan kemajuan pada hari ke-sembilan, namun luas area yang terbakar bertambah menjadi 18,24 hektar.

"Ini kemarin saya laporkan 50 persen dan saat ini sudah hampir 60 peren lahan kebakaran kita kendalikan. Karena kita sudah menyasar ke arah barat TPA Jatiwaringin," ucapnya.

Djohan mengaku dari angka 60 persen pengendalian titik api kebakaran di TPA Jatiwaringin ini juga diiringi dengan tingkat kebersihan area terdampak yang mencapai 70 persen. Hasil pengendalian tersebut merupakan dari optimalisasi kerja keras seluruh unsur dari BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan (KLH), TNI/Polri dan pemerintah daerah.

Djohan mengungkapkan selama operasi kebencanaan kebakaran diarea tempat pembuangan sampah yang dinilai memiliki karakteristik dengan menyerupai lahan gambut ini turut menjadi kendala dalam pemadaman petugas gabungan. Kesulitan petugas dalam mencapai titik api dipenuhi material kompleks seperti plastik dan beling.

Sehingga pihaknya menerapkan strategi khusus dengan menyemprotkan air dari permukaan, melainkan berkolaborasi dengan alat berat. "Metode Penguraian yaitu alat berat seperti buldozer dan ekskavator dikerahkan untuk mengais dan membongkar tumpukan sampah yang masih mengeluarkan asap," ujarnya.

Selain itu, metode pendinginan dalam seperti pengangkatan material yang menyimpan panas (geothermal) dibagian dalam terangkat ke permukaan. Petugas darat langsung melakukan penyiraman dan pembasahan (coolingdown).

Kemudian, untuk mempercepat mobilitas, petugas damkar disektor utara, selatan, dan tengah disokong oleh puluhan mobil tangki air berkapasitas 4.000 hingga 5.000 liter. Mobil-mobil tangki ini terus keluar masuk menyuplai air secara langsung di titik pemadaman, sehingga armada mobil pemadam utama tidak perlu meninggalkan lokasi untuk melakukan pengisian ulang.

"Sebanyak 500 personel gabungan kini difokuskan untuk menggempur area sektor barat mengikuti arah embusan angin. Selain jalur darat, operasi udara juga terus dioptimalkan," kata dia.

ia juga menyatakan hingga saat ini terdapat empat helikopter water bombing yang disiagakan oleh BNPB untuk menjangkau titik-titik sulit. Meski beberapa heli sempat diistirahatkan secara bergantian demi mematuhi prosedur perawatan, operasi pengeboman air dipastikan tetap berjalan maksimal.

"Untuk pemadaman sampai tuntas! Sampai padam! Pokoknya intinya perintahnya itu sampai padam dan kita lakukan secepatnya. Jika status dua minggu itu berlalu dan belum tuntas, SK Daruratnya akan diperpanjang oleh pemerintah daerah," ucap dia.

Kapusdatin BNPB, Abdul Muhari menambahkan adapula penambahan personel dari Manggala Agni Kementerian Kehutanan. "Awalnya 30 personel bertambah delapan menjadi 38 personel," ujar Muhari.

Terkait operasi modifikasi cuaca (OMC), belum bisa dilakukan BNPB selama sepekan ke depan karena faktor cuaca. Namun, satu pesawat untuk melakukan OMC tetap disiagakan.

"Operasi modifikasi cuaca belum memungkinkan untuk dilakukan hingga tujuh hari ke depan, dikarenakan tidak adanya awan hujan yang memadai. Meskipun demikian BNPB tetap menyiagakan satu unit pesawat OMC yang siap untuk beroperasi jika awan hujan tersedia," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....