Gemerlap Piala Dunia 2026, Dibayangi Kontroversi yang Tak Usai
- 08 Jul 2026 07:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Piala Dunia 2026 tak hanya menghadirkan persaingan di lapangan, tetapi juga dibayangi berbagai kontroversi di luar pertandingan.
- Isu visa, harga tiket, cuaca ekstrem, hingga keputusan VAR menjadi polemik yang memengaruhi pengalaman pemain, ofisial, dan suporter.
- Sejumlah persoalan, termasuk dugaan intervensi politik dan tantangan geopolitik, menjadi catatan penting bagi FIFA dalam mengevaluasi penyelenggaraan mendatang.
Piala Dunia 2026 juga diwarnai polemik yang mempertemukan sepak bola dengan ranah politik. Sorotan muncul setelah FIFA membatalkan hukuman kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, menjelang laga melawan Belgia.
Balogun sebelumnya diusir keluar lapangan saat AS menghadapi Bosnia-Herzegovina. Kartu merah itu membuatnya terancam absen pada pertandingan berikutnya karena harus menjalani sanksi otomatis.
Namun, FIFA kemudian menerima banding dari Federasi Sepak Bola AS dan memutuskan membatalkan hukuman tersebut. Keputusan itu membuat Balogun tetap dapat memperkuat timnya saat menghadapi Belgia.
Polemik semakin berkembang setelah sejumlah media internasional melaporkan adanya pertemuan Presiden FIFA Gianni Infantino dengan Presiden AS, Donald Trump. Pertemuan itu dilaporkan terjadi beberapa jam sebelum keputusan diumumkan.
Laporan tersebut memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan adanya lobi politik di balik pembatalan hukuman Balogun. Dugaan itu muncul setelah Trump juga sempat berterima kasih pada FIFA lewat media sosialnya.
FIFA membantah keputusan tersebut dipengaruhi faktor di luar regulasi pertandingan. Mereka menegaskan Komite Disiplin mengambil keputusan berdasarkan hasil peninjauan rekaman pertandingan dan ketentuan yang berlaku.
"Badan peradilan FIFA bersifat independen. Mereka bekerja secara mandiri, menerapkan Kode Disiplin FIFA, dan memutuskan perkara berdasarkan peraturan serta fakta yang tersedia," kata Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Meski demikian, keputusan tersebut tetap menuai kritik dari sejumlah pengamat, pendukung bahkan pelatih tim lainnya. Mereka mempertanyakan transparansi proses pengambilan keputusan, mengingat waktu pembatalan hukuman berdekatan dengan pertemuan dua pemimpin tersebut.
Pelatih Belgia, Rudi Garcia menyatakan, Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) tengah mempelajari berbagai opsi untuk menggugat keputusan FIFA tersebut. Keputusan FIFA yang dinilai menguntungkan Timnas AS itu, disindirnya seperti momen lelucon 'April Mop'.
"Saya tidak tahu bahwa di Piala Dunia, tanggal 5 Juli sebenarnya adalah tanggal 1 April. Itu adalah Hari April Mop," kata Garcia.
Kasus Balogun kembali memunculkan pertanyaan lama mengenai batas antara olahraga dan politik. Di tengah besarnya pengaruh Piala Dunia sebagai ajang global, setiap keputusan penting FIFA kini tak lepas dari sorotan publik maupun media internasional.
|
Selanjutnya,
Jadwal Padat, Pemain Jadi Korban
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....