Gemerlap Piala Dunia 2026, Dibayangi Kontroversi yang Tak Usai
- 08 Jul 2026 07:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Piala Dunia 2026 tak hanya menghadirkan persaingan di lapangan, tetapi juga dibayangi berbagai kontroversi di luar pertandingan.
- Isu visa, harga tiket, cuaca ekstrem, hingga keputusan VAR menjadi polemik yang memengaruhi pengalaman pemain, ofisial, dan suporter.
- Sejumlah persoalan, termasuk dugaan intervensi politik dan tantangan geopolitik, menjadi catatan penting bagi FIFA dalam mengevaluasi penyelenggaraan mendatang.
Ketika Visa Menjadi Tiket Pertama Menuju Stadion Justru Sulit Didapat
PIALA Dunia 2026 kembali menyita perhatian dunia lewat pertandingan penuh drama dan kejutan dari berbagai negara. Turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu menghadirkan atmosfer meriah di setiap stadion.
Format baru dengan 48 peserta juga membuka peluang bagi lebih banyak negara merasakan panggung sepak bola terbesar dunia. Di sisi lain, perubahan tersebut menghadirkan tantangan baru dalam penyelenggaraan turnamen yang belum pernah ditemui pada edisi sebelumnya.
Sorotan publik pun tidak hanya tertuju pada aksi para pemain di lapangan hijau. Berbagai persoalan di luar pertandingan justru menjadi perbincangan yang tak kalah ramai sepanjang turnamen berlangsung.
Mulai dari sulitnya memperoleh visa, mahalnya harga tiket, hingga keputusan wasit berbantuan teknologi yang menuai protes. Cuaca ekstrem, dugaan intervensi politik, serta perlakuan terhadap sejumlah peserta turut memperpanjang daftar polemik Piala Dunia 2026.
Di balik kemegahan pesta sepak bola yang dinikmati miliaran pasang mata, tersimpan berbagai cerita yang memantik perdebatan. Sejumlah kontroversi itu menjadi pengingat bahwa penyelenggaraan Piala Dunia tak hanya ditentukan oleh kualitas pertandingan, tetapi juga tata kelola di luar lapangan.
Harga Tiket Melambung, Piala Dunia Kian Sulit Dijangkau
Sebelum pertandingan pertama dimulai, Piala Dunia 2026 lebih dulu diwarnai persoalan di luar lapangan. Kebijakan imigrasi Amerika Serikat (AS) membuat proses pengajuan visa bagi sebagian suporter, jurnalis, hingga ofisial tim menjadi sorotan.
Meski FIFA mengusung slogan Football Unites the World, tidak semua pendukung sepak bola memiliki kesempatan yang sama untuk hadir langsung di stadion. Sejumlah warga dari negara tertentu menghadapi proses pemeriksaan yang lebih ketat, bahkan ada yang gagal memperoleh izin masuk meski telah memiliki tiket pertandingan.
Laporan Associated Press menyebutkan, suporter dari Haiti, Ghana, Irak, hingga beberapa negara Afrika lainnya menjadi kelompok yang paling terdampak. Salah satu kisah datang dari Mustafa Al Saadi, suporter asal Irak, yang batal menyaksikan negaranya tampil di Piala Dunia.
“Sangat sedih rasanya melihat orang-orang bisa hadir melihat tim-tim nasional mereka berlaga. Sementara saya tidak bisa,” kata Al Saadi, dikutip AP News.
Selain kebijakan visa, pemerintah AS juga menerapkan program visa bond hingga 15.000 dolar AS. Visa ini diperuntukan bagi pemohon dari sejumlah negara yang dinilai memiliki tingkat overstay tinggi.
Kebijakan tersebut menuai kritik karena dianggap menambah beban finansial bagi suporter yang ingin menyaksikan Piala Dunia secara langsung. Banyak para suporter dari berbagai negara mengeluhkan permasalahan visa ini.
Persoalan serupa turut dialami Timnas Iran. Sebanyak 15 anggota federasi sepak bola Iran gagal memperoleh visa Amerika Serikat. Akibatnya banyak tim logistik yang tidak dapat hadir dalam laga Iran di Piala Dunia 2026.
Tim pun harus memindahkan pusat latihan dari Tucson, Arizona, ke Tijuana, Meksiko. Akibatnya, para pemain harus bolak-balik melintasi perbatasan setiap kali menjalani pertandingan di wilayah AS.
Pengawas Tim Nasional Iran, Mahdi Mohammad Nabi, bahkan mengkritik FIFA karena dinilai gagal mengoordinasikan persoalan tersebut dengan pemerintah AS. Ia menyebut kondisi itu sebagai situasi yang belum pernah dialami timnya pada edisi Piala Dunia sebelumnya.
"Kami berharap Bapak Infantino benar-benar akan melaksanakan kata-kata dan janjinya kepada timnas Iran. Peraturan dan protokol FIFA harus dipatuhi dengan benar oleh federasi anggota maupun tuan rumah,” kata Nabi, mengutip Reuters.
Di tengah berbagai kendala tersebut, FIFA menyatakan telah berkoordinasi dengan pemerintah AS, Kanada, dan Meksiko untuk mempermudah mobilitas peserta turnamen.
Namun, berbagai laporan mengenai visa yang tertunda hingga penolakan masuk menunjukkan bahwa akses menuju pesta sepak bola terbesar dunia masih menjadi tantangan bagi sebagian pemain, ofisial, media, dan suporter.
Panas Ekstrem Memaksa Sepak Bola Beradaptasi
Tak hanya persoalan visa, harga tiket juga menjadi polemik yang membayangi Piala Dunia 2026. Banyak suporter menilai biaya untuk menyaksikan pertandingan secara langsung jauh lebih mahal dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, FIFA menerapkan sistem dynamic pricing. Melalui mekanisme ini, harga tiket dapat berubah mengikuti tingkat permintaan pasar, sehingga pertandingan yang diminati memiliki harga yang jauh lebih mahal.
Kebijakan tersebut membuat harga tiket di platform penjualan resmi maupun resale melonjak tajam. Reuters melaporkan, tiket fase grup yang semula dibanderol hingga 575 dolar AS dapat menembus lebih dari 1.000 dolar AS.
Sementara harga tiket partai final dipatok antara 2.030 hingga 6.370 dolar AS. Harga ini jauh lebih tinggi dibandingkan final Piala Dunia 2022 di Qatar.
Lonjakan harga semakin menjadi sorotan ketika tiket laga babak 16 besar antara Meksiko dan Inggris dijual dengan nilai yang berkali-kali lipat dari harga normal. Kondisi itu memicu kritik dari Football Supporters' Association (FSA), menilai sistem tersebut justru membuat harga tiket tidak terkendali.
FSA juga mengkritik FIFA karena tetap memperoleh komisi sebesar 15 persen dari transaksi penjualan reseller, baik dari penjual maupun pembeli. Menurut mereka, kebijakan itu membuat badan sepak bola dunia ikut memperoleh keuntungan dari melonjaknya harga tiket di pasar biasa.
“FIFA sengaja merancang bursa daring yang memungkinkan tiket dijual dengan harga yang sangat tinggi. dengan FIFA mengambil 15%, baik dari pembeli maupun penjual," kata FSA kepada BBC, melansir dari Reuters.
Di sisi lain, FIFA mempertahankan kebijakan dynamic pricing sebagai strategi yang lazim diterapkan pada berbagai ajang olahraga dunia. Organisasi itu menilai mekanisme tersebut membantu menyesuaikan harga dengan tingginya permintaan pasar.
“"Pendekatan penetapan harga tiket yang bervariasi dari FIFA sejalan dengan tren industri di berbagai sektor olahraga dan hiburan. Di mana harga disesuaikan untuk mengoptimalkan penjualan dan jumlah penonton, serta memastikan nilai pasar yang wajar bagi acara tersebut," ujar FIFA.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, juga menilai harga tiket masih sebanding dengan pengalaman yang diperoleh penonton selama turnamen. Ia membandingkannya dengan harga tiket sejumlah liga olahraga profesional di Amerika Utara yang dinilai lebih tinggi.
“Kami ingin menghadirkan Piala Dunia bagi setiap penggemar sepak bola, dan itulah tujuan dari struktur harga ini. Begitu pula dengan konsep penetapan harga dynamic pricing,” kata Infantino, melansir Yahoo Sports.
Meski begitu, perdebatan mengenai harga tiket belum benar-benar mereda hingga babak gugur berlangsung. Banyak suporter berharap FIFA dapat mengevaluasi sistem penjualan agar Piala Dunia tetap mudah diakses semua kalangan.
VAR, Penyelamat atau Biang Kontroversi?
Cuaca menjadi tantangan tersendiri sepanjang Piala Dunia 2026. Suhu tinggi di sejumlah kota tuan rumah membuat FIFA menerapkan mandatory hydration break di setiap pertandingan sejak fase grup.
Berbeda dari edisi sebelumnya, jeda minum kali ini tidak hanya diterapkan pada pertandingan dengan suhu tertentu. FIFA mewajibkan jeda selama tiga menit pada sekitar menit ke-22 dan ke-67 di seluruh laga sebagai langkah antisipasi terhadap panas ekstrem.
FIFA menjelaskan kebijakan tersebut bertujuan melindungi kesehatan pemain dari risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga heat stroke. Presiden FIFA, Gianni Infantino, juga menegaskan keputusan itu murni didasarkan pada pertimbangan olahraga dan bukan untuk kepentingan komersial.
“Tidak ada pendapatan tambahan bagi FIFA, karena semua perjanjian komersial telah ditandatangani jauh sebelumnya. Jadi, ini bukan masalah keuangan bagi kami, ini murni masalah olahraga,” kata Infantino.
Namun, kebijakan tersebut justru memantik perdebatan sejak pekan pertama turnamen. Banyak pemain, pelatih, hingga suporter menilai jeda wajib itu mengganggu ritme pertandingan dan mengubah karakter sepak bola.
Kapten Belanda, Virgil van Dijk, menjadi salah satu pemain yang menyuarakan kritik tersebut. Menurutnya, jeda minum sebaiknya hanya diberlakukan pada pertandingan yang benar-benar berlangsung dalam cuaca panas saja.
“Jika cuaca sangat panas, tentu saja bagus untuk menerapkannya. Namun, menurut pendapat saya, situasinya harus dinilai secara terpisah untuk setiap pertandingan," ujar Van Dijk, dikutip ESPN.
Kontroversi semakin menguat ketika hydration break tetap diterapkan pada pertandingan yang digelar di stadion beratap tertutup atau berpendingin udara. Banyak pihak mempertanyakan urgensi kebijakan itu karena kondisi cuaca di dalam stadion dinilai tidak membahayakan pemain.
Di sisi lain, data cuaca menunjukkan kekhawatiran FIFA bukan tanpa alasan. Analisis menunjukkan sedikitnya sembilan pertandingan fase grup dimainkan dalam kondisi panas ekstrem.
Perdebatan mengenai hydration break akhirnya mencerminkan dilema baru dalam sepak bola modern. Di satu sisi keselamatan pemain menjadi prioritas, tetapi di sisi lain banyak kalangan berharap kebijakan tersebut diterapkan secara lebih fleksibel.
Ketika Politik Ikut Masuk ke Lapangan
Teknologi Video Assistant Referee (VAR) kembali menjadi sorotan sepanjang Piala Dunia 2026. Sistem yang dirancang membantu wasit mengambil keputusan justru kembali memantik perdebatan di berbagai pertandingan.
FIFA tetap mengandalkan VAR dan teknologi semi-automated offside untuk meningkatkan akurasi keputusan di lapangan. Organisasi tersebut menilai teknologi dapat meminimalkan kesalahan yang berpotensi memengaruhi hasil pertandingan.
Salah satu kontroversi terbesar terjadi saat Portugal menghadapi Kroasia di babak 16 besar. Gol pada menit akhir dianulir setelah teknologi bola mendeteksi sentuhan Igor Matanovic sebelum bola diteruskan kepada Josko Gvardiol yang berada dalam posisi offside.
“Berdasarkan data dari Connected Ball Technology di dalam bola Trionda, membuktikan pemain Kroasia bernomor punggung 20, Igor Matanovic, melakukan kontak. Hal ini memungkinkan wasit untuk menetapkan keputusan offside secara tepat dan menganulir gol tersebut,” kata pernyataan resmi FIFA.
Keputusan tersebut langsung memicu protes dari pemain dan suporter Kroasia. Banyak yang menilai sentuhan itu nyaris tidak terlihat, tetapi sensor pada bola mampu mendeteksinya sehingga VAR membatalkan gol tersebut.
Kontroversi lain muncul saat Jerman tersingkir dari Paraguay setelah gol mereka pada babak tambahan waktu dianulir VAR. FIFA kemudian menjelaskan keputusan tersebut telah sesuai dengan pedoman baru yang telah disosialisasikan kepada seluruh peserta sebelum turnamen dimulai.
Perdebatan mengenai VAR pun kembali memunculkan dua pandangan berbeda. Beberapa setuju dan beberapa lainnya melontarkan kritik tajam.
Sebagian pihak menilai teknologi membuat pertandingan lebih adil. Sementara yang lain beranggapan sepak bola kehilangan spontanitas karena keputusan ditentukan hingga sentuhan yang nyaris tak terlihat.
Di sisi lain, FIFA menegaskan penggunaan VAR dan teknologi terbaru merupakan bagian dari upaya meningkatkan akurasi keputusan wasit. Menurut FIFA perkembangan teknologi menjadi langkah penting untuk menjaga integritas pertandingan di level tertinggi.
“Sensor IMU yang terpasang di dalam bola Trionda mampu mendeteksi kontak sekecil apa pun. Memungkinkan wasit mendapatkan tingkat data yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk membuat keputusan yang cepat dan akurat."
Jadwal Padat, Pemain Jadi Korban
Piala Dunia 2026 juga diwarnai polemik yang mempertemukan sepak bola dengan ranah politik. Sorotan muncul setelah FIFA membatalkan hukuman kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, menjelang laga melawan Belgia.
Balogun sebelumnya diusir keluar lapangan saat AS menghadapi Bosnia-Herzegovina. Kartu merah itu membuatnya terancam absen pada pertandingan berikutnya karena harus menjalani sanksi otomatis.
Namun, FIFA kemudian menerima banding dari Federasi Sepak Bola AS dan memutuskan membatalkan hukuman tersebut. Keputusan itu membuat Balogun tetap dapat memperkuat timnya saat menghadapi Belgia.
Polemik semakin berkembang setelah sejumlah media internasional melaporkan adanya pertemuan Presiden FIFA Gianni Infantino dengan Presiden AS, Donald Trump. Pertemuan itu dilaporkan terjadi beberapa jam sebelum keputusan diumumkan.
Laporan tersebut memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan adanya lobi politik di balik pembatalan hukuman Balogun. Dugaan itu muncul setelah Trump juga sempat berterima kasih pada FIFA lewat media sosialnya.
FIFA membantah keputusan tersebut dipengaruhi faktor di luar regulasi pertandingan. Mereka menegaskan Komite Disiplin mengambil keputusan berdasarkan hasil peninjauan rekaman pertandingan dan ketentuan yang berlaku.
"Badan peradilan FIFA bersifat independen. Mereka bekerja secara mandiri, menerapkan Kode Disiplin FIFA, dan memutuskan perkara berdasarkan peraturan serta fakta yang tersedia," kata Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Meski demikian, keputusan tersebut tetap menuai kritik dari sejumlah pengamat, pendukung bahkan pelatih tim lainnya. Mereka mempertanyakan transparansi proses pengambilan keputusan, mengingat waktu pembatalan hukuman berdekatan dengan pertemuan dua pemimpin tersebut.
Pelatih Belgia, Rudi Garcia menyatakan, Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) tengah mempelajari berbagai opsi untuk menggugat keputusan FIFA tersebut. Keputusan FIFA yang dinilai menguntungkan Timnas AS itu, disindirnya seperti momen lelucon 'April Mop'.
"Saya tidak tahu bahwa di Piala Dunia, tanggal 5 Juli sebenarnya adalah tanggal 1 April. Itu adalah Hari April Mop," kata Garcia.
Kasus Balogun kembali memunculkan pertanyaan lama mengenai batas antara olahraga dan politik. Di tengah besarnya pengaruh Piala Dunia sebagai ajang global, setiap keputusan penting FIFA kini tak lepas dari sorotan publik maupun media internasional.
Piala Dunia 2026 menghadirkan sejarah baru dengan diikuti 48 negara dan total 104 pertandingan. Format tersebut memberi kesempatan lebih besar bagi banyak negara, tetapi juga menghadirkan tantangan baru bagi para pemain.
Turnamen yang berlangsung selama 39 hari itu mengharuskan tim berpindah antarkota bahkan antarnegara dalam waktu singkat. Jarak tempuh yang panjang membuat waktu pemulihan pemain menjadi lebih terbatas dibanding edisi sebelumnya.
Kondisi tersebut diperparah dengan cuaca panas di sejumlah kota tuan rumah. FIFA bahkan sempat mempertimbangkan penyesuaian jadwal pertandingan setelah gelombang panas melanda beberapa wilayah Amerika Serikat.
Sejumlah pelatih dan pemain menilai padatnya jadwal berpotensi meningkatkan risiko kelelahan dan cedera. Mereka juga harus beradaptasi dengan perbedaan zona waktu serta perjalanan lintas negara selama turnamen berlangsung.
Di sisi lain, FIFA menilai format baru menjadi langkah penting untuk memperluas partisipasi dan menjangkau banyak penggemar di seluruh dunia. Organisasi itu juga menyebut berbagai penyesuaian jadwal terus dievaluasi agar tidak mengganggu kualitas pertandingan.
Piala Dunia 2026 pada akhirnya tetap menghadirkan pertandingan-pertandingan yang menghibur dan penuh kejutan. Namun, berbagai polemik yang menyertainya menunjukkan bahwa tantangan penyelenggaraan turnamen modern tak lagi hanya ditentukan oleh kualitas permainan di lapangan.
Gemerlap kompetisi memang berhasil memikat perhatian miliaran pasang mata di seluruh dunia. Meski demikian, deretan kontroversi yang muncul menjadi catatan penting bagi FIFA untuk menghadirkan penyelenggaraan yang lebih inklusif, adil, dan berpihak kepada seluruh yang terlibat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....