Gemerlap Piala Dunia 2026, Dibayangi Kontroversi yang Tak Usai

  • 08 Jul 2026 07:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Piala Dunia 2026 tak hanya menghadirkan persaingan di lapangan, tetapi juga dibayangi berbagai kontroversi di luar pertandingan.
  • Isu visa, harga tiket, cuaca ekstrem, hingga keputusan VAR menjadi polemik yang memengaruhi pengalaman pemain, ofisial, dan suporter.
  • Sejumlah persoalan, termasuk dugaan intervensi politik dan tantangan geopolitik, menjadi catatan penting bagi FIFA dalam mengevaluasi penyelenggaraan mendatang.

Tak hanya persoalan visa, harga tiket juga menjadi polemik yang membayangi Piala Dunia 2026. Banyak suporter menilai biaya untuk menyaksikan pertandingan secara langsung jauh lebih mahal dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, FIFA menerapkan sistem dynamic pricing. Melalui mekanisme ini, harga tiket dapat berubah mengikuti tingkat permintaan pasar, sehingga pertandingan yang diminati memiliki harga yang jauh lebih mahal.

Kebijakan tersebut membuat harga tiket di platform penjualan resmi maupun resale melonjak tajam. Reuters melaporkan, tiket fase grup yang semula dibanderol hingga 575 dolar AS dapat menembus lebih dari 1.000 dolar AS.

Sementara harga tiket partai final dipatok antara 2.030 hingga 6.370 dolar AS. Harga ini jauh lebih tinggi dibandingkan final Piala Dunia 2022 di Qatar.

Lonjakan harga semakin menjadi sorotan ketika tiket laga babak 16 besar antara Meksiko dan Inggris dijual dengan nilai yang berkali-kali lipat dari harga normal. Kondisi itu memicu kritik dari Football Supporters' Association (FSA), menilai sistem tersebut justru membuat harga tiket tidak terkendali.

FSA juga mengkritik FIFA karena tetap memperoleh komisi sebesar 15 persen dari transaksi penjualan reseller, baik dari penjual maupun pembeli. Menurut mereka, kebijakan itu membuat badan sepak bola dunia ikut memperoleh keuntungan dari melonjaknya harga tiket di pasar biasa.

“FIFA sengaja merancang bursa daring yang memungkinkan tiket dijual dengan harga yang sangat tinggi. dengan FIFA mengambil 15%, baik dari pembeli maupun penjual," kata FSA kepada BBC, melansir dari Reuters.

Di sisi lain, FIFA mempertahankan kebijakan dynamic pricing sebagai strategi yang lazim diterapkan pada berbagai ajang olahraga dunia. Organisasi itu menilai mekanisme tersebut membantu menyesuaikan harga dengan tingginya permintaan pasar.

“"Pendekatan penetapan harga tiket yang bervariasi dari FIFA sejalan dengan tren industri di berbagai sektor olahraga dan hiburan. Di mana harga disesuaikan untuk mengoptimalkan penjualan dan jumlah penonton, serta memastikan nilai pasar yang wajar bagi acara tersebut," ujar FIFA.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, juga menilai harga tiket masih sebanding dengan pengalaman yang diperoleh penonton selama turnamen. Ia membandingkannya dengan harga tiket sejumlah liga olahraga profesional di Amerika Utara yang dinilai lebih tinggi.

“Kami ingin menghadirkan Piala Dunia bagi setiap penggemar sepak bola, dan itulah tujuan dari struktur harga ini. Begitu pula dengan konsep penetapan harga dynamic pricing,” kata Infantino, melansir Yahoo Sports.

Meski begitu, perdebatan mengenai harga tiket belum benar-benar mereda hingga babak gugur berlangsung. Banyak suporter berharap FIFA dapat mengevaluasi sistem penjualan agar Piala Dunia tetap mudah diakses semua kalangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....