Gemerlap Piala Dunia 2026, Dibayangi Kontroversi yang Tak Usai

  • 08 Jul 2026 07:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Piala Dunia 2026 tak hanya menghadirkan persaingan di lapangan, tetapi juga dibayangi berbagai kontroversi di luar pertandingan.
  • Isu visa, harga tiket, cuaca ekstrem, hingga keputusan VAR menjadi polemik yang memengaruhi pengalaman pemain, ofisial, dan suporter.
  • Sejumlah persoalan, termasuk dugaan intervensi politik dan tantangan geopolitik, menjadi catatan penting bagi FIFA dalam mengevaluasi penyelenggaraan mendatang.

Cuaca menjadi tantangan tersendiri sepanjang Piala Dunia 2026. Suhu tinggi di sejumlah kota tuan rumah membuat FIFA menerapkan mandatory hydration break di setiap pertandingan sejak fase grup.

Berbeda dari edisi sebelumnya, jeda minum kali ini tidak hanya diterapkan pada pertandingan dengan suhu tertentu. FIFA mewajibkan jeda selama tiga menit pada sekitar menit ke-22 dan ke-67 di seluruh laga sebagai langkah antisipasi terhadap panas ekstrem.

FIFA menjelaskan kebijakan tersebut bertujuan melindungi kesehatan pemain dari risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga heat stroke. Presiden FIFA, Gianni Infantino, juga menegaskan keputusan itu murni didasarkan pada pertimbangan olahraga dan bukan untuk kepentingan komersial.

“Tidak ada pendapatan tambahan bagi FIFA, karena semua perjanjian komersial telah ditandatangani jauh sebelumnya. Jadi, ini bukan masalah keuangan bagi kami, ini murni masalah olahraga,” kata Infantino.

Namun, kebijakan tersebut justru memantik perdebatan sejak pekan pertama turnamen. Banyak pemain, pelatih, hingga suporter menilai jeda wajib itu mengganggu ritme pertandingan dan mengubah karakter sepak bola.

Kapten Belanda, Virgil van Dijk, menjadi salah satu pemain yang menyuarakan kritik tersebut. Menurutnya, jeda minum sebaiknya hanya diberlakukan pada pertandingan yang benar-benar berlangsung dalam cuaca panas saja.

“Jika cuaca sangat panas, tentu saja bagus untuk menerapkannya. Namun, menurut pendapat saya, situasinya harus dinilai secara terpisah untuk setiap pertandingan," ujar Van Dijk, dikutip ESPN.

Kontroversi semakin menguat ketika hydration break tetap diterapkan pada pertandingan yang digelar di stadion beratap tertutup atau berpendingin udara. Banyak pihak mempertanyakan urgensi kebijakan itu karena kondisi cuaca di dalam stadion dinilai tidak membahayakan pemain.

Di sisi lain, data cuaca menunjukkan kekhawatiran FIFA bukan tanpa alasan. Analisis menunjukkan sedikitnya sembilan pertandingan fase grup dimainkan dalam kondisi panas ekstrem.

Perdebatan mengenai hydration break akhirnya mencerminkan dilema baru dalam sepak bola modern. Di satu sisi keselamatan pemain menjadi prioritas, tetapi di sisi lain banyak kalangan berharap kebijakan tersebut diterapkan secara lebih fleksibel.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....