Menyiapkan Talenta STEM, Jalan menuju Indonesia Emas 2045

  • 01 Jul 2026 06:54 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah memperkuat ekosistem talenta STEM melalui SMA Garuda, SMK Garuda, beasiswa LPDP, serta kolaborasi pendidikan dan industri untuk mendukung Indonesia Emas 2045.
  • Pengembangan talenta STEM membutuhkan strategi menyeluruh, mulai dari peningkatan anggaran pendidikan, perluasan partisipasi perempuan, hingga penguatan riset dan inovasi.
  • APBN menjadi instrumen utama pembangunan SDM unggul, dengan memperbesar alokasi beasiswa STEM dan mendukung industrialisasi berbasis teknologi.

Penguatan talenta STEM tidak hanya berkaitan dengan peningkatan jumlah lulusan, tetapi juga perlu memperluas partisipasi perempuan. Keterlibatan perempuan dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat inovasi dan daya saing Indonesia di tingkat global.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan kesenjangan gender di bidang STEM masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Menurutnya, kondisi tersebut bukan hanya persoalan kesetaraan, tetapi juga memengaruhi kemampuan bangsa menghasilkan inovasi.

"Kesenjangan gender di sektor STEM bukan sekadar isu keadilan, tetapi telah menjadi hambatan serius bagi daya saing dan inovasi bangsa," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin 29 Juni 2026.

Data menunjukkan lulusan perempuan di bidang STEM mencapai sekitar 35 persen. Namun, hanya sebagian kecil yang mampu bertahan dan membangun karier secara berkelanjutan di sektor tersebut.

Berbagai tantangan masih dihadapi perempuan yang meniti karier di bidang STEM. Mulai dari stereotip gender, minimnya dukungan, hingga budaya kerja yang masih didominasi laki-laki.

Kondisi tersebut membuat banyak perempuan beralih ke bidang lain yang dinilai menawarkan peluang karier lebih baik. Akibatnya, potensi talenta perempuan di sektor sains dan teknologi belum dimanfaatkan secara optimal.

Partisipasi perempuan Indonesia di sektor teknologi juga masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara. Keterwakilan perempuan pada posisi kepemimpinan di sektor tersebut bahkan masih berada pada tingkat yang rendah.

Lestari mendorong penguatan ekosistem pendidikan yang lebih inklusif sejak lingkungan keluarga, sekolah, hingga perguruan tinggi. Menurutnya, perempuan perlu memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang dalam riset, inovasi, dan kepemimpinan akademik.

"Kita perlu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif di sekolah dan perguruan tinggi, memberi ruang bagi perempuan untuk aktif dalam riset, diskusi ilmiah, dan kepemimpinan akademik," ujarnya.

Ia menilai perlu adanya perubahan menyeluruh, mulai dari penyediaan akses hingga penguatan kebijakan yang berpihak pada kesetaraan. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan keterlibatan perempuan dalam STEM sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia.

"Transformasi menyeluruh dari hulu ke hilir, mulai dari perubahan narasi penyediaan akses seperti pendanaan riset, hingga advokasi kebijakan pro-kesetaraan. Ini adalah kunci untuk mewujudkan peningkatan keterlibatan perempuan dalam STEM," ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....