Aceh dan Tantangan Imunisasi, Kolaborasi Jadi Kunci Menekan Angka Anak Zero Dose
- 02 Jun 2026 18:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah menjadikan Aceh sebagai daerah percontohan peningkatan imunisasi meski cakupannya masih sekitar 33 persen
- Rendahnya imunisasi dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kurangnya informasi, hoaks media sosial, hingga pengambilan keputusan dalam keluarga
- Kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, ulama, dan masyarakat menjadi kunci mengejar target penurunan anak zero dose di Aceh
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyebut capaian imunisasi dasar lengkap tahun 2025 masih menjadi tantangan besar. Ia mengatakan cakupan imunisasi dasar lengkap di Kota Banda Aceh baru mencapai angka 34 persen tahun ini.
“Pada tahun 2025, capaian imunisasi dasar lengkap baru berada di angka 34%. Artinya, masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan perlindungan dasar terhadap penyakit yang berbahaya,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam kegiatan Kunjungan Lapangan Tematik dan Media Briefing ‘Mengejar Anak Zero Dose’ di Banda Aceh, Jumat 22 Mei 2026.
Menurut Illiza, data pemerintah menunjukkan sebanyak 63 persen anak masih berstatus zero dose dan belum menerima vaksin dasar lengkap. Ia menegaskan kondisi tersebut tidak bisa dianggap biasa karena berisiko meningkatkan penyebaran penyakit menular di masyarakat.

Illiza mengatakan kasus campak di Banda Aceh telah mencapai 119 kasus dan disertai munculnya pertusis atau batuk rejan. Selain itu, angka tuberkulosis di Banda Aceh juga tercatat mencapai lebih dari 1.600 kasus sepanjang periode terakhir.
Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat layanan primer melalui Puskesmas dan Posyandu agar masyarakat lebih mudah mengakses imunisasi. Selain itu, pemerintah juga melakukan pemetaan sasaran hingga tingkat gampong menggunakan pendataan ‘by name by address’.
“Kami juga melakukan pemetaan sasaran sampai ke tingkat gampong. Jadi kita ingin memastikan data anak-anak yang belum imunisasi benar-benar akurat ‘by name, by address’ supaya tidak ada yang terlewatkan,” ucapnya.
Illiza menambahkan pemerintah turut menjalankan pendekatan ‘door-to-door’ melalui kader Posyandu dan petugas kesehatan yang mendatangi rumah warga. Menurutnya, sebagian keluarga belum memperoleh informasi utuh mengenai manfaat imunisasi sehingga membutuhkan pendekatan lebih persuasif.
“Pendekatan ‘door-to-door’ ini penting. Karena kadang ada keluarga yang bukan menolak, tetapi belum mendapatkan informasi yang utuh,” kata Illiza.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....