Trump Tolak Proposal Damai Iran, Akankah Perang akan Berlanjut?
- 04 Mei 2026 21:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menolak proposal perdamaian yang diajukan Iran melalui mediator Pakistan pada Kamis, 30 April 2026.
- Proposal yang memiliki 14 poin itu merupakan tanggapan terhadap rencana sembilan poin sebelumnya yang diusulkan oleh Washington.
- Pakistan perlu melibatkan pengamat selama proses perundingan perdamaian Iran-AS berlangsung.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres memperingatkan, krisis yang meningkat di Selat Hormuz dapat mendorong puluhan juta orang ke dalam kemiskinan. Kemudian, memicu lonjakan kelaparan global, dan bahkan menjerumuskan dunia ke dalam resesi.
Ia mengecam pembatasan jalur bebas melalui titik rawan penting tersebut yang menghambat pengiriman minyak, gas, pupuk, dan komoditas penting lainnya dan mencekik ekonomi global. Dengan menjabarkan tiga kemungkinan skenario, ia mengatakan bahkan jika pembatasan pengiriman dan perdagangan dicabut segera, rantai pasokan akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih.
Serta, memprediksikan akan terjadi pertumbuhan global turun dari 3,4 menjadi 3,1 persen, inflasi naik menjadi 4,4 persen, dan perdagangan melambat tajam. "Dan dunia yang masih terguncang akibat guncangan pandemi dan perang di Ukraina akan mengalami kesulitan ekonomi lebih lanjut. Ini adalah skenario terbaik," kata Sekjen PBB pada Kamis 30 April 2026.
Guterres menyoroti upaya diplomatik yang sedang dilakukan oleh kepala Layanan Proyek PBB (UNOPS) yang memimpin Gugus Tugas PBB di selat tersebut. Yaitu, untuk menyediakan koridor kemanusiaan yang memungkinkan.
Kepala organisasi maritim PBB, IMO, juga sedang mengembangkan kerangka kerja untuk mengevakuasi kapal dan pelaut jika jalur pelayaran yang aman dapat dijamin. Jika gangguan yang timbul dari serangan dan ancaman Iran serta blokade AS terhadap pelabuhan Iran berlanjut hingga pertengahan tahun, konsekuensinya akan semakin parah.
“Tiga puluh dua juta orang terjerumus ke dalam kemiskinan, pupuk menipis dan hasil panen menurun, 45 juta orang lagi menghadapi kelaparan ekstrem. Dan, kemajuan pembangunan yang telah diraih dengan susah payah berbalik dalam semalam,” ujarnya dalam pertemuan dengan para koresponden di Markas Besar PBB, New York, AS.
Menurutnya, dalam skenario terburuk, gangguan parah berlanjut hingga akhir tahun, dunia menghadapi momok resesi global. Diperparah dengan dampak dramatis pada masyarakat, ekonomi, dan stabilitas politik dan sosial.
“Konsekuensi ini bukan kumulatif, konsekuensinya bersifat eksponensial. Bahwa, semakin lama jalur vital ini tersumbat, semakin sulit untuk memperbaiki kerusakannya,” kata Sekjen PBB.
“Pesan saya kepada semua pihak jelas: Hak dan kebebasan navigasi harus segera dipulihkan... Bukalah Selat (Hormuz-red), biarkan semua kapal lewat. Biarkan ekonomi global bernapas kembali.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....