Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Kering, Dampaknya Meluas ke Berbagai Sektor
- 17 Apr 2026 11:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, dan lebih kering dibandingkan kondisi normal klimatologis
- Risiko meluas muncul di berbagai sektor, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, ketahanan pangan, hingga tekanan pada sektor kelautan
- Dampak langsung dirasakan masyarakat, termasuk peningkatan risiko kesehatan dan kerentanan tinggi pada anak akibat cuaca ekstrem
Guru besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad menjelaskan anak lebih rentan terhadap dampak cuaca panas ekstrem. Kerentanan tersebut terjadi karena daya tahan tubuh anak belum sekuat orang dewasa sehingga mudah terpengaruh perubahan lingkungan.
Ia menyebut perubahan suhu, kualitas udara, serta sanitasi lingkungan yang buruk membuat anak lebih mudah terserang berbagai penyakit. Anak-anak, terutama balita, kerap mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara, sanitasi buruk, dan kondisi lingkungan ekstrem.
“Perubahan suhu, kualitas udara, sanitasi lingkungan itu menyebabkan anak menjadi lebih rentan tentunya, daya tahan tubuhnya kan dia belum begitu baik ya. Terutama anak-anak balita, jadi sering mendapatkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan keadaan, kualitas udara, dengan sanitasi lingkungan,” kata Guru besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. dr. Cissy Rachiana Sudjana Prawira kepada RRI Pro3 di Jakarta, Kamis 16 April 2026.

Menurutnya, penyakit yang muncul dapat berupa infeksi saluran pernapasan akut akibat kualitas udara buruk dan polusi meningkat. Selain itu, penyakit seperti diare juga dapat terjadi jika anak mengkonsumsi air yang tidak bersih.
Ia menambahkan penyakit berbasis lingkungan seperti demam berdarah dan malaria juga berisiko meningkat akibat berkembangnya nyamuk di genangan air. Kondisi cuaca ekstrem yang tidak menentu memperburuk penyebaran virus dan bakteri di lingkungan sekitar anak.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh anak melalui asupan gizi seimbang dan lingkungan yang bersih. Upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh untuk melindungi anak dari berbagai risiko penyakit akibat cuaca ekstrem.
“Makannya harus bagus karena daya tahan tubuhnya harus bagus, gizinya harus bagus, harus seimbang, makan protein, lemak, karbohidrat. Vitamin itu semua harus ada di dalam makanannya ya, sehingga daya tahan tubuhnya nanti bagus terus dari dalam,” ujarnya.
Kondisi ini menegaskan bahwa dampak kemarau tidak hanya berhenti pada sektor lingkungan dan ekonomi, tetapi juga menyentuh langsung aspek kesehatan masyarakat. Perlindungan terhadap kelompok rentan menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....