Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Kering, Dampaknya Meluas ke Berbagai Sektor

  • 17 Apr 2026 11:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, dan lebih kering dibandingkan kondisi normal klimatologis
  • Risiko meluas muncul di berbagai sektor, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, ketahanan pangan, hingga tekanan pada sektor kelautan
  • Dampak langsung dirasakan masyarakat, termasuk peningkatan risiko kesehatan dan kerentanan tinggi pada anak akibat cuaca ekstrem

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan peluang berkembangnya fenomena El Nino meningkat pada semester kedua tahun 2026. Saat ini kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole masih berada pada fase netral.

Menurutnya, hasil pemodelan iklim menunjukkan ENSO berpotensi berkembang menjadi fase El Nino pada semester kedua tahun ini. Intensitasnya diprediksi berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang cukup besar.

"Prediksi intensitas El Nino berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50 hingga 80 persen. Kemungkinan kecil berkembang menjadi kategori kuat kurang dari 20 persen," katanya.

BMKG juga mengingatkan adanya fenomena spring predictability barrier yang dapat menurunkan akurasi prediksi model iklim pada periode tertentu. Fenomena ini biasanya terjadi saat belahan bumi utara memasuki periode musim semi antara Maret hingga Mei.

Oleh karena itu, hasil prediksi saat ini dinilai lebih andal untuk jangka pendek sekitar tiga bulan ke depan. Tingkat kepercayaan terhadap prediksi akan meningkat pada pembaruan data iklim bulan Mei 2026.

"Meskipun intensitas El Nino masih berkembang, musim kemarau 2026 diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih panjang. Hal ini dipengaruhi variabilitas iklim alamiah di wilayah Indonesia," ujarnya.

BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak musim kemarau yang lebih ekstrem tahun ini. Langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini oleh pemerintah, sektor terkait, dan masyarakat luas.

Selain itu, masyarakat diminta terus mengacu pada informasi resmi BMKG yang disampaikan secara berkala melalui berbagai kanal komunikasi. Pembaruan data iklim akan terus dilakukan untuk mendukung langkah antisipasi.

Kondisi ini mulai memunculkan dampak nyata di lapangan seiring meningkatnya risiko kebakaran di berbagai wilayah. Ancaman tersebut menjadi salah satu konsekuensi langsung dari kemarau panjang yang semakin ekstrem.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....