Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Kering, Dampaknya Meluas ke Berbagai Sektor
- 17 Apr 2026 11:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, dan lebih kering dibandingkan kondisi normal klimatologis
- Risiko meluas muncul di berbagai sektor, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, ketahanan pangan, hingga tekanan pada sektor kelautan
- Dampak langsung dirasakan masyarakat, termasuk peningkatan risiko kesehatan dan kerentanan tinggi pada anak akibat cuaca ekstrem
Kemarau Lebih Panjang dan Kering, Tidak Lagi Sekadar Musim Biasa
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini datang lebih awal. Dan berlangsung lebih lama dengan curah hujan di bawah rata-rata klimatologis.
Hingga akhir Maret 2026, sekitar 7 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau secara bertahap. Jumlah tersebut diperkirakan terus meningkat signifikan pada periode April, Mei, hingga Juni 2026 mendatang.
“Hingga akhir Maret 2026, BMKG mencatat sekitar 7 persen zona musim di Indonesia telah memasuki kemarau. Dan jumlah ini diperkirakan meningkat signifikan pada April hingga Juni,” ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Senin 6 April 2026.
Ia menyebut beberapa wilayah telah mengalami kemarau lebih awal dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia. Wilayah tersebut meliputi sebagian Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sulawesi, NTB, NTT, hingga Papua Barat.

"BMKG akan terus memantau dinamika iklim global dan regional secara berkala. Masyarakat diharapkan mengikuti informasi resmi melalui berbagai kanal komunikasi BMKG," ucapnya.
Faisal menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi variabilitas iklim alami. Serta adanya potensi berkembangnya fenomena El Niño pada paruh kedua 2026.
Di sisi lain, lonjakan titik panas juga mulai terlihat. Data pemantauan satelit menunjukkan terdapat 702 hotspot sepanjang 1 Januari hingga 5 April 2026.
Data tersebut meningkat 82,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dengan tren ini, pemerintah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Terutama dalam aktivitas pembukaan lahan. Tujuannya untuk mencegah meluasnya kebakaran di tengah musim kering yang kian ekstrem,” katanya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kemarau tahun ini tidak hanya datang lebih cepat, tetapi juga membawa pola yang berbeda dari biasanya. Perubahan ini kemudian terlihat lebih jelas melalui durasi musim, curah hujan, dan luas wilayah terdampak yang dipaparkan BMKG.
El Nino Mengintai, Risiko Kekeringan Berpotensi Meluas
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan berlangsung panjang dibandingkan rata-rata klimatologis nasional. Kondisi tersebut juga ditandai dengan curah hujan yang lebih rendah dibandingkan rata-rata selama tiga dekade terakhir.
Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab menyebutkan bahwa musim kemarau tahun ini memiliki beberapa indikator berbeda. Ia menjelaskan indikator tersebut meliputi waktu awal musim, durasi musim, dan jumlah curah hujan selama periode kemarau.
"BMKG membuat prediksi musim kemarau 2026, salah satu aspek yang kami sampaikan adalah kapan mulai datang musim kemarau. Dan berapa lama atau durasi musim kemarau ini," ucapnya dalam wawancara bersama Pro3 RRI, Rabu 15 April 2026.
BMKG mencatat sebanyak 56 persen zona musim mengalami kemarau lebih awal dibandingkan dengan kondisi normal sebelumnya. Awal musim kemarau di sejumlah wilayah bahkan sudah dimulai sejak April dan berlanjut pada Mei.
Selain datang lebih cepat, durasi musim kemarau tahun ini juga diprediksi berlangsung lebih lama dari biasanya. Sekitar 56 persen wilayah mengalami peningkatan panjang musim kemarau dibandingkan rata-rata klimatologis sebelumnya.
"Ternyata sekitar 56 persen itu lebih lama dari normal. Durasi musim kemarau ini lebih panjang dari normalnya kalau dibandingkan dengan normalnya," katanya menjelaskan.
Selain itu, kondisi kemarau tahun ini cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Sebanyak 64 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah rata-rata selama musim kemarau.
Ia menegaskan, bahwa kondisi ini tidak berarti menjadi yang paling ekstrem dalam sejarah klimatologi Indonesia. Ia mencontohkan bahwa tahun 1997 memiliki tingkat kekeringan yang jauh lebih tinggi dibandingkan tahun ini.
“Contoh misalnya kalau kita bandingkan dengan 97 ketika El Nino kuat. Tahun 1997 jauh lebih kering dibanding tahun 2026 ini," ucapnya.
Karakter kemarau yang lebih panjang dan kering ini menunjukkan adanya pengaruh kuat dari dinamika iklim global. Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian adalah potensi kemunculan fenomena El Nino pada tahun ini.
Karhutla Mengancam, Risiko Kebakaran Kian Meningkat
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan peluang berkembangnya fenomena El Nino meningkat pada semester kedua tahun 2026. Saat ini kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole masih berada pada fase netral.
Menurutnya, hasil pemodelan iklim menunjukkan ENSO berpotensi berkembang menjadi fase El Nino pada semester kedua tahun ini. Intensitasnya diprediksi berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang cukup besar.
"Prediksi intensitas El Nino berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50 hingga 80 persen. Kemungkinan kecil berkembang menjadi kategori kuat kurang dari 20 persen," katanya.
BMKG juga mengingatkan adanya fenomena spring predictability barrier yang dapat menurunkan akurasi prediksi model iklim pada periode tertentu. Fenomena ini biasanya terjadi saat belahan bumi utara memasuki periode musim semi antara Maret hingga Mei.
Oleh karena itu, hasil prediksi saat ini dinilai lebih andal untuk jangka pendek sekitar tiga bulan ke depan. Tingkat kepercayaan terhadap prediksi akan meningkat pada pembaruan data iklim bulan Mei 2026.
"Meskipun intensitas El Nino masih berkembang, musim kemarau 2026 diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih panjang. Hal ini dipengaruhi variabilitas iklim alamiah di wilayah Indonesia," ujarnya.
BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak musim kemarau yang lebih ekstrem tahun ini. Langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini oleh pemerintah, sektor terkait, dan masyarakat luas.
Selain itu, masyarakat diminta terus mengacu pada informasi resmi BMKG yang disampaikan secara berkala melalui berbagai kanal komunikasi. Pembaruan data iklim akan terus dilakukan untuk mendukung langkah antisipasi.
Kondisi ini mulai memunculkan dampak nyata di lapangan seiring meningkatnya risiko kebakaran di berbagai wilayah. Ancaman tersebut menjadi salah satu konsekuensi langsung dari kemarau panjang yang semakin ekstrem.
Ketahanan Pangan Diuji di Tengah Ancaman Kemarau
Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026 diperkirakan meningkat seiring musim kemarau yang lebih panjang. Kondisi ini mendorong semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Terutama dalam penggunaan api saat pembukaan lahan.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mencegah karhutla. Ia menyebut kesadaran bersama menjadi kunci utama dalam menekan risiko kebakaran.
“Pada intinya masyarakat harus lebih mawas diri dan berhati-hati dalam proses pembukaan lahan. Termasuk perusahaan, karena aktivitas tersebut dapat berdampak langsung pada meningkatnya karhutla,” ujarnya, dikutip dalam keterangan tertulis Senin 6 April 2026.

Menurutnya, praktik pembakaran lahan masih menjadi salah satu penyebab utama karhutla. Oleh karena itu, pengawasan dan tanggung jawab perlu ditingkatkan.
Pemerintah juga mendorong peningkatan kesadaran masyarakat melalui sosialisasi dan pelatihan. Dukungan berupa bimbingan teknis dan penguatan kapasitas masyarakat turut dilakukan untuk memperkuat pencegahan.
Koordinasi antar kementerian dan lembaga terus diperkuat untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setiap tahun. Hal ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2020 yang menekankan keterlibatan seluruh pihak.
Mulai dari pemerintah pusat, TNI-Polri, pemerintah daerah, hingga perusahaan dan masyarakat. Seluruh elemen tersebut diharapkan meningkatkan kewaspadaan dan bekerja sama dalam upaya penanggulangan karhutla.
Upaya penanganan dilakukan melalui pemadaman yang cepat, efektif, dan efisien agar api tidak meluas. Selain itu, pemadaman udara juga disinergikan dengan penanganan di darat untuk hasil yang lebih optimal.
Ancaman karhutla yang meningkat ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor lain yang bergantung pada kondisi iklim. Salah satu sektor yang menjadi perhatian utama adalah ketahanan pangan nasional.
Sektor Kelautan Hadapi Tekanan Iklim dan Geopolitik
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan bahwa cadangan beras 4,6 juta ton aman menghadapi ancaman kemarau ekstrem. Persediaan pangan nasional tersebut sanggup memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia hingga sebelas bulan ke depan.
Amran menjelaskan bahwa jumlah cadangan beras per tanggal 7 April 2026 telah menembus angka tertinggi. Capaian tersebut diklaim sebagai rekor stok paling besar sepanjang sejarah perjalanan sektor pertanian di tanah air.
“Jadi kemarin 4,5 sekarang 4,6 juta ton, ini tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi stok beras nasional di Indonesia dipastikan aman untuk 10 sampai 11 bulan ke depan,” ujar Amran dalam raker dan RDP dengan Menteri Pertanian/Kepala Bapanas, Menteri Kelautan dan Perikanan, Direktur Utama Perum BULOG, Direktur Utama PT PUPUK INDONESIA, dan Direktur Utama PT RNI/ID FOOD di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa 7 April 2026.

Pemerintah memproyeksikan persediaan pangan tetap stabil meski fenomena iklim El Nino diperkirakan akan berlangsung selama enam bulan. Ia optimistis kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi walaupun ketegangan geopolitik global mulai mengganggu rantai pasok pangan dunia.
Mentan menginstruksikan seluruh kepala daerah untuk segera memetakan wilayah yang menjadi langganan kekeringan di daerah. Pihaknya juga telah menyiagakan sebanyak 171.000 unit alat mesin pertanian untuk mendukung optimalisasi irigasi sawah para petani.
“Kementerian Pertanian menginstruksikan seluruh gubernur dan bupati untuk melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan serta sistem peringatan dini. Upaya ini juga mencakup optimalisasi pengolahan air irigasi melalui rehabilitasi embung, sumur dangkal, dan sumur dalam,” kata Amran.
Amran yang juga menjabat Kepala Badan Pangan Nasional (BAPANAS) memaparkan proyeksi neraca komoditas strategis lainnya. Ia menyebutkan stok jagung nasional mengalami surplus 4,3 juta ton dan gula konsumsi tersedia sebanyak 632 ribu ton.
Pemerintah tengah menggenjot program kemandirian energi melalui implementasi bahan bakar nabati jenis B50 pada periode tahun ini. Strategi tersebut diharapkan mampu menghentikan impor solar sebanyak 5,3 juta ton guna memperkuat struktur ekonomi nasional kita.
“InsyaAllah tahun ini Indonesia tidak akan impor solar sebanyak 5,3 juta ton. Kedepan kita akan implementasikan pabrik etanol dan bahan bakunya dari ubi, tebu, dan jagung,” ujar Amran.
Kesiapan sektor pertanian ini menjadi salah satu penopang utama dalam menghadapi tekanan kemarau panjang yang diprediksi terjadi tahun ini. Namun, tantangan serupa juga dirasakan pada sektor lain, termasuk kelautan dan perikanan yang tidak kalah rentan terhadap perubahan iklim dan dinamika global.
DKI Jakarta Percepat Normalisasi Hadapi Perubahan Musim
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono memaparkan langkah penguatan ketahanan pangan nasional sektor kelautan menghadapi dinamika global serta perubahan iklim ekstrem. Ia menyampaikan bahwa kondisi geopolitik global memberikan dampak signifikan terhadap sektor kelautan dan perikanan nasional saat ini.
“Salah satunya di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga sangat berdampak. Diantaranya adalah soal penggunaan bahan bakar minyak untuk para nelayan yang 100 persen hingga saat ini masih menggunakan bahan bakar minyak,” katanya dalam raker dan RDP dengan Menteri Pertanian/Kepala Bapanas, Menteri Kelautan dan Perikanan, Direktur Utama Perum BULOG, Direktur Utama PT PUPUK INDONESIA, dan Direktur Utama PT RNI/ID FOOD di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa 7 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa salah satu dampak utama adalah ketergantungan nelayan terhadap bahan bakar minyak yang masih mencapai seratus persen hingga saat ini. Selain itu, harga distribusi yang masih terpengaruh turut mengganggu rantai pasok hasil perikanan di berbagai wilayah Indonesia.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menurunkan volume ekspor sekaligus mengurangi daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global. Hal ini menjadi perhatian penting pemerintah dalam menjaga stabilitas sektor kelautan dan perikanan nasional ke depan.
Ia juga mengungkapkan potensi fenomena Godzilla El Nino yang diperkirakan terjadi pada periode April hingga Oktober 2026 mendatang. Fenomena tersebut dapat memicu tekanan serius di wilayah daratan, pesisir, hingga lautan termasuk kerusakan ekosistem.
Menurutnya, peningkatan evaporasi berpotensi menyebabkan lonjakan salinitas yang berdampak pada wabah penyakit budidaya dan degradasi karbon biru. Kondisi ini pada akhirnya dapat meningkatkan emisi karbon secara signifikan sehingga perlu diantisipasi secara menyeluruh.
“Tingginya tingkat evaporasi dapat menyebabkan lonjakan salinitas yang berimplikasi pada meningkatnya risiko wabah penyakit pada komunitas budidaya. Serta berpotensi mempercepat degradasi ekosistem karbon biru yang pada akhirnya dapat meningkatkan emisi karbon secara signifikan,” ucapnya.
Tekanan di sektor kelautan ini menunjukkan bahwa dampak kemarau dan perubahan iklim bersifat lintas sektor dan meluas. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk mengambil langkah konkret dalam menghadapi perubahan pola musim di wilayah masing-masing.
Kesiapsiagaan Bencana dan Ancaman Kesehatan Meningkat
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempercepat pengerukan kali di ibu kota. Ini setelah adanya peringatan potensi kemarau panjang dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Langkah ini dilakukan sebagai persiapan menghadapi musim hujan yang diperkirakan berakhir mulai September 2026. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebut penurunan curah hujan mulai pertengahan April hingga September.
Hal ini akibat fenomena El Nino. Sehingga bisa dimanfaatkan untuk mempercepat pengerukan kali dan normalisasi sungai.
“Mulai pertengahan April diprediksi curah hujan menurun hingga September. Maka, Pemerintah Jakarta akan fokus melakukan pengerukan kali dan normalisasi sungai,” ujar Pramono di Jakarta Pusat, Jumat 10 April 2026.

Pengerukan ditargetkan rampung dalam waktu satu tahun sebagai langkah strategis mengurangi risiko banjir di Jakarta. Kanal Banjir Barat memiliki lebar bervariasi 30–100 meter dengan total rencana volume pengerukan mencapai 179.269 meter kubik.
Pekerjaan dibagi menjadi tiga segmen. Pertama, Pintu Air Manggarai – Stasiun Karet sepanjang 3.543 meter. Lalu, Stasiun Karet – Pintu Air Karet sepanjang 686 meter. Serta Pintu Air Karet – Jalan Kyai Tapa (Roxy) sepanjang 3.850 meter.
Saat ini, pengerukan difokuskan pada segmen ketiga sepanjang 3.850 meter dengan target volume sekitar 165.381 meter kubik. Ke depan, hasil pengerukan akan terintegrasi dengan program normalisasi di aliran Sungai Ciliwung dan Kali Krukut.
Pemerintah berharap aliran air menuju laut semakin lancar. Sehingga potensi banjir dapat ditekan.
“Kalau ini berhasil, aliran air ke laut akan semakin cepat. Tantangannya saat rob air tetap tertahan, tetapi ini bagian dari upaya besar kita mengendalikan banjir,” kata Pramono.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya mitigasi yang lebih luas dalam menghadapi dampak perubahan iklim di wilayah perkotaan. Selain infrastruktur, kesiapsiagaan bencana dan dukungan logistik juga menjadi aspek penting yang terus diperkuat.
Anak Jadi Kelompok Rentan di Tengah Cuaca Ekstrem
Ketua Subkelompok Logistik dan Peralatan BPBD DKI Jakarta, Michael Sitanggang, menjelaskan bahwa perubahan iklim global turut memengaruhi pola musim di ibu kota. Ia menyebutkan bahwa kondisi cuaca saat ini menjadi lebih ekstrem dibandingkan pola musim sebelumnya.
“Menurut informasi dari BMKG, wilayah Jakarta sudah mulai masuk ke dalam awal musim kemarau, sehingga ada potensi risiko bencana kekeringan,” ujar Michael dalam wawancara bersama Pro1, Selasa 14 April 2026.
Selain risiko kekeringan, masyarakat juga diminta mewaspadai dampak lain seperti peningkatan suhu udara dan potensi gangguan kesehatan. Kurangnya asupan cairan serta paparan panas berlebih dapat memicu berbagai penyakit, terutama bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Michael juga menyoroti potensi peningkatan polusi udara selama musim kemarau yang kerap terjadi di Jakarta. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menjaga kondisi tubuh serta mengurangi aktivitas luar ruangan saat kondisi udara tidak sehat.
Di sisi lain, wilayah yang belum terlayani jaringan air bersih menjadi perhatian utama dalam menghadapi musim kemarau. Warga yang masih mengandalkan air tanah diminta untuk mulai mengantisipasi kemungkinan berkurangnya pasokan air di bulan-bulan mendatang.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD DKI Jakarta telah menyiapkan berbagai kebutuhan logistik, baik pangan maupun non-pangan. Selain itu, disiapkan pula tenda pengungsian, tenda posko, serta berbagai paket bantuan bagi warga terdampak.
“Biasanya di musim kemarau ini tidak hanya kekeringan. Tetapi juga peningkatan kejadian kebakaran akibat kondisi lingkungan yang kering,” kata Michael.
Ia menambahkan bahwa faktor kelalaian manusia seperti korsleting listrik dan penggunaan gas rumah tangga juga menjadi pemicu utama kebakaran. Dalam menghadapi potensi krisis air bersih, BPBD juga menyiapkan mobil tangki air di setiap wilayah kota administrasi.
“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus mulai mempersiapkan diri sejak sekarang. Baik untuk diri sendiri maupun lingkungannya,” pungkas Michael.
Selain kesiapan infrastruktur dan logistik, dampak kemarau juga dirasakan langsung oleh masyarakat dari sisi kesehatan. Kelompok rentan seperti anak-anak menjadi pihak yang paling terdampak oleh kondisi cuaca ekstrem ini.
Guru besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad menjelaskan anak lebih rentan terhadap dampak cuaca panas ekstrem. Kerentanan tersebut terjadi karena daya tahan tubuh anak belum sekuat orang dewasa sehingga mudah terpengaruh perubahan lingkungan.
Ia menyebut perubahan suhu, kualitas udara, serta sanitasi lingkungan yang buruk membuat anak lebih mudah terserang berbagai penyakit. Anak-anak, terutama balita, kerap mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara, sanitasi buruk, dan kondisi lingkungan ekstrem.
“Perubahan suhu, kualitas udara, sanitasi lingkungan itu menyebabkan anak menjadi lebih rentan tentunya, daya tahan tubuhnya kan dia belum begitu baik ya. Terutama anak-anak balita, jadi sering mendapatkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan keadaan, kualitas udara, dengan sanitasi lingkungan,” kata Guru besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. dr. Cissy Rachiana Sudjana Prawira kepada RRI Pro3 di Jakarta, Kamis 16 April 2026.

Menurutnya, penyakit yang muncul dapat berupa infeksi saluran pernapasan akut akibat kualitas udara buruk dan polusi meningkat. Selain itu, penyakit seperti diare juga dapat terjadi jika anak mengkonsumsi air yang tidak bersih.
Ia menambahkan penyakit berbasis lingkungan seperti demam berdarah dan malaria juga berisiko meningkat akibat berkembangnya nyamuk di genangan air. Kondisi cuaca ekstrem yang tidak menentu memperburuk penyebaran virus dan bakteri di lingkungan sekitar anak.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh anak melalui asupan gizi seimbang dan lingkungan yang bersih. Upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh untuk melindungi anak dari berbagai risiko penyakit akibat cuaca ekstrem.
“Makannya harus bagus karena daya tahan tubuhnya harus bagus, gizinya harus bagus, harus seimbang, makan protein, lemak, karbohidrat. Vitamin itu semua harus ada di dalam makanannya ya, sehingga daya tahan tubuhnya nanti bagus terus dari dalam,” ujarnya.
Kondisi ini menegaskan bahwa dampak kemarau tidak hanya berhenti pada sektor lingkungan dan ekonomi, tetapi juga menyentuh langsung aspek kesehatan masyarakat. Perlindungan terhadap kelompok rentan menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....