Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Kering, Dampaknya Meluas ke Berbagai Sektor

  • 17 Apr 2026 11:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, dan lebih kering dibandingkan kondisi normal klimatologis
  • Risiko meluas muncul di berbagai sektor, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, ketahanan pangan, hingga tekanan pada sektor kelautan
  • Dampak langsung dirasakan masyarakat, termasuk peningkatan risiko kesehatan dan kerentanan tinggi pada anak akibat cuaca ekstrem

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan berlangsung panjang dibandingkan rata-rata klimatologis nasional. Kondisi tersebut juga ditandai dengan curah hujan yang lebih rendah dibandingkan rata-rata selama tiga dekade terakhir.

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab menyebutkan bahwa musim kemarau tahun ini memiliki beberapa indikator berbeda. Ia menjelaskan indikator tersebut meliputi waktu awal musim, durasi musim, dan jumlah curah hujan selama periode kemarau.

"BMKG membuat prediksi musim kemarau 2026, salah satu aspek yang kami sampaikan adalah kapan mulai datang musim kemarau. Dan berapa lama atau durasi musim kemarau ini," ucapnya dalam wawancara bersama Pro3 RRI, Rabu 15 April 2026.

BMKG mencatat sebanyak 56 persen zona musim mengalami kemarau lebih awal dibandingkan dengan kondisi normal sebelumnya. Awal musim kemarau di sejumlah wilayah bahkan sudah dimulai sejak April dan berlanjut pada Mei.

Selain datang lebih cepat, durasi musim kemarau tahun ini juga diprediksi berlangsung lebih lama dari biasanya. Sekitar 56 persen wilayah mengalami peningkatan panjang musim kemarau dibandingkan rata-rata klimatologis sebelumnya.

"Ternyata sekitar 56 persen itu lebih lama dari normal. Durasi musim kemarau ini lebih panjang dari normalnya kalau dibandingkan dengan normalnya," katanya menjelaskan.

Selain itu, kondisi kemarau tahun ini cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Sebanyak 64 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah rata-rata selama musim kemarau.

Ia menegaskan, bahwa kondisi ini tidak berarti menjadi yang paling ekstrem dalam sejarah klimatologi Indonesia. Ia mencontohkan bahwa tahun 1997 memiliki tingkat kekeringan yang jauh lebih tinggi dibandingkan tahun ini.

“Contoh misalnya kalau kita bandingkan dengan 97 ketika El Nino kuat. Tahun 1997 jauh lebih kering dibanding tahun 2026 ini," ucapnya.

Karakter kemarau yang lebih panjang dan kering ini menunjukkan adanya pengaruh kuat dari dinamika iklim global. Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian adalah potensi kemunculan fenomena El Nino pada tahun ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....