Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Kering, Dampaknya Meluas ke Berbagai Sektor
- 17 Apr 2026 11:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, dan lebih kering dibandingkan kondisi normal klimatologis
- Risiko meluas muncul di berbagai sektor, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, ketahanan pangan, hingga tekanan pada sektor kelautan
- Dampak langsung dirasakan masyarakat, termasuk peningkatan risiko kesehatan dan kerentanan tinggi pada anak akibat cuaca ekstrem
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono memaparkan langkah penguatan ketahanan pangan nasional sektor kelautan menghadapi dinamika global serta perubahan iklim ekstrem. Ia menyampaikan bahwa kondisi geopolitik global memberikan dampak signifikan terhadap sektor kelautan dan perikanan nasional saat ini.
“Salah satunya di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga sangat berdampak. Diantaranya adalah soal penggunaan bahan bakar minyak untuk para nelayan yang 100 persen hingga saat ini masih menggunakan bahan bakar minyak,” katanya dalam raker dan RDP dengan Menteri Pertanian/Kepala Bapanas, Menteri Kelautan dan Perikanan, Direktur Utama Perum BULOG, Direktur Utama PT PUPUK INDONESIA, dan Direktur Utama PT RNI/ID FOOD di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa 7 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa salah satu dampak utama adalah ketergantungan nelayan terhadap bahan bakar minyak yang masih mencapai seratus persen hingga saat ini. Selain itu, harga distribusi yang masih terpengaruh turut mengganggu rantai pasok hasil perikanan di berbagai wilayah Indonesia.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menurunkan volume ekspor sekaligus mengurangi daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global. Hal ini menjadi perhatian penting pemerintah dalam menjaga stabilitas sektor kelautan dan perikanan nasional ke depan.
Ia juga mengungkapkan potensi fenomena Godzilla El Nino yang diperkirakan terjadi pada periode April hingga Oktober 2026 mendatang. Fenomena tersebut dapat memicu tekanan serius di wilayah daratan, pesisir, hingga lautan termasuk kerusakan ekosistem.
Menurutnya, peningkatan evaporasi berpotensi menyebabkan lonjakan salinitas yang berdampak pada wabah penyakit budidaya dan degradasi karbon biru. Kondisi ini pada akhirnya dapat meningkatkan emisi karbon secara signifikan sehingga perlu diantisipasi secara menyeluruh.
“Tingginya tingkat evaporasi dapat menyebabkan lonjakan salinitas yang berimplikasi pada meningkatnya risiko wabah penyakit pada komunitas budidaya. Serta berpotensi mempercepat degradasi ekosistem karbon biru yang pada akhirnya dapat meningkatkan emisi karbon secara signifikan,” ucapnya.
Tekanan di sektor kelautan ini menunjukkan bahwa dampak kemarau dan perubahan iklim bersifat lintas sektor dan meluas. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk mengambil langkah konkret dalam menghadapi perubahan pola musim di wilayah masing-masing.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....