Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Kering, Dampaknya Meluas ke Berbagai Sektor

  • 17 Apr 2026 11:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, dan lebih kering dibandingkan kondisi normal klimatologis
  • Risiko meluas muncul di berbagai sektor, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, ketahanan pangan, hingga tekanan pada sektor kelautan
  • Dampak langsung dirasakan masyarakat, termasuk peningkatan risiko kesehatan dan kerentanan tinggi pada anak akibat cuaca ekstrem

Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026 diperkirakan meningkat seiring musim kemarau yang lebih panjang. Kondisi ini mendorong semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Terutama dalam penggunaan api saat pembukaan lahan.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mencegah karhutla. Ia menyebut kesadaran bersama menjadi kunci utama dalam menekan risiko kebakaran.

“Pada intinya masyarakat harus lebih mawas diri dan berhati-hati dalam proses pembukaan lahan. Termasuk perusahaan, karena aktivitas tersebut dapat berdampak langsung pada meningkatnya karhutla,” ujarnya, dikutip dalam keterangan tertulis Senin 6 April 2026.

Petugas yang berjibaku menangani kebakaran lahan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Foto: RRI/Juma Muhammad)

Menurutnya, praktik pembakaran lahan masih menjadi salah satu penyebab utama karhutla. Oleh karena itu, pengawasan dan tanggung jawab perlu ditingkatkan.

Pemerintah juga mendorong peningkatan kesadaran masyarakat melalui sosialisasi dan pelatihan. Dukungan berupa bimbingan teknis dan penguatan kapasitas masyarakat turut dilakukan untuk memperkuat pencegahan.

Koordinasi antar kementerian dan lembaga terus diperkuat untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setiap tahun. Hal ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2020 yang menekankan keterlibatan seluruh pihak.

Mulai dari pemerintah pusat, TNI-Polri, pemerintah daerah, hingga perusahaan dan masyarakat. Seluruh elemen tersebut diharapkan meningkatkan kewaspadaan dan bekerja sama dalam upaya penanggulangan karhutla.

Upaya penanganan dilakukan melalui pemadaman yang cepat, efektif, dan efisien agar api tidak meluas. Selain itu, pemadaman udara juga disinergikan dengan penanganan di darat untuk hasil yang lebih optimal.

Ancaman karhutla yang meningkat ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor lain yang bergantung pada kondisi iklim. Salah satu sektor yang menjadi perhatian utama adalah ketahanan pangan nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....