Kilau Perak Koto Gadang, yang Mulai Pudar
- 28 Mar 2026 06:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- 1. Koto Gadang, Sumatra Barat merupakan salah satu sentra kerajinan perak di Indonesia
- 2. Kondisi kerajinan perak memprihatinkan, hanya tersisa delapan perajin yang masih bertahan
- 3. Anak muda tidak mau meneruskan kejayaan Koto Gadang sebagai pusat kerajinan perak
Amai Setia, merupakan tempat untuk menjual produk kerajinan tangan dari warga sekitar mulai dari kerajinan perak, perhiasan perak. Selanjutnya bros, sapu tangan, baju kurung.
Adapun untuk kerajinan atau perak biasanya berdasarkan pesanan. Lalu pihak Amai Setiap meminta agar perajin membuat sesuai dengan pesanan yang diminta.
“Turis datang ke sini secara rombongan, biasanya membeli cincin dan kalung. Kalau best seller sih cincin,” kata Oktri.
Sementara itu, Ketua Pokdarwis Koto Gadang, Jurian mengatakan salah satu menjaga kelestarian dari kerajinan perak adalah membuka kelas pembuatan kerajinan. Kelas membuat kerajinan perak, sudah diterapkan di Bali dan Yogyakarta.
Turis tidak hanya berwisata namun membuat kerajinan perak sesuai dengan keinginnya. Nanti hasil kerajinan perak itu dibawa oleh turis sebagai oleh-oleh.
“Dalam dua tahun terakhir ini kita berjuang, kalau menjual produk sulit maka yang kita jual adalah kelas membuat perak. Sehingga turis pulang membawa oleh-oleh yang dia buat sendiri di desa wisata,” kata Jurian.
Adapun untuk pelaksanaannya akan melibatkan perajin yang tidak hanya mengerti perak tetapi mahir berbahasa Indonesia. “Melibatkan perajin perak yang tidak hanya mampu bercerita tapi bisa berbahasa Indonesia yang dimengerti,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar kerajinan perak dapat dimasukan kedalam kurikulum muatan lokal siswa Sekolah Dasar (SD). Seperti muatan lokal membatik di Pulau Jawa.
Perak yang berkilau ini bukan sekadar hiasan namun cerita tentang ketekunan, tentang kesabaran . Tentang kecintaan yang diwariskan tanpa banyak kata, dan setiap ukiran membawa jejak para perajin yang menjaga tradisi.
Seolah menitipkan pesan agar warisan ini tak pernah hilang. Hari ini, perak Koto Gadang berdiri di persimpangan waktu, menunggu tangan-tangan baru yang siap melanjutkan kisahnya.
Menunggu hati muda yang percaya, bahwa menjaga warisan bukan berarti berjalan mundur, melainkan melangkah maju dengan pijakan yang kuat. Zaman boleh berubah, selera boleh berkembang.
Namun akar tradisi tetap menjadi pijakan, agar kerajinan perak Koto Gadang tidak kehilangan jati dirinya. Kini, harapan itu tumbuh pada generasi berikutnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....