Kilau Perak Koto Gadang, yang Mulai Pudar

  • 28 Mar 2026 06:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • 1. Koto Gadang, Sumatra Barat merupakan salah satu sentra kerajinan perak di Indonesia
  • 2. Kondisi kerajinan perak memprihatinkan, hanya tersisa delapan perajin yang masih bertahan
  • 3. Anak muda tidak mau meneruskan kejayaan Koto Gadang sebagai pusat kerajinan perak

NAGARI Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat menjadi salah satu sentra kerajinan perak di Indonesia. Selain Koto Gadang, ada Kotagede di Yogyakarta dan Bali sebagai penghasil kerajinan perak di Tanah Air.

Kerajinan perak di Koto Gadang berkembang pesat sejak era kolonial Belanda, tepatnya tahun 1911. Kerajinan perak asal Koto Gadang, diminati oleh bangsawan Eropa.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Koto Gadang, Jurian Andika mengatakan kerajinan perak dibawa ke pasar Eropa sejak abad 19. Pada abad 19, banyak perajin perak khususnya kaum pria.

“Awalnya untuk dijual ke bangsa Eropa. Sejarah berdasarkan dokumen, abad 19 sudah mulai ada perajin perak khususnya pria,” kata Jurian, seperti disiarkan di RRI Pro3, Selasa 24 Maret 2026.

Bagi masyarakat Sumatra Barat terutama Koto Gadang, kerajinan perak menjadi sumber utama ekonomi. Pada perkembangannya, kerajinan perak berkembang pesat, tidak hanya berupa souvenir, miniatur tetapi perhiasan yang menjadi gaya hidup masyarakat.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Koto Gadang, Jurian Andika sedang memberikan penjelasan terkait kondisi perajin perak di Koto Gadang. (Foto: RRI Net)

Bahkan pada acara pernikahan, masyarakat lebih memilih perak ketimbang emas. Perhiasan dari perak memiliki pasar yang lebih luas daripada hanya mengandalkan souvenir.

“Nilai ekonomi sangat segmented, orang Minang beli perhiasan atau orang asing beli miniature perak. Sekarang berkembang misal cincin kawin atau perhiasan, bros yang lebih umum dan market luas,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....