Kilau Perak Koto Gadang, yang Mulai Pudar
- 28 Mar 2026 06:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- 1. Koto Gadang, Sumatra Barat merupakan salah satu sentra kerajinan perak di Indonesia
- 2. Kondisi kerajinan perak memprihatinkan, hanya tersisa delapan perajin yang masih bertahan
- 3. Anak muda tidak mau meneruskan kejayaan Koto Gadang sebagai pusat kerajinan perak
Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998 atau dikenal krisis moneter, menghantam Asia Tenggara termasuk Indonesia. Krisis moneter menjadi titik balik kemunduran kerajinan perak di Koto Gadang.
Pemesanan kerajinan atau perhiasan dari perak, anjlok, kemudian pembelian mengalami penurunan drastis. Imbasnya, tidak ada produksi dan perajin perak mulai beralih ke profesi lain seperti bertani, ojek online, pedagang yang dianggap menjanjikan.
Situasi tersebut membuat jumlah perajin perak di Koto Gadang terus berkurang. Kini jumlahnya hanya menyisakan delapan orang.
“Jumlah perajin perak yang masih membuat dan menjual di rumah, hanya delapan orang saja. Kadang mereka bertani tapi masih membuat perak, usia diatas 40 tahun,” ujar Jurian.

Situasi semakin terpuruk dengan penyebaran COVID19 yang melanda banyak negara. Kerajinan perak di Koto Gadang, pada titik nadir.
Uwais Akarni, salah satu perajin perak yang masih bertahan di Koto Gadang. Ia membuka usaha di rumah dan juga memasarkan secara online.
Uwais mengatakan mengatakan pemesanan untuk kerajinan atau perhiasan perak semakin menurun. Selain itu bahan baku untuk perak juga mahal yakni Rp45.000 per gram.
“Sekarang mulai menurun. Bahan mentah juga menurun,” ujar Uwais.
|
Selanjutnya,
Regenerasi Mandek, Kerajinan Perak Diambang Hilang
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....