Kubaca Semesta dari Planetarium Cikini Jakarta
- 30 Mei 2026 01:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
Perjalanan astronomi di Jakarta tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Planetarium Jakarta sebagai mercusuar eduwisata. Di sanalah, HAAJ secara sukarela hadir sebagai penyokong sarana tersebut.
Mereka mengisi ruang-ruang kosong antara kebijakan birokrasi dan dahaga publik terhadap sains. Kerja sama ini menghidupkan mimpi-mimpi Bung Karno dan Ali Sadikin tentang peradaban masyarakat yang memiliki kesadaran terhadap sains.
"Nah, Planetarium jadi sarana media publikasinya, karena itu adalah tugasnya mereka sebagai sarana eduwisatanya. Kita di HAAJ, sebagai komunitas, men-support (Planetarium Jakarta-red)," kata Nurdin kepada RRI.
"Mereka (Planetariun Jakarta-red), men-support fasilitas (untuk HAAJ-red). Jadi bersinerginya kayak seperti itu."
Dari masyarakat yang sebelumnya meraba gerhana dalam bayang-bayang mistis, Jakarta tumbuh menjadi komunitas sadar sains. Ribuan warganya kini bahkan rela mengantre demi menyaksikan jejak-jejak harmonisasi semesta di dalam kubah teater bintang.
Keingintahuan ini meruntuhkan batas-batas eksklusivitas, merengkuh setiap anak manusia tanpa terkecuali. Semesta menyajikan keagungan yang sama untuk diraba dan tidak pernah mengucilkan siapa pun.

Pesan inilah yang disampaikan Rezky kepada RRI dengan mengajak masyarakat Jakarta untuk menyadari bahwa mereka bukanlah penguasa bumi. Mereka, dan seluruh umat manusia, hanyalah bagian kecil yang menyatu di dalam sebuah sistem semesta yang harmonis.
"Kemajuan sebuah kota itu menjadi salah satu yang mungkin membuat orang-orang makin jauh dari langit. Karena tadi, polusi cahaya, kita sulit melihat bintang, jadi orang-orang lebih kenal kehidupan di Buminya daripada luar angkasa yang kalau orang zaman dulu, luar angkasa itu adalah inspirasi, adalah tempat merenung, mendapatkan kecerahan hati, atau mungkin ide-ide baru. Dan mungkin itu juga yang mendasari ilmu pengetahuan sekarang," kata Rezky.
"Saya berharap Planetarium bisa menempatkan dirinya di Jakarta dan juga di Indonesia untuk menjembatani orang-orang yang mulai lupa akan keindahan alam semesta.
"Saya harap Planetarium ke depannya bisa membuat masyarakat Jakarta tidak terbatas hanya melihat horizontal, melihat ke depan, melihat ke samping, tapi juga melihat ke atas."
"Karena dari situ kita bisa membuat manusia-manusia Jakarta itu menurut saya lengkap. Karena kita sadar akan lingkungan kita, tentu dengan Tuhan, tentu dengan alam semesta yang menaungi kita."
"Dan juga ternyata segala sesuatu berputar, beredar, bekerja menurut kuasanya dari hukum-hukum alam yang ternyata memengaruhi kita juga. Jadi membuat manusia Jakarta kembali seutuhnya menjadi manusia yang berpikir," kata Rezky mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....