Kubaca Semesta dari Planetarium Cikini Jakarta
- 30 Mei 2026 01:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
Di luar Masjid Al-Fauz, terik matahari siang itu perlahan-lahan bergeser, namun udara panas Jakarta masih terasa memanggang. Di dalam masjid, embusan kipas helikopter masih setia memberikan kenyamanan bagi kami yang bersila di karpet hijau tua.
Masjid ini tanpa disengaja menjadi pilihan RRI bersua setelah batalnya pertemuan di Planetarium karena padatnya agenda Rezky. Namun, makna filosofis dibalik tempat ini justru memberikan kedalaman arti bagi langit Jakarta dan para pemburu bintang.
Memandang ke luar masjid, bentangan langit biru Jakarta tersaput awan pucat, menyelimuti cerahnya siang hari itu. Namun sebaliknya, saat malam menjelang, gemerlap cahaya kota justru menjadi selimut kota megapolitan yang tak pernah tidur ini.
Berdasarkan tangkapan layar situs Light Pollution Map pada koordinat Jakarta, kondisi langit malam berada pada tingkat Bortle 9.0. Angka ini menunjukkan skala polusi cahaya yang maksimum dengan tingkat kecerahan SQM hanya 17.63 mpsas.
Akibatnya, galaksi Bima Sakti tidak akan pernah lagi terlihat dari pusat kota. Sementara, jumlah bintang yang bisa ditangkap mata telanjang kurang dari 200 saja.
Tren polusi cahaya dari tahun 2012 ke 2026 menunjukkan langit Jakarta juga terus mengalami pemburukan secara konsisten. Dari sebelumnya berada pada skala Bortle 8.4, kota ini menuju kegelapan semu di angka 9.0.
Rezky menyadari kesunyian malam yang murni telah lenyap, digantikan pendar lampu jalan dan gedung-gedung tinggi. Kehadiran kembali Planetarium Jakarta pasca-revitalisasi akhir Desember 2025 memang membawa angin segar bagi warga yang haus akan sains.

Namun, Rezky mengakui ada perbedaan mendasar antara masa lalu dan sekarang. Ia secara langsung merujuknya pada jiwa pertunjukan teater bintang di Planetarium Jakarta.
"Planetarium yang dulu itu kan dikendalikan seorang edukator yang mengoperasikan secara langsung dengan cerita. Jadi, narasi diskusi 'live', gitu. Nah, sekarang modelnya saya lihat memang adalah pertunjukan ter-'script' gitu ya."
Penjelasan Rezky mengenai perubahan jiwa pertunjukan teater bintang tersebut diamini pihak pengelola. Anya Aprilia Christiana, Kepala Unit Usaha TIM dari PT Jakarta Propertindo (Jakpro), membeberkan kenyataan itu.
Proyektor optik berbentuk bola ganda 'Carl Zeiss Starball' buatan Jerman tersebut kini rusak setelah puluhan tahun menjadi primadona. Sebagian terutama di sisi utara yang mengalami 'blank' dan tidak bisa lagi memproyeksikan bintang secara sempurna.
"Kita sudah coba saat itu menghubungi pihak Carl Zeiss, kondisinya sudah 'discontinue', bahkan 'engineer'-nya aja udah tinggal satu orang karena yang lainnya sudah meninggal. Sempat kita waktu itu pernah mau memperbaiki, bahkan tidak ada jaminan kalau kami kirim ke sana ke tempat asalnya itu akan kembali dengan kondisi yang prima dan baik. Jadi memang kesulitannya di situ," kata Anya saat RRI temui di ruang kerjanya di Planetarium Jakarta, Selasa, 7 April 2026.
Demi menjaga agar edukasi astronomi tidak terhenti, Jakpro beralih ke teknologi imersif digital. Mereka memasang 12 proyektor di sepanjang pinggiran kubah.
Namun, sistem digital ini menuntut biaya operasional yang sangat tinggi. Jakpro harus membeli lisensi film astronomi dari Amerika Serikat atau Spanyol dengan biaya melebihi Rp500 juta per film.
Itu pun hanya berlaku selama satu tahun. Anya mengakui ia masih menghadapi kendala dalam mencari kreator konten lokal.
Ini karena kontennya harus mampu memadukan akurasi kerumitan sains astronomi dengan kekuatan cerita visual yang menarik bagi anak-anak. Meskipun digantikan film digital satu arah, minat warga Jakarta untuk mengintip semesta buatan tidak pernah surut.
Tiket pertunjukan seharga Rp10.000 yang disubsidi Pemprov DKI Jakarta selalu habis terjual dalam sekejap. Bahkan, banyak masyarakat yang berebut untuk mendapatkannya.

"Sebetulnya kalau kita bicaranya berdasarkan kajian dari investasi yang dilakukan, minimumnya adalah Rp35.000,00 sampai dengan Rp50.000,00. Cuma kan karena ini programnya Pemprov, dari Pak Gubernur juga minta untuk semuanya disubsidi dari Pemprov," katanya.
Lonjakan permintaan ini memicu kegilaan war tiket di dunia maya. Anya kerap mendapati laporan tentang orang tua yang 'fomo'.
Mereka nekat memberikan data pribadi sensitif seperti KTP, KK, hingga alamat email kepada penyedia jasa titip tidak dikenal. Ini demi mengamankan tiket menonton di Planetarium Jakarta.
"Mbok ya sabar, jangan nyoba-nyoba beli tiket dari calolah, nitip 'jastip war'. Itu kan sebenarnya kerugiannya di si pengunjung. Dia punya anak-anak yang kemarin belum punya kartu pelajar, sampai kartu keluarganya dikasihin."
Daya tarik teater bintang buatan ini bahkan meluas hingga ke luar kota. Ibu Zidni, guru SMA Darul Hikam Bandung, membawa murid-muridnya menempuh perjalanan jauh ke Jakarta demi mengunjungi Planetarium.
"Di Bandung nggak ada, jadi kita ke sini. Kalau Bosscha itu sulit untuk reservasi dan itu memang 'war' juga. Jadi kita ambil ini karena di Bandung tidak ada 'experience' seperti ini, untuk menonton khusus untuk astronomi," kata Ibu Zidni yang ditemui RRI usai menyaksikan pertunjukan di Planetarium Jakarta, Selasa, 7 April 2026.
Di dalam kubah teater bintang berkapasitas 200 kursi itu, seorang ibu asal Bintaro meluapkan kekaguman dan rasa nostalgianya. Hesti dahulu sering mengunjungi Planetarium dalam kegiatan 'study tour' sekolah semasa kecilnya.
Ia kini membawa serta dua putrinya yang berusia remaja untuk menonton bersama. Anak-anaknya mengakui suka dengan visualisasi digital yang disajikan Planetarium Jakarta.

Namun, Hesti tidak bisa menyembunyikan rasa kehilangan akan keajaiban mekanis Starball. Ia juga merindukan kursi berputar di masa lalu yang kini digantikan kursi searah mirip bioskop.
"Dulu berasa banget kalau kita sebagai anak kecil, terasa banget yang namanya kagumnya tentang semesta. Cuman kalau tadi masih kurang. Apa mungkin karena gue sudah dewasa juga, ya?" kata Hesti.
Perbedaan tersebut tidak mengurangi kenikmatan penonton saat berada di dalam teater bintang Planetarium Jakarta. Saat lampu padam, keriuhan di dalam kubah ini baru saja dimulai.
"Halo semuanya, selamat datang di Planetarium, Sahabat Langit..." menjadi pengantar cerita malam itu. Detik berikutnya, tepuk tangan membahana, petualangan menembus ruang dan waktu pun dimulai.
Penonton seolah ditarik melintasi sejarah kosmik 4,6 miliar tahun lalu. Di atas kepala mereka, nebula raksasa yang runtuh akibat gelombang kejut supernova ditunjukkan.
Mereka juga menjadi tahu bahwa Bumi pada 4,5 miliar tahun lalu itu masih berupa bola magma panas. Jari-jari mungil anak-anak sesekali terangkat ke atas, mencoba mencerna apa yang dilihatnya.
"Aurora itu apa?" tanya salah seorang anak perempuan kepada ibunya ketika narasi menceritakan aurora diimbuhi tampilan bentangan gugusan bintang-bintang di atas mereka.
Pertunjukan ini menjadi satu-satunya cara bagi warga Jakarta mengintip kembali megahnya bintang-bintang yang hilang di langit malam.
|
Selanjutnya,
Salat zuhur berjamaah
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....