Kubaca Semesta dari Planetarium Cikini Jakarta
- 30 Mei 2026 01:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
Karpet hijau tua di Masjid Al-Fauz membentang rata. Sementara, bekas-bekas dahi dan telapak tangan lamat-lamat terlihat di tempat sujudnya.
Di sini, setiap manusia, tanpa memandang derajat, rupa, maupun keterbatasan fisik, meletakkan dahi-dahinya di tempat yang sama. Ruang ini seolah ingin menyampaikan makna kesetaraan dalam banyak hal, termasuk memahami keindahan semesta dan rahasia bintang-gemintang.
Filosofi inklusivitas inilah yang mendorong Yudhiakto Pramudya mendobrak batasan fisik dari "langit yang tak terlihat". Ia merupakan anggota senior HAAJ yang kini mendedikasikan dirinya sebagai dosen Fisika di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.
Ia menjawab pertanyaan Nurdin mengenai bagaimana cara mengajarkan matahari dan bulan kepada penyandang tunanetra. Bukan hanya sekadar tataran konsep, Yudhi membuktikannya melalui studi yang ditekuninya di Yogyakarta.
"Jadi secara umum itu kan kalau kita berbicara pendidikan itu harus inklusif, artinya pendidikan itu harus melibatkan semuanya. Dan lawannya adalah eksklusif ya, eksklusif itu ya mengkhususkan seseorang," kata Yudhi saat dihubungi melalui saluran telepon, Sabtu, 9 Mei 2026.
"Tapi kalau inklusif kan kita harus merangkul semuanya. Jadi tidak hanya yang berkebutuhan khusus, tapi juga yang marjinal, yang dari segi ekonomi maupun di daerah tertinggal, terluar, segala macamnya," ucapnya.
"Astronomi itu ilmu yang menggunakan mata, pakai teleskop. Tapi, kita menyasar ke teman-teman yang kehilangan indra penglihatannya, yaitu buta, atau tunanetra. Nah, itu maka akan timbul pertanyaan kan, 'Lho bagaimana caranya?'" kata Yudhi yang terinspirasi oleh karya pionir Norine Grice.

Ia membangun metode khusus untuk menjembatani ilmu astronomi yang sangat mengandalkan mata dengan kegelapan yang dialami para tunanetra. Yudhi merancang metode 'Tactile Astronomy' (astronomi rabaan) saat menempuh studi doktoral di Amerika Serikat.
Yudhi kemudian bekerja sama dengan anak-anak tunanetra dari Komunitas Mata Hati di Surabaya. Mereka mulai memproduksi gambar-gambar objek langit timbul ('tactile'/'emboss').
Melalui permukaan kertas bertekstur timbul tersebut, jemari anak-anak tunanetra dapat meraba dan menyapukan tangan mereka. Dari pengalaman ini mereka dapat "melihat" bentuk spiral galaksi, letupan suar matahari, kawah-kawah Bulan, hingga sabuk planet luar.
Tantangan berikutnya adalah mengenalkan instrumen pengamatan itu sendiri. Teleskop asli, pada dasarnya, merupakan perangkat optik sensitif yang tidak boleh disentuh sembarangan demi menghindari jamur dan kotoran.
"Jadi, namanya penelitian kan harus membuat. Kami membuat teleskop yang memang tidak bisa digunakan melihat bintang segala macam, nggak," katanya.
"(Teleskop yang dibuat ini-red) memang untuk alat peraga, sehingga mereka mengetahui, setidaknya mereka belajar, ini lho bagian-bagian teleskop dan juga arah-arahnya. Cahaya itu bagaimana masuk dari langit, masuk ke teleskop, dan sampai ke mata," katanya.
Gelapnya malam tidak hanya mengisolasi mereka yang kehilangan indra penglihatan. Teman-teman tunarungu pun menghadapi tembok penghalang yang semirip.

Mereka dapat menatap bintang dengan jelas, namun keterbatasan kosakata membuat mereka kesulitan mendiskusikannya. Yudhiakto menyadari perlunya mengajar atau mengomunikasikan sains kepada teman-teman tunarungu dengan bahasa isyarat yang memiliki kosakata yang tepat.
Baginya, keterbatasan ini menjadi peluang penelitian untuk mengembangkan bahasa isyarat dengan banyak kosakata sains, khususnya astronomi, di Indonesia. Ia pun melanjutkan kontribusinya hingga sains benar-benar merengkuh semua jiwa tanpa kecuali.
"'No students left behind', tidak ada siswa yang ditinggalkan. Jangan karena mereka tidak bisa melihat, maka kesempatan untuk belajar astronomi itu tidak kita berikan," kata Yudhi.
"Jangan sampai seperti itu. Semua berhak. Makanya semesta itu untuk semua,” ujarnya dengan nada dalam dan tegas.
Hasilnya pun terlihat dari kerja sama antara Pusat Studi Astronomi UAD dengan SMA Tumbuh di Yogyakarta. Menurutnya, sekolah inklusif ini telah berhasil melatih anak-anak autisme untuk memandu jalannya kunjungan astronomi.
“Jadi bisa bayangkan, mereka autis memandu astronomi, memandu kunjungan di observatorium untuk teman-teman autis juga. Jadi Anda bisa bayangkan spektrumnya autis memandu teman-teman autis,” kata Yudhiakto.
|
Selanjutnya,
Perjalanan astronomi di Jakarta
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....