Kubaca Semesta dari Planetarium Cikini Jakarta

  • 30 Mei 2026 01:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Jejak basah tapak-tapak kaki usai berwudu membekas saat melangkah masuk ke dalam Masjid Al-Fauz. Masjid "Kemenangan" ini berada di kompleks Kantor Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat.

Di teras sebelah kiri, sebuah replika Al-Qur’an raksasa berukuran satu kali satu meter dipajang. Di sini, Ketua Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) Muhammad Rezky tengah menyelonjorkan kakinya di samping tangga masuk masjid.

Terik matahari siang itu memang seolah menepuk ubun-ubun dan pundak banyak orang, mengingatkan mereka untuk mencari tempat berteduh. Jarum jam menunjukkan pukul 13.30 WIB ketika RRI bertemu Rezky pada Selasa, 28 April 2026.

Kami pun kemudian pindah ke bagian dalam masjid untuk sekadar mendapatkan embusan angin sepoi-sepoi dari kipas helikopter. Ubin keramik krem 40x40 sentimeter yang ditutupi karpet hijau tua lembut bercorak garis saf menjadi tempat duduk kami.

Sebagai orang yang memimpin organisasi komunitas sukarela, Rezky memiliki bekal akademis yang kokoh di bidang astronomi. Pria lulusan Astronomi Komputasi di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 selama delapan tahun.

"Kami adalah komunitas publik yang berbasis di Planetarium dan Observatorium Jakarta, berdiri pada 21 April 1984. Jadi tahun ini kami berumur 42 tahun," kata Rezky yang dipercaya memimpin HAAJ sejak tahun 2025.

Ketua Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) Muhammad Rezky. (Foto: RRI/Danang Sundoro)

"Dan kami ini adalah komunitas yang mengumpulkan masyarakat yang memiliki hobi astronomi, baik itu yang memang senang pengamatan, senang belajar, atau pun sering kali juga sekadar, 'Oh, ada anak kecil yang tahu astronomi tapi orang tuanya pusing untuk ngejawabnya', (mereka-red) titip ke HAAJ, gitu," katanya, usai kami mendapatkan tempat bersila yang nyaman.

Rezky merupakan analis data di sebuah perusahaan logistik di Jakarta. Meski kegiatannya berkutat dengan angka, jiwanya tetap terikat pada langit malam.

Sebagai salah satu komunitas astronomi amatir tertua di Indonesia, HAAJ bertindak sebagai perpanjangan tangan edukasi dari Planetarium Jakarta. Void di bawah kubah bujur sangkar masjid seolah turut menjadi pendengar saat Rezky menceritakan sejarah terbentuknya komunitas ini.

Semuanya bermula dari ketakjuban masyarakat setelah menyaksikan fenomena Gerhana Matahari Total pada tahun 1983. Kampanye masif bahwa fenomena ini bukan hal menakutkan, menarik minat besar masyarakat terhadap ilmu astronomi.

"Mungkin juga sempat dengar, ya. 'Oh ada... mistis, ibu hamil nggak boleh lihat gerhana, harus sembunyi di bawah kasur,' gitu. Atau, 'Anak-anak jangan melihat,' gitu."

Minat tersebut semakin membesar saat menyambut kedatangan Komet Halley yang melintasi Bumi pada tahun 1986. Ini membuat para pustakawan di Planetarium Jakarta berinisiatif mendirikan kelompok belajar yang kini dikenal sebagai HAAJ.

"Pada tahun 1986 tersebut, kami membuat pengamatan Komet Halley di Buperta Cibubur. Kalau nggak salah mencapai 1.000 peserta," katanya.

"Sejak itu kami jadinya semacam diandalkanlah untuk membantu secara teknis dan juga secara 'skill' astronomi. (Ini termasuk-red) kegiatan publik yang dilaksanakan oleh Planetarium dan Observatorium Jakarta. Sampai sekarang."

Ruang pandang kami kemudian mengarah ke kubah Masjid Al Fauz. Melihatnya seolah melihat ruang di dalam kubah Planetarium versi sangat mini di masjid ini.

Replika Al-Qur’an raksasa Masjid Al-Fauz di kompleks Kantor Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat. (Foto: RRI/Nugroho)

Dahulu, lahan luas yang kini menjadi Taman Ismail Marzuki dan Planetarium adalah Kebun Binatang Cikini. Ia milik pelukis legendaris Raden Saleh, sebelum akhirnya satwa-satwa di sana dipindahkan ke Kebun Binatang Ragunan.

Di lahan kosong pasca-pemindahan itulah, gagasan pendirian sebuah kuil bintang di Cikini tercetus. Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, memiliki visi yang sangat maju setelah melakukan kunjungan kerja di luar negeri.

"Bapak Ir. Soekarno ini punya visi setelah melihat beberapa fasilitas planetarium di luar negeri. Beliau ingin membuat sebuah planetarium yang waktu itu, di pidatonya beliau, saat peletakan batu pertama adalah, ingin membuat masyarakat Indonesia terjauh dari fiksi-fiksi mitologi yang sesat dan ingin belajar sains secara seutuhnya."

Terlebih pada era 1960-an, dunia sedang berada di puncak perlombaan antariksa antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Sempat terbengkalai pasca-pergolakan politik tahun 1965, proyek ini dilanjutkan dan diresmikan Gubernur Ali Sadikin pada 10 November 1968.

Pada awal berdirinya, Planetarium Jakarta hanya berupa sebuah kubah tunggal tanpa dikelilingi bangunan-bangunan lain seperti sekarang. Rezky menceritakan arsip foto-foto sejarah masa lalu yang dilihatnya, ruang teater bintang bahkan belum memiliki kursi sama sekali.

Anak-anak sekolah dan masyarakat umum duduk langsung di atas lantai. Mereka mendongak ke atas kubah untuk menyaksikan simulasi peta bintang yang diproyeksikan oleh alat optik buatan Jerman.

Seiring berjalannya waktu, modernisasi teknologi terus dilakukan untuk menjaga kualitas edukasi. Proyektor optik generasi pertama, Universarium Mark VII buatan produsen optik legendaris Carl Zeiss, diganti dengan versi lebih mutakhir.

Universarium Mark VIII pun mulai digunakan pada tahun 1996. Layar kubah diganti, dan tata letak kursi disesuaikan demi kenyamanan pengunjung.

Penonton di dalam teater bintang Planetarium Jakarta dan di tengahnya terdapat proyektor 'Carl Zeiss Starball' yang kini tidak difungsikan. (Foto: RRI/Nugroho)

Era keemasan proyektor bintang legendaris tersebut kini berakhir karena sudah melampaui masa pakai. Pertunjukan astronomi interaktif kini digantikan sistem yang berbeda.

"Jadi kalau kita ngomongin ada versi Planetarium, mungkin ini versi Planetarium ketiga."

Dan, pada Selasa, 23 Desember 2025, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan langsung tempat eduwisata tersebut. Pramono berharap seluruh elemen masyarakat memperoleh manfaat maksimal dari pembukaan kembali tempat tersebut.

“Dengan dibukanya kembali Planetarium TIM, kami berharap tempat ini tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga menjadi wadah pengembangan kebudayaan dan edukasi bagi generasi muda,” kata Pramono.

“Setelah lebih dari 13 tahun, sejak 2012, Planetarium yang digagas oleh Bang Ali Sadikin, alhamdulillah hari ini bisa kita hidupkan kembali,” ujarnya.

“Dulu ketika saya kecil, fasilitasnya belum sebagus sekarang. Dengan tambahan teknologi AI Gubernur dan Wagub, pengunjung akan mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dan lebih menarik,” katanya.

Dia juga meresmikan program pemberian akses masuk gratis bagi para pelajar untuk masa tiga bulan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....