Kubaca Semesta dari Planetarium Cikini Jakarta

  • 30 Mei 2026 01:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Di luar Masjid Al-Fauz

RRI.CO.ID, Jakarta - Jejak basah tapak-tapak kaki usai berwudu membekas saat melangkah masuk ke dalam Masjid Al-Fauz. Masjid "Kemenangan" ini berada di kompleks Kantor Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat.

Di teras sebelah kiri, sebuah replika Al-Qur’an raksasa berukuran satu kali satu meter dipajang. Di sini, Ketua Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) Muhammad Rezky tengah menyelonjorkan kakinya di samping tangga masuk masjid.

Terik matahari siang itu memang seolah menepuk ubun-ubun dan pundak banyak orang, mengingatkan mereka untuk mencari tempat berteduh. Jarum jam menunjukkan pukul 13.30 WIB ketika RRI bertemu Rezky pada Selasa, 28 April 2026.

Kami pun kemudian pindah ke bagian dalam masjid untuk sekadar mendapatkan embusan angin sepoi-sepoi dari kipas helikopter. Ubin keramik krem 40x40 sentimeter yang ditutupi karpet hijau tua lembut bercorak garis saf menjadi tempat duduk kami.

Sebagai orang yang memimpin organisasi komunitas sukarela, Rezky memiliki bekal akademis yang kokoh di bidang astronomi. Pria lulusan Astronomi Komputasi di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 selama delapan tahun.

"Kami adalah komunitas publik yang berbasis di Planetarium dan Observatorium Jakarta, berdiri pada 21 April 1984. Jadi tahun ini kami berumur 42 tahun," kata Rezky yang dipercaya memimpin HAAJ sejak tahun 2025.

Ketua Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) Muhammad Rezky. (Foto: RRI/Danang Sundoro)

"Dan kami ini adalah komunitas yang mengumpulkan masyarakat yang memiliki hobi astronomi, baik itu yang memang senang pengamatan, senang belajar, atau pun sering kali juga sekadar, 'Oh, ada anak kecil yang tahu astronomi tapi orang tuanya pusing untuk ngejawabnya', (mereka-red) titip ke HAAJ, gitu," katanya, usai kami mendapatkan tempat bersila yang nyaman.

Rezky merupakan analis data di sebuah perusahaan logistik di Jakarta. Meski kegiatannya berkutat dengan angka, jiwanya tetap terikat pada langit malam.

Sebagai salah satu komunitas astronomi amatir tertua di Indonesia, HAAJ bertindak sebagai perpanjangan tangan edukasi dari Planetarium Jakarta. Void di bawah kubah bujur sangkar masjid seolah turut menjadi pendengar saat Rezky menceritakan sejarah terbentuknya komunitas ini.

Semuanya bermula dari ketakjuban masyarakat setelah menyaksikan fenomena Gerhana Matahari Total pada tahun 1983. Kampanye masif bahwa fenomena ini bukan hal menakutkan, menarik minat besar masyarakat terhadap ilmu astronomi.

"Mungkin juga sempat dengar, ya. 'Oh ada... mistis, ibu hamil nggak boleh lihat gerhana, harus sembunyi di bawah kasur,' gitu. Atau, 'Anak-anak jangan melihat,' gitu."

Minat tersebut semakin membesar saat menyambut kedatangan Komet Halley yang melintasi Bumi pada tahun 1986. Ini membuat para pustakawan di Planetarium Jakarta berinisiatif mendirikan kelompok belajar yang kini dikenal sebagai HAAJ.

"Pada tahun 1986 tersebut, kami membuat pengamatan Komet Halley di Buperta Cibubur. Kalau nggak salah mencapai 1.000 peserta," katanya.

"Sejak itu kami jadinya semacam diandalkanlah untuk membantu secara teknis dan juga secara 'skill' astronomi. (Ini termasuk-red) kegiatan publik yang dilaksanakan oleh Planetarium dan Observatorium Jakarta. Sampai sekarang."

Ruang pandang kami kemudian mengarah ke kubah Masjid Al Fauz. Melihatnya seolah melihat ruang di dalam kubah Planetarium versi sangat mini di masjid ini.

Replika Al-Qur’an raksasa Masjid Al-Fauz di kompleks Kantor Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat. (Foto: RRI/Nugroho)

Dahulu, lahan luas yang kini menjadi Taman Ismail Marzuki dan Planetarium adalah Kebun Binatang Cikini. Ia milik pelukis legendaris Raden Saleh, sebelum akhirnya satwa-satwa di sana dipindahkan ke Kebun Binatang Ragunan.

Di lahan kosong pasca-pemindahan itulah, gagasan pendirian sebuah kuil bintang di Cikini tercetus. Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, memiliki visi yang sangat maju setelah melakukan kunjungan kerja di luar negeri.

"Bapak Ir. Soekarno ini punya visi setelah melihat beberapa fasilitas planetarium di luar negeri. Beliau ingin membuat sebuah planetarium yang waktu itu, di pidatonya beliau, saat peletakan batu pertama adalah, ingin membuat masyarakat Indonesia terjauh dari fiksi-fiksi mitologi yang sesat dan ingin belajar sains secara seutuhnya."

Terlebih pada era 1960-an, dunia sedang berada di puncak perlombaan antariksa antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Sempat terbengkalai pasca-pergolakan politik tahun 1965, proyek ini dilanjutkan dan diresmikan Gubernur Ali Sadikin pada 10 November 1968.

Pada awal berdirinya, Planetarium Jakarta hanya berupa sebuah kubah tunggal tanpa dikelilingi bangunan-bangunan lain seperti sekarang. Rezky menceritakan arsip foto-foto sejarah masa lalu yang dilihatnya, ruang teater bintang bahkan belum memiliki kursi sama sekali.

Anak-anak sekolah dan masyarakat umum duduk langsung di atas lantai. Mereka mendongak ke atas kubah untuk menyaksikan simulasi peta bintang yang diproyeksikan oleh alat optik buatan Jerman.

Seiring berjalannya waktu, modernisasi teknologi terus dilakukan untuk menjaga kualitas edukasi. Proyektor optik generasi pertama, Universarium Mark VII buatan produsen optik legendaris Carl Zeiss, diganti dengan versi lebih mutakhir.

Universarium Mark VIII pun mulai digunakan pada tahun 1996. Layar kubah diganti, dan tata letak kursi disesuaikan demi kenyamanan pengunjung.

Penonton di dalam teater bintang Planetarium Jakarta dan di tengahnya terdapat proyektor 'Carl Zeiss Starball' yang kini tidak difungsikan. (Foto: RRI/Nugroho)

Era keemasan proyektor bintang legendaris tersebut kini berakhir karena sudah melampaui masa pakai. Pertunjukan astronomi interaktif kini digantikan sistem yang berbeda.

"Jadi kalau kita ngomongin ada versi Planetarium, mungkin ini versi Planetarium ketiga."

Dan, pada Selasa, 23 Desember 2025, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan langsung tempat eduwisata tersebut. Pramono berharap seluruh elemen masyarakat memperoleh manfaat maksimal dari pembukaan kembali tempat tersebut.

“Dengan dibukanya kembali Planetarium TIM, kami berharap tempat ini tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga menjadi wadah pengembangan kebudayaan dan edukasi bagi generasi muda,” kata Pramono.

“Setelah lebih dari 13 tahun, sejak 2012, Planetarium yang digagas oleh Bang Ali Sadikin, alhamdulillah hari ini bisa kita hidupkan kembali,” ujarnya.

“Dulu ketika saya kecil, fasilitasnya belum sebagus sekarang. Dengan tambahan teknologi AI Gubernur dan Wagub, pengunjung akan mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dan lebih menarik,” katanya.

Dia juga meresmikan program pemberian akses masuk gratis bagi para pelajar untuk masa tiga bulan.

Salat zuhur berjamaah

Di luar Masjid Al-Fauz, terik matahari siang itu perlahan-lahan bergeser, namun udara panas Jakarta masih terasa memanggang. Di dalam masjid, embusan kipas helikopter masih setia memberikan kenyamanan bagi kami yang bersila di karpet hijau tua.

Masjid ini tanpa disengaja menjadi pilihan RRI bersua setelah batalnya pertemuan di Planetarium karena padatnya agenda Rezky. Namun, makna filosofis dibalik tempat ini justru memberikan kedalaman arti bagi langit Jakarta dan para pemburu bintang.

Memandang ke luar masjid, bentangan langit biru Jakarta tersaput awan pucat, menyelimuti cerahnya siang hari itu. Namun sebaliknya, saat malam menjelang, gemerlap cahaya kota justru menjadi selimut kota megapolitan yang tak pernah tidur ini.

Berdasarkan tangkapan layar situs Light Pollution Map pada koordinat Jakarta, kondisi langit malam berada pada tingkat Bortle 9.0. Angka ini menunjukkan skala polusi cahaya yang maksimum dengan tingkat kecerahan SQM hanya 17.63 mpsas.

Akibatnya, galaksi Bima Sakti tidak akan pernah lagi terlihat dari pusat kota. Sementara, jumlah bintang yang bisa ditangkap mata telanjang kurang dari 200 saja.

Tren polusi cahaya dari tahun 2012 ke 2026 menunjukkan langit Jakarta juga terus mengalami pemburukan secara konsisten. Dari sebelumnya berada pada skala Bortle 8.4, kota ini menuju kegelapan semu di angka 9.0.

Rezky menyadari kesunyian malam yang murni telah lenyap, digantikan pendar lampu jalan dan gedung-gedung tinggi. Kehadiran kembali Planetarium Jakarta pasca-revitalisasi akhir Desember 2025 memang membawa angin segar bagi warga yang haus akan sains.

Masjid Al-Fauz di kompleks Kantor Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat. (Foto: RRI/Nugroho)

Namun, Rezky mengakui ada perbedaan mendasar antara masa lalu dan sekarang. Ia secara langsung merujuknya pada jiwa pertunjukan teater bintang di Planetarium Jakarta.

"Planetarium yang dulu itu kan dikendalikan seorang edukator yang mengoperasikan secara langsung dengan cerita. Jadi, narasi diskusi 'live', gitu. Nah, sekarang modelnya saya lihat memang adalah pertunjukan ter-'script' gitu ya."

Penjelasan Rezky mengenai perubahan jiwa pertunjukan teater bintang tersebut diamini pihak pengelola. Anya Aprilia Christiana, Kepala Unit Usaha TIM dari PT Jakarta Propertindo (Jakpro), membeberkan kenyataan itu.

Proyektor optik berbentuk bola ganda 'Carl Zeiss Starball' buatan Jerman tersebut kini rusak setelah puluhan tahun menjadi primadona. Sebagian terutama di sisi utara yang mengalami 'blank' dan tidak bisa lagi memproyeksikan bintang secara sempurna.

"Kita sudah coba saat itu menghubungi pihak Carl Zeiss, kondisinya sudah 'discontinue', bahkan 'engineer'-nya aja udah tinggal satu orang karena yang lainnya sudah meninggal. Sempat kita waktu itu pernah mau memperbaiki, bahkan tidak ada jaminan kalau kami kirim ke sana ke tempat asalnya itu akan kembali dengan kondisi yang prima dan baik. Jadi memang kesulitannya di situ," kata Anya saat RRI temui di ruang kerjanya di Planetarium Jakarta, Selasa, 7 April 2026.

Demi menjaga agar edukasi astronomi tidak terhenti, Jakpro beralih ke teknologi imersif digital. Mereka memasang 12 proyektor di sepanjang pinggiran kubah.

Namun, sistem digital ini menuntut biaya operasional yang sangat tinggi. Jakpro harus membeli lisensi film astronomi dari Amerika Serikat atau Spanyol dengan biaya melebihi Rp500 juta per film.

Itu pun hanya berlaku selama satu tahun. Anya mengakui ia masih menghadapi kendala dalam mencari kreator konten lokal.

Ini karena kontennya harus mampu memadukan akurasi kerumitan sains astronomi dengan kekuatan cerita visual yang menarik bagi anak-anak. Meskipun digantikan film digital satu arah, minat warga Jakarta untuk mengintip semesta buatan tidak pernah surut.

Tiket pertunjukan seharga Rp10.000 yang disubsidi Pemprov DKI Jakarta selalu habis terjual dalam sekejap. Bahkan, banyak masyarakat yang berebut untuk mendapatkannya.

Anya Aprilia Christiana, Kepala Unit Usaha TIM dari PT Jakarta Propertindo (Jakpro). (Foto: RRI/Danang Sundoro)

"Sebetulnya kalau kita bicaranya berdasarkan kajian dari investasi yang dilakukan, minimumnya adalah Rp35.000,00 sampai dengan Rp50.000,00. Cuma kan karena ini programnya Pemprov, dari Pak Gubernur juga minta untuk semuanya disubsidi dari Pemprov," katanya.

Lonjakan permintaan ini memicu kegilaan war tiket di dunia maya. Anya kerap mendapati laporan tentang orang tua yang 'fomo'.

Mereka nekat memberikan data pribadi sensitif seperti KTP, KK, hingga alamat email kepada penyedia jasa titip tidak dikenal. Ini demi mengamankan tiket menonton di Planetarium Jakarta.

"Mbok ya sabar, jangan nyoba-nyoba beli tiket dari calolah, nitip 'jastip war'. Itu kan sebenarnya kerugiannya di si pengunjung. Dia punya anak-anak yang kemarin belum punya kartu pelajar, sampai kartu keluarganya dikasihin."

Daya tarik teater bintang buatan ini bahkan meluas hingga ke luar kota. Ibu Zidni, guru SMA Darul Hikam Bandung, membawa murid-muridnya menempuh perjalanan jauh ke Jakarta demi mengunjungi Planetarium.

"Di Bandung nggak ada, jadi kita ke sini. Kalau Bosscha itu sulit untuk reservasi dan itu memang 'war' juga. Jadi kita ambil ini karena di Bandung tidak ada 'experience' seperti ini, untuk menonton khusus untuk astronomi," kata Ibu Zidni yang ditemui RRI usai menyaksikan pertunjukan di Planetarium Jakarta, Selasa, 7 April 2026.

Di dalam kubah teater bintang berkapasitas 200 kursi itu, seorang ibu asal Bintaro meluapkan kekaguman dan rasa nostalgianya. Hesti dahulu sering mengunjungi Planetarium dalam kegiatan 'study tour' sekolah semasa kecilnya.

Ia kini membawa serta dua putrinya yang berusia remaja untuk menonton bersama. Anak-anaknya mengakui suka dengan visualisasi digital yang disajikan Planetarium Jakarta.

Pengunjung Planetarium Jakarta mengantre untuk masuk ke dalam teater bintang. (Foto: RRI/Nugroho)

Namun, Hesti tidak bisa menyembunyikan rasa kehilangan akan keajaiban mekanis Starball. Ia juga merindukan kursi berputar di masa lalu yang kini digantikan kursi searah mirip bioskop.

"Dulu berasa banget kalau kita sebagai anak kecil, terasa banget yang namanya kagumnya tentang semesta. Cuman kalau tadi masih kurang. Apa mungkin karena gue sudah dewasa juga, ya?" kata Hesti.

Perbedaan tersebut tidak mengurangi kenikmatan penonton saat berada di dalam teater bintang Planetarium Jakarta. Saat lampu padam, keriuhan di dalam kubah ini baru saja dimulai.

"Halo semuanya, selamat datang di Planetarium, Sahabat Langit..." menjadi pengantar cerita malam itu. Detik berikutnya, tepuk tangan membahana, petualangan menembus ruang dan waktu pun dimulai.

Penonton seolah ditarik melintasi sejarah kosmik 4,6 miliar tahun lalu. Di atas kepala mereka, nebula raksasa yang runtuh akibat gelombang kejut supernova ditunjukkan.

Mereka juga menjadi tahu bahwa Bumi pada 4,5 miliar tahun lalu itu masih berupa bola magma panas. Jari-jari mungil anak-anak sesekali terangkat ke atas, mencoba mencerna apa yang dilihatnya.

"Aurora itu apa?" tanya salah seorang anak perempuan kepada ibunya ketika narasi menceritakan aurora diimbuhi tampilan bentangan gugusan bintang-bintang di atas mereka.

Pertunjukan ini menjadi satu-satunya cara bagi warga Jakarta mengintip kembali megahnya bintang-bintang yang hilang di langit malam.

Karpet hijau tua

Salat zuhur berjamaah telah lama usai, menyisakan ruang tengah yang lengang di bawah kubah bujur sangkar dan mihrabnya. Bagi umat manusia, arah adalah salah satu panduan hidup yang paling mendasar.

Di dalam Masjid Al-Fauz, simbolisasi arah tersebut diwujudkan melalui keberadaan mihrabnya yang menyerupai bentuk mata anak panah. Sisi-sisinya dihiasi ornamen bintang segi delapan berlafadz Allah dan Muhammad SAW.

Mihrab ini bertindak sebagai kompas untuk bersujud bagi setiap muslim yang menetapkan ke mana arah kiblat mereka. Namun, jauh sebelum navigasi modern diciptakan, leluhur manusia telah menggunakan "mihrab raksasa" di kubah langit malam.

Mereka menggunakan bintang-bintang di langit sebagai penunjuk arah kehidupan mereka. Penjelasan ini yang disampaikan Nurdiansyah, yang akrab disapa Nurdin, pada Sabtu, 18 April 2026.

Nurdin menerangkan, manusia purba sudah menggunakan pengamatan langit malam tanpa bantuan teknologi untuk menentukan arah hadap dan navigasinya. Salah satu contohnya adalah bagaimana nelayan-nelayan tradisional menggunakan gugusan bintang tertentu sebagai pemandu jalan untuk pulang.

"Nah, kita (di belahan Bumi selatan-red) kan Orion. Orion jadi kompas langit. Jadi kalau misal nelayan kesasar, dengan rasi bintang itu kita bisa tahu arah pulang," kata Nurdin usai memberikan materi seminar astronomi publik HAAJ di salah satu ruangan Planetarium Jakarta.

Nurdin merupakan praktisi IT yang mendedikasikan waktu senggangnya untuk astrofotografi. Ia telah berkecimpung di dunia astronomi selama 25 tahun di HAAJ ini.

Mihrab Masjid Al-Fauz. (Foto: RRI/Nugroho)

Nurdin juga memahami bahwa ketertarikan publik pada astronomi sering kali berawal dari 'pencerahan' manusia saat menatap semesta mahaluas. Ia membuktikan hasrat mempelajari astronomi bisa tumbuh di luar jalur akademis formal ITB yang hanya menghasilkan sedikit lulusan.

Nurdin sendiri merupakan contoh nyata dari semangat individu yang mencoba memahami langit dan menjadi astronom amatir. Ia telah mengamati hampir seluruh objek langit dan andal mengoperasikan teleskop observatorium Jakarta.

"Ini contoh dari ekspedisi aku ngerasain empat jenis gerhana Matahari: sebagian, total, cincin sama hibrida. Bahkan pernah ngerasain juga ngamatin gerhana Matahari di laut," katanya.

"Selama ini kan kalau kalian ngamatin Matahari kan di darat. Bagaimana cara ngamatinnya di tengah laut?"

"Kebetulan ini, Pulau Kisar, tempatnya KRI dr. Soeharso Kapal Rumah Sakit TNI AL, dia tugasnya buat meneliti bawah laut, buat peta arus laut. Nah karena kebetulan dia (kapalnya berada-red) di Gunung Laut, jalurnya berpotongan sama jalur gerhana, makanya dia minta astronom untuk ikut."

"Karena kebanyakan astronom profesional pada ngamatin di darat. Nah, aku dapat rekomendasi dari kepala Observatorium Bosscha untuk mewakili astronom bergabung sama peneliti di Pulau Kisar," kata Nurdin membagikan pengalamannya.

Bahkan dengan kapasitas yang dimilikinya sebagai astronom amatir, ia turut membagikan informasi terkait prediksi gerhana lain. Tahun 2027 dan 2028 akan menjadi momen menarik bagi para pemburu gerhana.

"Gerhana yang paling dekat nanti akan ada 2027. Jadi teman-teman yang nanti barangkali ada rencana umrah, nah itu pas umrah pas gerhana di Ka'bah."

"Lintasannya melewati Makkah dan Mesir, jadi pas di Piramida Giza. Nah, itu gerhananya di situ tahun 2027."

"(Untuk tahun-red) 2028, bagi yang (terlewat momen-red) 2027, mau mengejar (gerhana-red), dapatnya sebagian tapi, mengambilnya di Pulau Enggano di Bengkulu."

Meskipun demikian, ia mengakui tidak memiliki satu pun teropong pribadi di rumahnya. Baginya, astronomi adalah gerbang sains yang paling ramah untuk membuka cakrawala berpikir masyarakat awam.

"Dalam filsafat (ada diceritakan-red), dengan dua alat, yaitu teleskop dan mikroskop, tolong ajarkan si bodoh itu membuka makna duniawi. Karena kenapa?" katanya membagikan kisah bermakna mendalam.

"Dengan teleskop kalian bisa melihat benda yang sangat besar yang pernah diciptakan sama Pencipta. Dengan mikroskop kita bisa melihat benda yang sangat-sangat kecil yang pernah diciptakan oleh sang Pencipta."

Nurdiansyah sedang berdiskusi dengan sejumlah pengembang perangkat lunak muda dari 'Apple Developer Academy'. (Foto: RRI/Nugroho)

Melalui HAAJ, Nurdin membuktikan bahwa para astronom amatir mampu melahirkan kerja ilmiah yang berdampak luas bagi publik. Pada tahun 2015, ia membimbing siswa SMA 38 Jakarta dalam penelitian astrobiologi lomba Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).

Penelitian tersebut menguji perilaku lalat buah, lalat kandang, dan lalat hijau dalam simulasi mikrogravitasi menggunakan tabung jatuh. Kesimpulan penelitian tersebut menegaskan gaya gravitasi bumi merupakan komponen sensorik mutlak bagi stabilitas terbang serangga.

Lomba tersebut diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang kini menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Penelitian yang diajukan siswi SMAN 38 Jakarta bernama Farras Nabila Puspita ini berhasil menjadi finalis.

Lomba ini juga merupakan ajang kompetisi penelitian remaja tertua, paling ketat, dan paling kompetitif di Indonesia. Dari ribuan proposal penelitian yang masuk dari seluruh sekolah menengah di Indonesia, hanya belasan proposal terbaik per kategori yang dipilih.

Selain itu, simbiosis ilmu perbintangan ini juga bahkan meluas hingga ke bidang arkeologi. Nurdin menceritakan bagaimana mahasiswa arkeologi Universitas Indonesia ikut mempelajari relief dan arsitektur purba Candi Borobudur.

Mereka mencoba menyingkap apakah bangunan suci tersebut sengaja didirikan sejajar dengan patokan arah rasi bintang tertentu di langit. Baginya, setiap orang dengan rasa ingin tahu yang besar untuk mengamati semesta, pada dasarnya layak menyandang sebutan astronom.

"Jadi kami yang latar belakangnya suka sama astronomi, kita bisa disebut astronom (amatir-red). Tapi kapan itu bisa diakui? Kan kalau misalnya kita profesional, (kita-red) harus lulus kuliahnya, baru dapat gelar Sarjana Astronomi, baru disebut astronom profesional," kata astronom amatir senior ini yang juga merupakan pegawai BRIN.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat mengikuti Astropark 2025 di Jakarta. (Foto:HAAJ)

Saat matahari kembali ke peraduan, area pelataran kubah teater bintang Planetarium Jakarta, berubah menjadi observatorium mini. Dua teleskop dipancangkan di sana, mengarah ke langit gelap yang mencoba menembus kepungan cahaya kota.

Antrean pengunjung mengular untuk dapat merasakan pengalaman menatap bintang menggunakan teleskop sebenarnya. Sementara, sejumlah pemandu teleskop dari HAAJ tampak sibuk mengarahkan teleskop pembias (refraktor) yang disediakan untuk dicoba secara cuma-cuma.

"Jadi sebelum kita melakukan pengamatan, kita cari objek dulu nih yang sebenarnya, yang sekiranya bisa kita jadikan acuan. Jadi pertama kalau saya ya, kita pakai lensa yang dua lima," kata Galuh, salah seorang anggota HAAJ, menjelaskan cara penggunaan teleskop di luar ruangan kepada Gina, pengunjung Planetarium Jakarta.

Gina dan rekan-rekannya merupakan bagian tim pengembang perangkat lunak muda 'Apple Developer Academy' yang sedang melakukan riset lapangan. Mereka tengah merancang sebuah proyek pengembangan perangkat lunak khusus bertema astronomi.

"Kita satu tim. Kebetulan di Apple Developer tuh dibagi beberapa tim dan kebetulan kita tim yang meneliti ke astronomi," kata Gina saat ditemui RRI, Sabtu, 18 April 2026.

Ini sekali lagi membuktikan bahwa bintang-bintang masih menjadi 'mihrab' inspirasi kreativitas inklusif, termasuk generasi muda. Namun, benarkah ilmu ini inklusif?

"Sekarang saya tanya, tunanetra. Sekarang bagaimana cara mengajarkan ilmu astronomi kepada tunanetra yang tidak bisa membayangkan matahari dan bulan," kata Nurdin melontarkan pertanyaan menggelitik, mengejutkan, sekaligus menohok ke dasar nurani.

Perjalanan astronomi di Jakarta

Karpet hijau tua di Masjid Al-Fauz membentang rata. Sementara, bekas-bekas dahi dan telapak tangan lamat-lamat terlihat di tempat sujudnya.

Di sini, setiap manusia, tanpa memandang derajat, rupa, maupun keterbatasan fisik, meletakkan dahi-dahinya di tempat yang sama. Ruang ini seolah ingin menyampaikan makna kesetaraan dalam banyak hal, termasuk memahami keindahan semesta dan rahasia bintang-gemintang.

Filosofi inklusivitas inilah yang mendorong Yudhiakto Pramudya mendobrak batasan fisik dari "langit yang tak terlihat". Ia merupakan anggota senior HAAJ yang kini mendedikasikan dirinya sebagai dosen Fisika di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

Ia menjawab pertanyaan Nurdin mengenai bagaimana cara mengajarkan matahari dan bulan kepada penyandang tunanetra. Bukan hanya sekadar tataran konsep, Yudhi membuktikannya melalui studi yang ditekuninya di Yogyakarta.

"Jadi secara umum itu kan kalau kita berbicara pendidikan itu harus inklusif, artinya pendidikan itu harus melibatkan semuanya. Dan lawannya adalah eksklusif ya, eksklusif itu ya mengkhususkan seseorang," kata Yudhi saat dihubungi melalui saluran telepon, Sabtu, 9 Mei 2026.

"Tapi kalau inklusif kan kita harus merangkul semuanya. Jadi tidak hanya yang berkebutuhan khusus, tapi juga yang marjinal, yang dari segi ekonomi maupun di daerah tertinggal, terluar, segala macamnya," ucapnya.

"Astronomi itu ilmu yang menggunakan mata, pakai teleskop. Tapi, kita menyasar ke teman-teman yang kehilangan indra penglihatannya, yaitu buta, atau tunanetra. Nah, itu maka akan timbul pertanyaan kan, 'Lho bagaimana caranya?'" kata Yudhi yang terinspirasi oleh karya pionir Norine Grice.

Sesi pengamatan malam menggunakan teleskop yang digelar HAAJ setelah pertemuan rutin umum. (Foto: HAAJ)

Ia membangun metode khusus untuk menjembatani ilmu astronomi yang sangat mengandalkan mata dengan kegelapan yang dialami para tunanetra. Yudhi merancang metode 'Tactile Astronomy' (astronomi rabaan) saat menempuh studi doktoral di Amerika Serikat.

Yudhi kemudian bekerja sama dengan anak-anak tunanetra dari Komunitas Mata Hati di Surabaya. Mereka mulai memproduksi gambar-gambar objek langit timbul ('tactile'/'emboss').

Melalui permukaan kertas bertekstur timbul tersebut, jemari anak-anak tunanetra dapat meraba dan menyapukan tangan mereka. Dari pengalaman ini mereka dapat "melihat" bentuk spiral galaksi, letupan suar matahari, kawah-kawah Bulan, hingga sabuk planet luar.

Tantangan berikutnya adalah mengenalkan instrumen pengamatan itu sendiri. Teleskop asli, pada dasarnya, merupakan perangkat optik sensitif yang tidak boleh disentuh sembarangan demi menghindari jamur dan kotoran.

"Jadi, namanya penelitian kan harus membuat. Kami membuat teleskop yang memang tidak bisa digunakan melihat bintang segala macam, nggak," katanya.

"(Teleskop yang dibuat ini-red) memang untuk alat peraga, sehingga mereka mengetahui, setidaknya mereka belajar, ini lho bagian-bagian teleskop dan juga arah-arahnya. Cahaya itu bagaimana masuk dari langit, masuk ke teleskop, dan sampai ke mata," katanya.

Gelapnya malam tidak hanya mengisolasi mereka yang kehilangan indra penglihatan. Teman-teman tunarungu pun menghadapi tembok penghalang yang semirip.

HAAJ menggelar sesi storytelling tentang astronomi untuk anak-anak TK. (Foto: HAAJ)

Mereka dapat menatap bintang dengan jelas, namun keterbatasan kosakata membuat mereka kesulitan mendiskusikannya. Yudhiakto menyadari perlunya mengajar atau mengomunikasikan sains kepada teman-teman tunarungu dengan bahasa isyarat yang memiliki kosakata yang tepat.

Baginya, keterbatasan ini menjadi peluang penelitian untuk mengembangkan bahasa isyarat dengan banyak kosakata sains, khususnya astronomi, di Indonesia. Ia pun melanjutkan kontribusinya hingga sains benar-benar merengkuh semua jiwa tanpa kecuali.

"'No students left behind', tidak ada siswa yang ditinggalkan. Jangan karena mereka tidak bisa melihat, maka kesempatan untuk belajar astronomi itu tidak kita berikan," kata Yudhi.

"Jangan sampai seperti itu. Semua berhak. Makanya semesta itu untuk semua,” ujarnya dengan nada dalam dan tegas.

Hasilnya pun terlihat dari kerja sama antara Pusat Studi Astronomi UAD dengan SMA Tumbuh di Yogyakarta. Menurutnya, sekolah inklusif ini telah berhasil melatih anak-anak autisme untuk memandu jalannya kunjungan astronomi.

“Jadi bisa bayangkan, mereka autis memandu astronomi, memandu kunjungan di observatorium untuk teman-teman autis juga. Jadi Anda bisa bayangkan spektrumnya autis memandu teman-teman autis,” kata Yudhiakto.

Perjalanan astronomi di Jakarta tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Planetarium Jakarta sebagai mercusuar eduwisata. Di sanalah, HAAJ secara sukarela hadir sebagai penyokong sarana tersebut.

Mereka mengisi ruang-ruang kosong antara kebijakan birokrasi dan dahaga publik terhadap sains. Kerja sama ini menghidupkan mimpi-mimpi Bung Karno dan Ali Sadikin tentang peradaban masyarakat yang memiliki kesadaran terhadap sains.

"Nah, Planetarium jadi sarana media publikasinya, karena itu adalah tugasnya mereka sebagai sarana eduwisatanya. Kita di HAAJ, sebagai komunitas, men-support (Planetarium Jakarta-red)," kata Nurdin kepada RRI.

"Mereka (Planetariun Jakarta-red), men-support fasilitas (untuk HAAJ-red). Jadi bersinerginya kayak seperti itu."

Dari masyarakat yang sebelumnya meraba gerhana dalam bayang-bayang mistis, Jakarta tumbuh menjadi komunitas sadar sains. Ribuan warganya kini bahkan rela mengantre demi menyaksikan jejak-jejak harmonisasi semesta di dalam kubah teater bintang.

Keingintahuan ini meruntuhkan batas-batas eksklusivitas, merengkuh setiap anak manusia tanpa terkecuali. Semesta menyajikan keagungan yang sama untuk diraba dan tidak pernah mengucilkan siapa pun.

Astrofotografi bentang Nebula Carina. (Foto: HAAJ/Michael Dobie)

Pesan inilah yang disampaikan Rezky kepada RRI dengan mengajak masyarakat Jakarta untuk menyadari bahwa mereka bukanlah penguasa bumi. Mereka, dan seluruh umat manusia, hanyalah bagian kecil yang menyatu di dalam sebuah sistem semesta yang harmonis.

"Kemajuan sebuah kota itu menjadi salah satu yang mungkin membuat orang-orang makin jauh dari langit. Karena tadi, polusi cahaya, kita sulit melihat bintang, jadi orang-orang lebih kenal kehidupan di Buminya daripada luar angkasa yang kalau orang zaman dulu, luar angkasa itu adalah inspirasi, adalah tempat merenung, mendapatkan kecerahan hati, atau mungkin ide-ide baru. Dan mungkin itu juga yang mendasari ilmu pengetahuan sekarang," kata Rezky.

"Saya berharap Planetarium bisa menempatkan dirinya di Jakarta dan juga di Indonesia untuk menjembatani orang-orang yang mulai lupa akan keindahan alam semesta.

"Saya harap Planetarium ke depannya bisa membuat masyarakat Jakarta tidak terbatas hanya melihat horizontal, melihat ke depan, melihat ke samping, tapi juga melihat ke atas."

"Karena dari situ kita bisa membuat manusia-manusia Jakarta itu menurut saya lengkap. Karena kita sadar akan lingkungan kita, tentu dengan Tuhan, tentu dengan alam semesta yang menaungi kita."

"Dan juga ternyata segala sesuatu berputar, beredar, bekerja menurut kuasanya dari hukum-hukum alam yang ternyata memengaruhi kita juga. Jadi membuat manusia Jakarta kembali seutuhnya menjadi manusia yang berpikir," kata Rezky mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....