Kubaca Semesta dari Planetarium Cikini Jakarta

  • 30 Mei 2026 01:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

Salat zuhur berjamaah telah lama usai, menyisakan ruang tengah yang lengang di bawah kubah bujur sangkar dan mihrabnya. Bagi umat manusia, arah adalah salah satu panduan hidup yang paling mendasar.

Di dalam Masjid Al-Fauz, simbolisasi arah tersebut diwujudkan melalui keberadaan mihrabnya yang menyerupai bentuk mata anak panah. Sisi-sisinya dihiasi ornamen bintang segi delapan berlafadz Allah dan Muhammad SAW.

Mihrab ini bertindak sebagai kompas untuk bersujud bagi setiap muslim yang menetapkan ke mana arah kiblat mereka. Namun, jauh sebelum navigasi modern diciptakan, leluhur manusia telah menggunakan "mihrab raksasa" di kubah langit malam.

Mereka menggunakan bintang-bintang di langit sebagai penunjuk arah kehidupan mereka. Penjelasan ini yang disampaikan Nurdiansyah, yang akrab disapa Nurdin, pada Sabtu, 18 April 2026.

Nurdin menerangkan, manusia purba sudah menggunakan pengamatan langit malam tanpa bantuan teknologi untuk menentukan arah hadap dan navigasinya. Salah satu contohnya adalah bagaimana nelayan-nelayan tradisional menggunakan gugusan bintang tertentu sebagai pemandu jalan untuk pulang.

"Nah, kita (di belahan Bumi selatan-red) kan Orion. Orion jadi kompas langit. Jadi kalau misal nelayan kesasar, dengan rasi bintang itu kita bisa tahu arah pulang," kata Nurdin usai memberikan materi seminar astronomi publik HAAJ di salah satu ruangan Planetarium Jakarta.

Nurdin merupakan praktisi IT yang mendedikasikan waktu senggangnya untuk astrofotografi. Ia telah berkecimpung di dunia astronomi selama 25 tahun di HAAJ ini.

Mihrab Masjid Al-Fauz. (Foto: RRI/Nugroho)

Nurdin juga memahami bahwa ketertarikan publik pada astronomi sering kali berawal dari 'pencerahan' manusia saat menatap semesta mahaluas. Ia membuktikan hasrat mempelajari astronomi bisa tumbuh di luar jalur akademis formal ITB yang hanya menghasilkan sedikit lulusan.

Nurdin sendiri merupakan contoh nyata dari semangat individu yang mencoba memahami langit dan menjadi astronom amatir. Ia telah mengamati hampir seluruh objek langit dan andal mengoperasikan teleskop observatorium Jakarta.

"Ini contoh dari ekspedisi aku ngerasain empat jenis gerhana Matahari: sebagian, total, cincin sama hibrida. Bahkan pernah ngerasain juga ngamatin gerhana Matahari di laut," katanya.

"Selama ini kan kalau kalian ngamatin Matahari kan di darat. Bagaimana cara ngamatinnya di tengah laut?"

"Kebetulan ini, Pulau Kisar, tempatnya KRI dr. Soeharso Kapal Rumah Sakit TNI AL, dia tugasnya buat meneliti bawah laut, buat peta arus laut. Nah karena kebetulan dia (kapalnya berada-red) di Gunung Laut, jalurnya berpotongan sama jalur gerhana, makanya dia minta astronom untuk ikut."

"Karena kebanyakan astronom profesional pada ngamatin di darat. Nah, aku dapat rekomendasi dari kepala Observatorium Bosscha untuk mewakili astronom bergabung sama peneliti di Pulau Kisar," kata Nurdin membagikan pengalamannya.

Bahkan dengan kapasitas yang dimilikinya sebagai astronom amatir, ia turut membagikan informasi terkait prediksi gerhana lain. Tahun 2027 dan 2028 akan menjadi momen menarik bagi para pemburu gerhana.

"Gerhana yang paling dekat nanti akan ada 2027. Jadi teman-teman yang nanti barangkali ada rencana umrah, nah itu pas umrah pas gerhana di Ka'bah."

"Lintasannya melewati Makkah dan Mesir, jadi pas di Piramida Giza. Nah, itu gerhananya di situ tahun 2027."

"(Untuk tahun-red) 2028, bagi yang (terlewat momen-red) 2027, mau mengejar (gerhana-red), dapatnya sebagian tapi, mengambilnya di Pulau Enggano di Bengkulu."

Meskipun demikian, ia mengakui tidak memiliki satu pun teropong pribadi di rumahnya. Baginya, astronomi adalah gerbang sains yang paling ramah untuk membuka cakrawala berpikir masyarakat awam.

"Dalam filsafat (ada diceritakan-red), dengan dua alat, yaitu teleskop dan mikroskop, tolong ajarkan si bodoh itu membuka makna duniawi. Karena kenapa?" katanya membagikan kisah bermakna mendalam.

"Dengan teleskop kalian bisa melihat benda yang sangat besar yang pernah diciptakan sama Pencipta. Dengan mikroskop kita bisa melihat benda yang sangat-sangat kecil yang pernah diciptakan oleh sang Pencipta."

Nurdiansyah sedang berdiskusi dengan sejumlah pengembang perangkat lunak muda dari 'Apple Developer Academy'. (Foto: RRI/Nugroho)

Melalui HAAJ, Nurdin membuktikan bahwa para astronom amatir mampu melahirkan kerja ilmiah yang berdampak luas bagi publik. Pada tahun 2015, ia membimbing siswa SMA 38 Jakarta dalam penelitian astrobiologi lomba Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).

Penelitian tersebut menguji perilaku lalat buah, lalat kandang, dan lalat hijau dalam simulasi mikrogravitasi menggunakan tabung jatuh. Kesimpulan penelitian tersebut menegaskan gaya gravitasi bumi merupakan komponen sensorik mutlak bagi stabilitas terbang serangga.

Lomba tersebut diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang kini menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Penelitian yang diajukan siswi SMAN 38 Jakarta bernama Farras Nabila Puspita ini berhasil menjadi finalis.

Lomba ini juga merupakan ajang kompetisi penelitian remaja tertua, paling ketat, dan paling kompetitif di Indonesia. Dari ribuan proposal penelitian yang masuk dari seluruh sekolah menengah di Indonesia, hanya belasan proposal terbaik per kategori yang dipilih.

Selain itu, simbiosis ilmu perbintangan ini juga bahkan meluas hingga ke bidang arkeologi. Nurdin menceritakan bagaimana mahasiswa arkeologi Universitas Indonesia ikut mempelajari relief dan arsitektur purba Candi Borobudur.

Mereka mencoba menyingkap apakah bangunan suci tersebut sengaja didirikan sejajar dengan patokan arah rasi bintang tertentu di langit. Baginya, setiap orang dengan rasa ingin tahu yang besar untuk mengamati semesta, pada dasarnya layak menyandang sebutan astronom.

"Jadi kami yang latar belakangnya suka sama astronomi, kita bisa disebut astronom (amatir-red). Tapi kapan itu bisa diakui? Kan kalau misalnya kita profesional, (kita-red) harus lulus kuliahnya, baru dapat gelar Sarjana Astronomi, baru disebut astronom profesional," kata astronom amatir senior ini yang juga merupakan pegawai BRIN.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat mengikuti Astropark 2025 di Jakarta. (Foto:HAAJ)

Saat matahari kembali ke peraduan, area pelataran kubah teater bintang Planetarium Jakarta, berubah menjadi observatorium mini. Dua teleskop dipancangkan di sana, mengarah ke langit gelap yang mencoba menembus kepungan cahaya kota.

Antrean pengunjung mengular untuk dapat merasakan pengalaman menatap bintang menggunakan teleskop sebenarnya. Sementara, sejumlah pemandu teleskop dari HAAJ tampak sibuk mengarahkan teleskop pembias (refraktor) yang disediakan untuk dicoba secara cuma-cuma.

"Jadi sebelum kita melakukan pengamatan, kita cari objek dulu nih yang sebenarnya, yang sekiranya bisa kita jadikan acuan. Jadi pertama kalau saya ya, kita pakai lensa yang dua lima," kata Galuh, salah seorang anggota HAAJ, menjelaskan cara penggunaan teleskop di luar ruangan kepada Gina, pengunjung Planetarium Jakarta.

Gina dan rekan-rekannya merupakan bagian tim pengembang perangkat lunak muda 'Apple Developer Academy' yang sedang melakukan riset lapangan. Mereka tengah merancang sebuah proyek pengembangan perangkat lunak khusus bertema astronomi.

"Kita satu tim. Kebetulan di Apple Developer tuh dibagi beberapa tim dan kebetulan kita tim yang meneliti ke astronomi," kata Gina saat ditemui RRI, Sabtu, 18 April 2026.

Ini sekali lagi membuktikan bahwa bintang-bintang masih menjadi 'mihrab' inspirasi kreativitas inklusif, termasuk generasi muda. Namun, benarkah ilmu ini inklusif?

"Sekarang saya tanya, tunanetra. Sekarang bagaimana cara mengajarkan ilmu astronomi kepada tunanetra yang tidak bisa membayangkan matahari dan bulan," kata Nurdin melontarkan pertanyaan menggelitik, mengejutkan, sekaligus menohok ke dasar nurani.

Selanjutnya, Karpet hijau tua

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....