'Ngewongke Wong' Jadi Fondasi Ekspansi Organisasi Artotel Group

  • 19 Mei 2026 07:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Eduard Rudolf Pangkerego mengedepankan transparansi finansial kepada karyawan sebagai strategi utama bertahan hidup selama puncak varian Delta tahun 2021.
  • Kepercayaan staf dibangun melalui komunikasi jujur tanpa menutupi ketiadaan kas perusahaan demi menjaga loyalitas tim di masa penguncian wilayah.
  • Manajemen Artotel menginisiasi gerakan moral lintas industri melalui video motivasi dari puluhan selebritas guna menguatkan mental seluruh praktisi perhotelan nasional.

Kisah masa kecilnya ternyata menyimpan banyak memori tentang perjuangan keras kedua orang tuanya yang hidup dalam kondisi keterbatasan. Eduard tumbuh besar dengan mengonsumsi beras jatah pemerintah yang seringkali harus mereka bagi demi mencukupi kebutuhan makan harian.

Ayahnya merupakan guru pegawai negeri yang menerapkan nilai kedisiplinan militer di dalam mendidik seluruh buah hatinya. Kehidupan mereka jauh dari kesan mewah karena fasilitas yang ada merupakan inventaris negara yang tidak boleh mereka banggakan.

"Layaknya pegawai negeri. Beras, kita (dapatnya-red) beras Bulog. Gedenya dari beras Bulog. Mobil juga mobil plat merah, ibaratnya kita dari dulu hidup di situ," ucap Eduard.

Ia juga menceritakan trauma sang ayah terhadap jenis makanan tertentu akibat kemiskinan di masa lalu. Sang ayah menolak mentah-mentah jika diajak menyantap semangkuk bakso.

"Papa itu dulu susah. Tiap hari makannya bakso. Jadi, jangan ajak makan bakso lagi karena udah bosan. Bukan karena dia enggak suka bakso, tapi emang karena (bosan-red) bakso," ujar Eduard.

Kenangan pahit tersebut menjadi pengingat baginya agar selalu bersyukur atas setiap kemapanan ekonomi yang kini sudah berhasil diraihnya. Ia tidak ingin melupakan akar sejarah keluarganya yang pernah berjuang sangat keras untuk sekadar bisa makan setiap hari.

Perjuangan sang ibu juga menjadi inspirasi terbesar bagi dirinya untuk selalu berusaha memberikan kehidupan terbaik bagi generasi penerus keluarga. Meskipun berasal dari latar belakang keluarga susah, ibundanya bertekad kuat agar anak-anaknya tidak pernah lagi merasakan penderitaan finansial.

Filosofi hidup untuk memutus rantai kemiskinan menjadi motor penggerak utama bagi Eduard untuk terus bekerja keras tanpa mengenal rasa lelah. Ia menyadari ia bukanlah seorang pewaris harta melainkan seorang perintis yang harus membangun segala sesuatunya dari titik nol.

"Gua bukan generasi pewaris. Tapi, gua generasi perintis, iya," ucap Eduard tegas.

Mentalitas sebagai perintis membuatnya selalu berusaha memberikan performa kerja yang jauh melampaui standar yang diharapkan. Ia mengibaratkan etos kerja seperti dedikasi pemain sepak bola dunia yang terus berlatih ketika pemain lain justru beristirahat.

"Kalau misal ya, kalau saya enggak akan bandingin sama Ronaldo ya, disuruh jam 7 latihan, dia jam 5 udah di lapanganlah ibaratnya. Orang-orang (pegawai lain-red) udah pulang, dia belum pulang. Nah, seperti itulah aja. Ada value lebih bahwa kalau kita itu kerja lebih daripada yang lain," ujar Eduard.

"Kalau dikasih A ya pasti harus kerjanya A plus lah. Ini nih bukannya klise-klise lagi nih, kalau disuruh B kita kerja B," kata Eduard.

Keberhasilannya menduduki posisi puncak pimpinan perusahaan saat ini juga bukan didapat melalui jalur instan maupun bantuan koneksi khusus. Ia benar-benar merangkak dari posisi pelayan restoran paling bawah hingga akhirnya dipercaya memimpin ribuan karyawan di berbagai wilayah.

Pengalaman pahit saat dicemooh orang lain justru ia jadikan sebagai bahan bakar untuk membuktikan kapasitas diri yang sebenarnya. Ia percaya setiap individu yang mau bersabar menghadapi kerasnya cobaan akan mencapai hasil akhir yang baik.

"Apa sih istilahnya kalau yang sekarang tuh kerja keras tidak mengkhianati hasil ya? Itu aja. Jadi semua itu, semua itu ada prosesnya," ujar Eduard.

Kepemimpinannya di kantor juga dikenal humanis karena ia selalu berusaha memanusiakan setiap bawahannya tanpa memandang jabatan mereka. Eduard menggunakan analogi musik untuk menggambarkan betapa pentingnya keberagaman karakter di dalam tim kerja yang solid.

"Kalau saya rekrut, ada yang nada do, ada nada re, si la sol la si do, gitu. Karena kalau dia sama semua... semua tim tuh enggak kebentuk," ucap Eduard.

Ia percaya pemimpin yang hebat harus mampu merangkul berbagai macam nada kehidupan agar tercipta orkestrasi musik yang indah. Strategi tersebut terbukti efektif untuk membangun loyalitas karyawan bahkan di tengah krisis pandemi global.

Kerendahan hatinya juga terlihat saat menceritakan pengalamannya memahami pekerjaan di lapangan. Eduard tidak gengsi bertanya kepada siapa saja demi menambah wawasan praktis yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.

Baginya, pengetahuan sejati bisa datang dari mana saja asalkan seseorang mau membuka hati dan pikirannya. Ia mencontohkan dengan belajar mengemudikan becak.

"Kalau mau belajar gimana caranya bawa becak, ya mesti belajar sama abang becak. Jangan belajar sama profesor buat bawa becak, gitu kan?" kata Eduard sedikit berseloroh.

Chief Operating Officer (COO) Artotel Group Eduard Rudolf Pangkerego. (Foto: RRI/Nugroho)

Bicara kebaikan, kedermawanan menjadi sisi humanis lainnya yang seringkali ia lakukan tanpa perlu diketahui banyak orang. Eduard memiliki prinsip tangan kanan yang memberi tidak perlu diketahui tangan kiri demi menjaga kemurnian niat.

Raut bibirnya berubah menjadi senyuman lebar saat menceritakan konsep bersyukur yang diperoleh dari pengalaman hidup lainnya. Ia sempat kaget saat diramalkan 30 tahun yang lalu akan menjadi orang yang tidak akan pernah kaya.

"Bercandanya nih, bercanda tapi serius, atau enggak serius. Jadi pernah ada satu 'fengshui master'. Kebetulan lagi kita lagi ada acara apa, saya enggak ingat," katanya.

"Tapi tiba-tiba dia ngeramal saya begini, ini bercanda-bercanda nih."

"Coba Edu saya baca," katanya kepada RRI sambil menunjukkan telapak tangan yang dibaca sang master tersebut.

"Oh iya. Edu kamu itu enggak akan kaya."

"Saya kaget juga nih."

"Tapi, dia bilang gini, 'kamu enggak akan susah juga'. Ya sudah (itu-red) cukup saya bilang. Itulah kira-kira filosofinya," katanya lagi sambil tertawa.

Fokus utamanya kini bergeser dari ambisi mengejar pencapaian pribadi menuju upaya maksimal membahagiakan seluruh anggota keluarga tercintanya. Eduard menyadari kebahagiaan sejati hanya bisa ditemukan di dalam kehangatan rumah tangga yang penuh cinta dan rasa kasih.

"Goal pertama ya buat diri sendiri lah ya... Yang kedua pasti family-lah. Udah enggak ada lagi. Saya mau anak saya lebih baik dari saya juga," ucap Eduard.

Meskipun jadwal pekerjaannya sangat padat, ia tetap berusaha menjaga keseimbangan hidup. Mencintai profesi dan keluarga, menurutnya, harus dilakukan secara sangat adil.

Eduard tidak mengenal istilah pembagian porsi. Baginya pekerjaan dan keluarga merupakan dua belahan jiwa yang harus ia cintai sepenuhnya.

Keyakinan akan kebenaran setiap langkah yang ia ambil menjadi perisai utama dalam menghadapi segala bentuk tekanan. Ia menegaskan tentang pentingnya menjaga kepercayaan serta integritas di dalam setiap tindakan.

"Ya balik lagi 'keep the faith' lah itu intinya. Mau enggak mau, ya kita mesti yakin apa yang kita kerjakan itu benar dan tujuannya satu, membahagiakan keluarga," kata Eduard.

Selanjutnya, Berdiri kokoh...

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....