'Ngewongke Wong' Jadi Fondasi Ekspansi Organisasi Artotel Group

  • 19 Mei 2026 07:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Eduard Rudolf Pangkerego mengedepankan transparansi finansial kepada karyawan sebagai strategi utama bertahan hidup selama puncak varian Delta tahun 2021.
  • Kepercayaan staf dibangun melalui komunikasi jujur tanpa menutupi ketiadaan kas perusahaan demi menjaga loyalitas tim di masa penguncian wilayah.
  • Manajemen Artotel menginisiasi gerakan moral lintas industri melalui video motivasi dari puluhan selebritas guna menguatkan mental seluruh praktisi perhotelan nasional.

RRI.CO.ID, Jakarta - Hawa panas siang menjelang sore itu berangsur menghangat di Bimasena at The Dharmawangsa Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026. Kehangatan serupa melingkupi ruangan saat pimpinan eksekutif Artotel Group mulai membagikan kisah hidupnya dengan jujur.

Matahari di luar gedung mungkin sempat membakar aspal ibu kota dengan suhunya yang menyengat. Meskipun demikian, sang pimpinan perusahaan justru tetap terlihat sangat menikmati suasana pertemuan santai tersebut.

"Tapi gila ya, Jakarta tuh hari ini ‘feels like’ 41 derajat loh. 41 derajat," kata Chief Operating Officer (COO) Artotel Group Eduard Rudolf Pangkerego.

Pertemuan RRI dengan pengelola tertinggi Artotel Group ini menunjukkan sisi lain sosok pimpinan yang bersahaja. Ia memilih meminum air putih yang sudah ada di atas meja meskipun staf hotel berulang kali menawarkannya segelas kopi.

Pilihan sederhana yang tidak dibuat-buat tersebut seakan mencerminkan karakter aslinya yang tidak ingin merepotkan orang lain. Ia memilih menikmati apa yang sudah tersedia ketimbang harus meminta sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu ia butuhkan.

"Enggak usah, ini aja dulu. Thank you ya," ujar Eduard.

Langkah kakinya di industri layanan tamu berawal dari sebuah mimpi besar untuk bisa melihat keindahan dunia secara cuma-cuma. Eduard muda yang baru saja lulus dari kampus perhotelan ternama di Bandung memiliki ambisi yang sangat meluap-luap.

Namun realitas kehidupan ternyata tidak selalu semulus harapan indah yang sudah disusun rapi dalam benaknya. Ia harus menghadapi tembok besar bernama gengsi dan arogansi yang sempat menghambat langkah awalnya ke dunia kerja.

"Mimpinya cuma satu, bisa keliling dunia gratis. Dalam arti kata, kita ini sekolah perhotelan, lowongan pekerjaan buat anak hotel tuh sebetulnya bisa terbuka di mana aja," ucap Eduard yang merupakan alumni NHI Bandung.

Merasa memiliki prestasi akademik yang cukup gemilang semasa pendidikan, sikap sombong sempat menyelimuti jiwanya. Eduard bahkan sempat menolak mentah-mentah posisi staf pelayanan paling bawah karena menganggap sudah sangat layak menjadi seorang manajer.

Chief Operating Officer (COO) Artotel Group Eduard Rudolf Pangkerego. (Foto: RRI/Nugroho)

Keangkuhan tersebut rupanya menjadi bumerang yang membuatnya harus rela kehilangan banyak waktu berharga untuk segera merintis karir. Ia terpaksa berdiam diri di rumah tanpa pekerjaan tetap sementara rekan-rekan seangkatannya sudah mulai melangkah maju lebih dahulu.

"Arogan, saya enggak mau posisi-posisi 'rank and file', saya enggak mau posisi-posisi bawah. Saya mau tiba-tiba langsung waktu itu jadi supervisor level, bahkan saya mau jadi manajer," ujar Eduard.

Posisi 'rank and file' dalam dunia perhotelan adalah karyawan tingkat dasar atau staf operasional. Mereka umumnya bertugas menjalankan operasional harian seperti resepsionis, housekeeping, atau waiter.

Masa-masa menganggur selama delapan bulan menjadi ujian batin tersendiri bagi pria asal Manado ini. Ia mulai menyadari bahwa kepercayaan diri yang berlebihan tanpa disertai kerendahan hati hanya akan membawa dirinya menuju kegagalan.

Titik balik hidupnya muncul ketika ia menyadari setiap kesempatan pekerjaan harus diambil demi menyambung nasib masa depannya sendiri. Eduard akhirnya memutuskan membuang jauh rasa malu dan melamar ke Gran Melia, hotel bintang lima di Kuningan, Jakarta.

"Karena enggak ada pilihan lain, ya akhirnya saya harus terima. Karena dulu saya pikir saya bisa kontrol tuh. Saya bisa mau apa yang saya bisa dapatkan, apa yang saya mau."

"I always get what I want. Maybe not immediately but eventually."

"Tapi ya ternyata enggak... enggak sesuai dengan yang diharapkan. Tapi ya ada posisi emang kita enggak bisa milih," ujar Eduard.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....