Lima Kelompok Rentan Jadi Prioritas Perlindungan Dinkes Sanggau
- 13 Agt 2026 21:00 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Sanggau - Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau, Marlina menyebut, terdapat lima kelompok masyarakat yang menjadi prioritas perlindungan di tengah ancaman penurunan kualitas udara akibat kabut asap musim kemarau. Kelompok tersebut dinilai memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak buruknya kualitas udara ada lima, yaitu balita dan anak-anak, lansia di atas 60 tahun, ibu hamil, masyarakat dengan komorbid seperti asma, PPOK, jantung dan diabetes, serta pekerja luar ruangan seperti petani, tukang dan ojek,” kata Marlina, Kamis, 13 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, masing-masing kelompok memiliki tingkat kerentanan yang berbeda terhadap dampak paparan asap. Kondisi tersebut membuat upaya perlindungan perlu dilakukan secara lebih terarah kepada kelompok yang berisiko tinggi.
“Balita dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena saluran pernapasan mereka masih sempit dan belum berkembang sempurna. Sementara itu, lansia memiliki daya tahan tubuh yang menurun dan umumnya disertai penyakit penyerta yang memperbesar risiko komplikasi akibat paparan asap,” ujarnya.
Menurut Marlina, kelompok rentan tersebut harus menjadi perhatian utama dalam upaya pencegahan maupun penanganan dampak kesehatan akibat memburuknya kualitas udara. Langkah perlindungan diperlukan agar risiko penyakit akibat kabut asap dapat ditekan sejak dini.
“Kelompok-kelompok inilah yang harus menjadi prioritas pelindungan kita ke depannya, baik dalam upaya pencegahan maupun penanganan dampak kesehatan akibat penurunan kualitas udara,” jelasnya.
Selain mengidentifikasi kelompok rentan, ia mengatakan, Dinkes Sanggau juga memperkuat berbagai langkah antisipasi untuk mencegah lonjakan kasus ISPA selama musim kemarau. Upaya tersebut mencakup peningkatan pemantauan kasus, penyediaan logistik kesehatan, hingga edukasi kepada masyarakat.
“Langkah yang kami lakukan antara lain memperkuat surveilans dengan meminta laporan ISPA dari puskesmas setiap minggu, mendistribusikan masker dan obat-obatan ISPA ke puskesmas, serta melakukan sosialisasi melalui media, sekolah dan kader tentang bahaya asap dan cara pencegahannya,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....