Naik Sampan, Perjuangan Pelajar Pedalaman Sanggau untuk Sekolah
- 09 Jul 2026 19:29 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong – Pemerataan pendidikan di Kabupaten Sanggau masih menghadapi tantangan akibat kondisi geografis. Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, SMP Negeri 3 Satap Toba, Edi Sapriansyah mengatakan, akses menuju sekolah di sejumlah wilayah pedalaman masih menjadi hambatan bagi peserta didik maupun tenaga pendidik dalam menjalankan proses belajar mengajar.
Menurut Edi, tantangan tersebut menunjukkan pemerataan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan pembelajaran, tetapi juga menyangkut kemudahan akses serta ketersediaan sarana pendukung. Kondisi itu masih dirasakan sekolah-sekolah yang berada di wilayah terpencil dan sepanjang aliran sungai di Kabupaten Sanggau.
"Sekolah kami berada di wilayah yang cukup terpencil. Anak-anak setiap hari harus menyeberang menggunakan sampan, kemudian berjalan kaki menuju sekolah karena belum tersedia akses transportasi darat yang memadai. Kalau hujan atau angin kencang, kami memberikan toleransi karena keselamatan mereka lebih penting," kata Edi dalam Dialog Sanggau Menyapa di RRI Sanggau, Kamis 9 Juli 2026.
Selain akses yang terbatas, Edi menilai, peningkatan kualitas pendidikan juga memerlukan dukungan infrastruktur yang memadai. Menurutnya, pembangunan akses transportasi dan fasilitas sekolah harus berjalan beriringan agar anak-anak di daerah terpencil memperoleh kesempatan belajar yang setara.
"Kami berharap pemerintah terus meningkatkan pembangunan infrastruktur, baik jalan maupun fasilitas sekolah. Percuma sekolahnya bagus kalau jalannya tidak ada, siapa yang mau datang ke sekolah, juga kalau fasilitas sekolah belum memadai, tentu proses belajar mengajar belum bisa berjalan maksimal," ujarnya.
Persoalan lainnya juga dihadapi SD Negeri 03 Sontas di Kecamatan Entikong. Yulia Suriati Tohcin, guru SD Negeri 03 Sontas mengatakan, kegiatan belajar mengajar selama tiga tahun terakhir harus dipindahkan karena kondisi bangunan sekolah yang mengalami kerusakan dan tidak lagi aman digunakan.
"Selama tiga tahun terakhir kami menggunakan gedung serbaguna dan gedung TK yang sudah tidak dipakai untuk proses belajar mengajar. Harapan kami gedung sekolah kami segera diperbaiki agar anak-anak bisa belajar dengan aman dan orang tua tidak lagi khawatir terhadap keselamatan mereka," kata Yulia.
Yulia menilai, lingkungan belajar yang aman dan nyaman menjadi salah satu faktor penting dalam pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan. Karena itu, Ia berharap setiap sekolah di wilayah perbatasan memperoleh dukungan infrastruktur yang memadai agar peserta didik dapat belajar secara optimal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....