Belasan Kasus DBD Serang Wilayah Kota Sanggau, Anak-anak Dominasi Korban

  • 04 Jun 2026 14:30 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Sekayam masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Hingga awal Juni 2026, sedikitnya 17 kasus DBD tercatat terjadi di sejumlah kawasan perkotaan Kabupaten Sanggau, dengan mayoritas penderita merupakan anak-anak usia balita hingga remaja sekolah.

Kepala Puskesmas Tanjung Sekayam, dr. Yohana Rima Dian Ayuri, mengatakan sebaran kasus DBD saat ini terkonsentrasi di tiga wilayah padat penduduk, yakni Kelurahan Tanjung Kapuas, Kelurahan Sungai Sengkuang, dan Kelurahan Tanjung Sekayam. Tingginya mobilitas masyarakat serta kondisi lingkungan permukiman menjadi faktor yang turut memengaruhi penyebaran penyakit tersebut.

"Untuk wilayah kerja kami saat ini terdapat 17 kasus DBD yang dilaporkan. Sebagian besar kasus ditemukan di wilayah kelurahan yang berada di kawasan perkotaan," ujar dr. Rima dalam Dialog Sanggau Menyapa RRI Sanggau, Kamis 4 Juni 2026.

Menurutnya, kelompok usia anak menjadi yang paling rentan terdampak. Sebagian besar pasien yang menjalani perawatan merupakan anak usia balita hingga pelajar, sehingga sekolah dan lingkungan tempat tinggal menjadi fokus utama pengawasan serta upaya pencegahan.

Rima menyebut, tingginya kasus pada kelompok usia muda menjadi perhatian tersendiri bagi tenaga kesehatan. Selain berisiko mengganggu proses belajar, DBD juga dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius apabila tidak ditangani sejak dini.

Disampaikannya, setiap kali menerima laporan kasus, tim Puskesmas Tanjung Sekayam langsung melakukan penyelidikan epidemiologi di sekitar tempat tinggal pasien. Pemeriksaan dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya kasus lain serta mengidentifikasi keberadaan jentik nyamuk yang berpotensi menjadi sumber penularan.

"Begitu ada laporan kasus, kami langsung turun ke lapangan melakukan penyelidikan epidemiologi. Kami juga memberikan edukasi kepada warga dan melakukan abatisasi sebagai langkah pencegahan penularan lanjutan," jelasnya.

Selain penanganan kasus, kata Rima, pihak puskesmas terus mengintensifkan sosialisasi gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) kepada masyarakat. Warga diimbau rutin menguras tempat penampungan air, menutup wadah yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh gejala awal DBD. Demam tinggi yang berlangsung selama dua hingga tiga hari tanpa penyebab yang jelas harus segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan, terlebih jika disertai munculnya bintik merah pada kulit atau tanda-tanda perdarahan.

"Jangan menunggu kondisi memburuk. Semakin cepat pasien mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi yang berbahaya," tegasnya.

Rima berharap keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dapat menjadi kunci menekan angka kasus DBD. Di tengah masih tingginya kasus yang ditemukan di kawasan perkotaan, kewaspadaan dan deteksi dini dinilai menjadi langkah paling efektif untuk melindungi anak-anak dan keluarga dari ancaman penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....