Uskup Sanggau: Krisma Bukan Seremoni, tapi Penguatan Rohani

  • 01 Mar 2026 20:51 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong – Pelaksanaan Misa Minggu Kedua Prapaskah yang dirangkaikan dengan Sakramen Krisma di Gereja Katolik Gembala Yang Baik Kuala Dua, Kecamatan Kembayan, tidak hanya menjadi perayaan sakramental, tetapi juga momentum peneguhan iman umat. Pesan tersebut disampaikan langsung Uskup Sanggau, Monsinyur Valentinus Saeng saat memimpin jalannya misa, Minggu 1 Maret 2026.

Monsinyur Valentinus Saeng menekankan, para penerima krisma dipanggil menjadi pribadi yang dewasa dalam iman dan tangguh menghadapi tantangan kehidupan. Menurutnya, sakramen ini merupakan tanda penguatan rohani, bukan sekadar seremoni.

“Kalian itu akan menjadi pengikut Yesus yang dewasa, yang imannya sekuat tiang penyangga tembok,” kata Monsinyur Valentinus.

Ia menjelaskan, kata krisma berasal dari minyak suci yang dioleskan di dahi sebagai tanda pengudusan. Minyak tersebut telah diberkati dalam misa khusus bersama para imam sebagai lambang karunia Roh Kudus.

“Bahasa Latin Sakramen Krisma, Krisma itu minyak, pohon krisma, karena dahi mereka akan dioles dengan minyak itu yang telah disucikan oleh Uskup,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan makna asli Sakramen Krisma adalah Sacramentum Confirmationis atau peneguhan. Filosofi ini menggambarkan iman sebagai tiang penyangga bangunan yang kokoh dan tidak mudah goyah.

“Confirma-men itu tiang penyangga tembok, tiang penyangga bangunan. Firmus itu tembok,” ucapnya.

Karena itu, ia kembali menegaskan, umat yang telah menerima krisma diminta berpegang teguh pada ajaran Gereja dan tidak mudah terpengaruh arus zaman. Keteguhan iman dinilai menjadi fondasi penting dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

“Jadi mereka yang menerima Sakramen Krisma harus memiliki iman seteguh tembok yang tidak akan belok ke kiri, tidak akan belok ke kanan,” tuturnya.

Ia menambahkan, tanda pengurapan di dahi merupakan cap Roh Kudus yang harus diwujudkan melalui tanggung jawab moral dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut selaras dengan upaya pembinaan karakter umat agar mampu memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar.

“Maka setiap kita wajib mempertanggungjawabkan tanda itu dalam kehidupan kita,” tegas Monsinyur Valentinus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....