Buka Mata Naga, Wujud Pelestarian Budaya Tionghoa Sanggau
- 10 Feb 2026 20:44 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong – Ritual buka mata naga digelar di Klenteng Tri Dharma (Pekong) Sanggau sebagai bagian dari tradisi penyucian menjelang pergantian naga baru. Daniel, Perwakilan Klenteng Tri Dharma Sanggau menyampaikan, kegiatan ini menjadi simbol pembersihan diri sekaligus lingkungan bagi masyarakat Tionghoa setempat.
“Tujuan hari ini untuk membersihkan yang kotor, biar jadi bersih,” kata Daniel di Klenteng Tri Dharma, Selasa 10 Februari 2026.
Daniel mengatakan, prosesi buka mata naga ini juga menandai bahwa naga lama akan segera digantikan. Ia menjelaskan, naga tersebut direncanakan dibakar pada perayaan Cap Go Meh mendatang sebagai bagian dari rangkaian pembaruan.
“Naga ini kan belum pernah dibakar sebelumnya, kata dari teman-teman yang bawa naga itu, mau diganti sekaligus pada tahun ini, mau dibakar, sekalian ganti mendatangkan naga yang baru,” ungkapnya.
Ia menambahkan, penggantian naga diharapkan menghadirkan semangat baru bagi umat. Naga yang baru nantinya diharapkan lebih indah dan berukuran lebih besar sebagai simbol harapan akan keberkahan di masa mendatang.
“Biar untuk tahun ini biar naganya lebih indahlah ke depannya, bisa lebih besar juga naganya,” ucapnya.
Daniel menyampaikan, ritual ini juga menjadi persiapan naga untuk melaksanakan tradisi nyeliung atau berkeliling ke rumah-rumah warga. Tradisi tersebut dipercaya sebagai bentuk pembersihan serta doa keselamatan, khususnya bagi masyarakat Tionghoa di sekitar klenteng.
“Naga-naga ini akan melakukan nyeliung di sini, dibilang tuh ke rumah-rumah begitulah, ritual bersihkan rumah-rumah warga, khususnya orang-orang Tionghoa lah, biar lebih membuang, kata orang tuh buang kotor-kotornyalah,” katanya.
Daniel berharap, tradisi ini dapat diselenggarakan secara rutin guna melestarikan adat budaya warga Tionghoa di Kabupaten Sanggau. Menurutnya, pelestarian ritual tersebut juga menjadi upaya memperkuat identitas budaya Tionghoa agar tetap hidup di tengah masyarakat multikultural.
“Tradisi tetap harus dipertahankan karena ini merupakan adat kita, suku Tionghoa khususnya. Ke depannya diharapkan naganya pada tiap tahun bisa semakin besar, lebih semakin panjanglah, bisa mirip-mirip naga kabupaten lainlah,” tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....