Risiko Karhutla Sanggau Tinggi, Warga Diminta Waspada Selalu
- 10 Feb 2026 16:08 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Kabupaten Sanggau merupakan salah satu wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi. Berbagai potensi bencana tersebut perlu mendapat perhatian serius, terutama yang berdampak luas terhadap lingkungan dan masyarakat.
"Kabupaten Sanggau memiliki enam resiko bencana, seperti banjir, cuaca eksterem, angin puting beliung, gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan dan tanah longsor," kata Analis Mitigasi Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sanggau, Apriati dalam Obrolan Kentongan RRI Entikong, Selasa 10 Februari 2026.
Dari keenam bencana tersebut, Ia menyampaikan bahwa yang paling tinggi resiko bencananya adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya, dari 169 Desa dan Kelurahan yang ada di Kabupaten Sanggau yang tersebar di 15 Kecamatan, tercatat sebanyak 167 Desa terpapar resiko karhutla.
Apriati mengatakan, untuk luasan lahan yang berisiko terjadi karhutla ada sebesar 1.189.445 hektar. Berdasarkan data tersebut Kondisi Luar Biasa (KLB) tersebut, ia menambahkan bahwa resiko terjadinya karhutla di Kabupaten Sanggau sangat tinggi.
Ia menjelaskan, berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG dasarian satu bulan Februari per tanggal 1 sampai hari ini, untuk curah hujan di Kabupaten Sanggau intensitasnya rendah. Kendati ada beberapa daerah yang hujan meski tidak lebat, juga bisa memicu terjadi karhutla.
Berkaitan dengan hal tersebut, Apriati menghimbau kepada masyarakat yang ada diseluruh Desa dan Kelurahan yang ada di Kabupaten Sanggau untuk senantiasa selalu waspada. Apapun kondisi cuaca, baik itu kemarau atau hujan dengan intensitas rendah, masyarakat diminta agar tetap waspada.
"Kewaspadaan tetap harus dilakukan oleh masyarakat, baik dalam kondisi hujan ataupun tidak hujan tetap harus waspada," ujarnya.
Lanjutnya. terkait kewaspadaan yang dimaksud adalah dengan melakukan mitigasi bencana karhutla, dilakukan secara struktural dan non struktural. Kedua cara ini, harus dilakukan oleh setiap masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah rawan terjadinya karhutla.
Mitigasi struktural kata Apriati, sangat penting untuk dilakukan oleh masyarakat. Cara yang dilakukan, contohnya dengan tidak membakar lahar jika cuaca sedang panas atau musim kemarau yang berkepanjangan dan tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....