Ridho, Sikap Iman yang Lebih Tinggi dari Sabar
- 06 Feb 2026 12:07 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Sikap ridho dinilai sebagai bentuk keimanan yang berada pada tingkatan lebih tinggi. Ridho berarti menerima setiap ketentuan Allah Swt., termasuk musibah, sebagai bagian dari takdir-Nya.
Saat musibah terjadi, seorang mukmin perlu meyakini Allah telah menetapkan qadha dan qadar sebelum manusia dilahirkan di dunia. Keyakinan ini membuat seseorang mengembalikan seluruh persoalan hidupnya kepada Allah Swt.
“Bagaimana kisah Nabi Ayub AS, seorang nabi yang diuji dengan penyakit yang luar biasa, yang tidak pernah menimpa manusia pada masanya,” ujar Suparwanto, Pelaksana KUA Kecamatan Tayan Hulu dalam Obrolan Mutiara Pagi Islam RRI Entikong, Jumat, 6 Februari 2026.
| Baca juga: Empat Golongan Manusia yang Dirindukan Surga |
Menurutnya, Nabi Ayub AS menunjukkan kepasrahan dan keridhoan hati yang sangat besar kepada Allah Swt. Dalam sikap ridho, diyakini selalu terdapat hikmah di balik setiap musibah yang diberikan.
“Kejadian yang terjadi di dunia ini bukan semata-mata terjadi begitu saja, tapi pasti ada hikmahnya,” ujarnya.
Suparwanto menjelaskan, sakit, kekurangan, kesenangan, maupun penderitaan sejatinya berasal dari Allah Swt. Karena itu, setiap keadaan diyakini mengandung hikmah yang dapat memperkuat keimanan seseorang.
“Perbedaan sabar dan ridho ialah sabar tidak marah dan tidak membenci, meski dalam hati masih ada rasa tidak senang,” jelasnya.
Ia mengatakan bahwa bersabar dalam kesenangan, relatif mudah dan dapat dilakukan oleh banyak orang. Namun, bersabar sekaligus ridho dalam musibah hanya mampu dilakukan oleh orang-orang terpilih.
Ridho dipahami sebagai sikap hati terdalam yang memandang setiap kejadian sebagai ketetapan Allah Swt. Melalui sikap sabar dan ridho, umat diharapkan mampu menghadapi musibah dengan keyakinan bahwa setiap ketentuan Allah selalu membawa kebaikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....