Mentela'ah Tiga Tingkatan Puasa Menurut Imam Ghozali

  • 25 Feb 2026 05:51 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong – Bulan Ramadan menjadi momentum strategis bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal kebajikan. Namun, tidak semua orang menjalankan puasa dengan kualitas yang sama karena setiap individu berada pada tingkatan spiritual yang berbeda.

Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali, puasa terbagi dalam tiga tingkatan, mulai dari puasa umum hingga puasa khususul khusus yang memiliki nilai spiritual lebih tinggi. Konsep ini menekankan bahwa esensi puasa tidak hanya terletak pada aspek fisik, tetapi juga pada pengendalian diri secara menyeluruh ungkap Penghulu KUA Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau, Muhammad Rinto, dalam program Mutiara Pagi di RRI Entikong, Rabu 24 Februari 2026.

“Ini adalah tingkat puasa paling rendah, secara fikih sah, tetapi belum tentu sempurna secara nilai,” kata Rinto.

Ia menjelaskan, pada level ini, puasa sebatas menahan makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Secara hukum agama dinyatakan sah, namun belum tentu mencerminkan kedalaman spiritual.

Tingkatan kedua adalah puasa khusus, yaitu menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Seorang Muslim tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan pandangan, pendengaran, lisan, serta pikiran dari hal-hal yang dilarang agama.

Sementara itu, kata Rinto, tingkatan tertinggi adalah puasa khususul khusus, yakni ketika hati sepenuhnya terfokus kepada Allah SWT. Pada tahap ini, seseorang berupaya membersihkan batin dari ambisi duniawi dan memusatkan diri pada kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta.

Rinto menyebut tantangan terbesar dalam berpuasa adalah menaklukkan hawa nafsu. Menurutnya, banyak orang sanggup menahan lapar dan haus, tetapi sulit menjaga emosi, lisan, dan keinginan.

Ia mengingatkan agar umat Islam tidak hanya menjaga apa yang masuk ke dalam mulut, tetapi juga mengontrol apa yang keluar dari mulut. Perkataan dusta, gibah, fitnah, prasangka buruk, dan ucapan kasar dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa sehingga Ramadan seharusnya menjadi sarana evaluasi diri.

“Jangan sampai kita hanya mendapatkan haus dan laparnya saja, tetapi tidak mendapatkan pahala puasa,” ucapnya, menutup perbincangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....