Komunikasi Framing, Teori Media Membangun Realitas

  • 01 Sep 2025 10:40 WIB
  •  Entikong

KBRN, Entikong: Dalam dunia komunikasi massa, media tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai pembentuk cara pandang publik terhadap suatu peristiwa. Salah satu teori yang menjelaskan peran ini adalah Teori Framing atau Framing Theory. Teori ini menunjukkan bahwa media memiliki kekuatan untuk membingkai (frame) informasi, sehingga memengaruhi bagaimana khalayak memahami dan merespons isu-isu yang diberitakan.

Framing berasal dari kata “frame” yang berarti bingkai. Dalam konteks komunikasi, frame adalah cara media menyusun narasi, memilih fakta mana yang ditampilkan, dan bagaimana informasi tersebut dikemas agar memiliki makna tertentu. Dengan kata lain, media tidak hanya memberitakan apa yang terjadi, tetapi juga menyarankan bagaimana seharusnya publik melihat peristiwa tersebut.

Salah satu tokoh penting dalam teori ini adalah Robert Entman, yang menyebut bahwa framing melibatkan dua proses utama: selection (pemilihan fakta) dan salience (penekanan makna tertentu). Melalui dua proses ini, media bisa mengarahkan opini publik tanpa harus secara eksplisit memihak. Contohnya, dalam pemberitaan konflik, media bisa membingkai satu pihak sebagai korban dan pihak lain sebagai pelaku, tergantung dari narasi yang dibangun, gambar yang ditampilkan, atau kutipan yang dipilih.

Framing juga erat kaitannya dengan agenda setting, tetapi keduanya berbeda. Jika agenda setting berfokus pada isu apa yang dianggap penting oleh media, maka framing berfokus pada bagaimana isu tersebut disajikan. Misalnya, dua media bisa memberitakan isu yang sama, tetapi dengan frame yang sangat berbeda sehingga menghasilkan pemahaman publik yang berlawanan.

Dalam praktiknya, framing media bisa bersifat positif atau negatif. Di satu sisi, framing bisa digunakan untuk membangun kesadaran sosial, mendorong solidaritas, dan mempercepat respon terhadap masalah publik. Namun di sisi lain, framing juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan politik, menyebarkan bias, atau membentuk opini yang menyesatkan.

Contoh nyata dari teori framing bisa dilihat dalam pemberitaan demonstrasi. Sebuah media bisa menampilkan demo sebagai aksi damai yang menyuarakan keadilan, sementara media lain bisa membingkainya sebagai aksi anarkis yang mengganggu ketertiban. Padahal faktanya sama, namun bingkai pemberitaannya berbeda.

Masyarakat sebagai konsumen media perlu memiliki literasi media agar tidak terjebak dalam framing yang menyesatkan. Kemampuan untuk mengenali sudut pandang, narasi tersembunyi, dan keberpihakan media sangat penting dalam membentuk opini yang adil dan kritis.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....