Melalui Lomba, Filosofi Bakcang Tetap Terjaga

  • 19 Jun 2026 00:22 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Lomba membuat bakcang tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana mengenalkan sejarah dan filosofi makanan tradisional Tionghoa. Salah satu warga Tionghoa Sanggau, Wina Chew Adinata menilai kegiatan ini merupakan salah satu cara untuk menjaga warisan budaya agar tetap dikenal masyarakat.

"Filosofi bakcang berasal dari sebuah legenda tentang panglima perang yang jatuh ke sungai besar. Rakyat kemudian membuat makanan yang dibungkus untuk menghormati dan menjaga jasadnya," ujar Wina Chew Adinata di Sanggau pada Kamis, 18 Juni 2026.

Menurutnya, kisah tersebut menjadi awal lahirnya tradisi membuat bakcang yang terus diwariskan hingga saat ini. Tradisi itu juga menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Tionghoa.

"Tradisi bakcang perlu terus dilestarikan agar nilai budayanya tidak hilang. Warisan budaya ini harus tetap dikenal oleh generasi berikutnya," ungkapnya.

Wina berharap keterlibatan masyarakat dalam lomba bakcang semakin luas pada tahun-tahun mendatang. Selama ini, peserta yang mengikuti kegiatan tersebut masih didominasi oleh kaum ibu.

"Selama ini peserta masih didominasi oleh kaum ibu. Saya berharap ke depan ada peserta pria yang ikut lomba bakcang," jelasnya.

Ia menambahkan, lomba bakcang tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua yang digelar di Pekong setelah sebelumnya dilaksanakan dua tahun lalu. Meski jumlah peserta tidak seramai tahun sebelumnya, kegiatan ini diharapkan terus berlanjut sebagai media pelestarian budaya dan edukasi bagi generasi muda untuk mengenal tradisi Tionghoa

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....