Sejarah Melempar Jumrah dalam Ibadah Haji

  • 06 Jun 2025 21:51 WIB
  •  Entikong

KBRN, Entikong: Melempar jumrah merupakan salah satu ritual penting dalam ibadah haji yang dilaksanakan di Mina, Arab Saudi. Ibadah ini dilakukan dengan melemparkan batu-batu kecil ke tiga titik yang disebut Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah. Meskipun tampak sederhana, ritual ini memiliki makna dan sejarah yang sangat dalam dalam tradisi Islam.

Secara historis, melempar jumrah merujuk pada peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS. Menurut riwayat, saat Ibrahim hendak melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putranya, Ismail, setan datang untuk menggoda dan menghalangi ketaatannya. Setan muncul di tiga lokasi berbeda untuk menggoyahkan iman Ibrahim, namun setiap kali digoda, Ibrahim melemparinya dengan batu sebagai bentuk penolakan dan keteguhan terhadap perintah Allah. Tindakan inilah yang kemudian diabadikan dalam ritual melempar jumrah.

Ketiga titik tempat setan menggoda Ibrahim kini menjadi lokasi lempar jumrah: Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah, yang dilambangkan dengan tiga tiang atau dinding yang telah dibangun dan diperbesar seiring waktu untuk mengakomodasi jutaan jamaah. Ritual ini dilaksanakan mulai tanggal 10 Zulhijjah dan berlanjut hingga hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijjah).

Selain meneladani Nabi Ibrahim, melempar jumrah juga dimaknai sebagai simbol perlawanan terhadap hawa nafsu, godaan dunia, dan segala bentuk keburukan. Dalam praktiknya, jamaah haji diminta untuk melempar tujuh batu kecil ke masing-masing jumrah setiap harinya sebagai bentuk simbolik dari mengusir godaan setan dari diri sendiri.

Seiring perkembangan zaman, sistem pelaksanaan lempar jumrah telah ditingkatkan untuk memastikan keselamatan jamaah, termasuk penggunaan jembatan bertingkat, perluasan area, dan pengaturan waktu agar tidak terjadi penumpukan massa. Namun, makna spiritualnya tetap tidak berubah: sebagai bentuk penguatan iman dan penolakan terhadap godaan.

Dengan demikian, melempar jumrah bukan sekadar melempar batu, melainkan sebuah ibadah yang sarat makna sejarah, simbolik, dan spiritual. Ia mengajarkan keteguhan iman, ketaatan mutlak kepada Allah, dan perjuangan melawan segala bentuk bisikan buruk yang menghalangi jalan kebenaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....