Film Karya Pemuda Sanggau Raih Penghargaan KIIFF 2025

  • 07 Okt 2025 16:19 WIB
  •  Entikong

KBRN, Entikong: Film pendek ‘Amoth: Ritual Adat Nyeser’ karya pemuda Kabupaten Sanggau yang menceritakan tentang kearifan lokal dari suku Dayak meraih Honorable Mention: Original Story di Kalimantan International Indigenous Film Festival (KIIFF) 2025. KIIFF 2025 berlangsung di Palangkaraya pada 16-20 September 2025 dengan pemutaran publik di Cinema XXI Palma/Palangkaraya Mall pada 18-19 September, disertai panel, lokakarya, dan program komunitas yang mengangkat tema "Preserving Indigenous Ecological Knowledge”.

Muhammad Aqil Noviandri, sutradara film karya anak Sanggau tersebut menjelaskan, Film pendek ‘Amoth: Ritual Adat Nyeser’ merupakan karya Komunitas KiliKulu Films bekerjasama dengan Samudra Bekudongk, Saka Sinema, dan berbagai mitra lintas sektor untuk memperkuat ekosistem kreatif lokal. Ia menyampaikan, pihaknya selalu berupaya untuk mengangkat nilai lokal yang ada di Kabupaten Sanggau.

"Kami mempunyai visi untuk terus membuat dan mengangkat narasi lokal yang ada di Kabupaten Sanggau dan membawa kisah-kisah dari kampung, hutan, dan sungai ke ruang tontonan yang lebih luas melalui karya audiovisual yang etis dan berakar pada komunitas," ujarnya Aqil, Selasa (7/10/2025).

Aqil mengungkapkan, penghargaan yang diperoleh oleh timnya tersebut, akan dipersembahkan untuk masyarakat Sanggau, terlebih khusus bagi masyarakat Dusun Syam, Desa Temiang Taba, Kecamatan Balai, Kabupaten Sanggau, serta Ketua Adat Dusun Syam. Selain itu, pengahragaan ini juga dipersembahkan bagi orang muda yang tetap menjaga tradisi dalam keseharian mereka.

“Penghargaan yang diperoleh dipersembahkan untuk masyarakat Sanggau, khususnya masyarakat Dusun Syam, Ketua Adat Dusun Syam, Desa Temiang Taba serta orang muda yang menjaga tradisi tetap bernapas dalam keseharian mereka dan bukan sebagai tontonan, melainkan sebagai peta merawat tanah, air, dan sesama," ujarnya.

Aqil menceritakan, film 'Amoth: Ritual Adat Nyeser' merekam dari dalam komunitas saat perajin, anak muda, dan para tetua menyiapkan ritual adat melalui gestur, doa, dan hening. Ia menambahkan, dalam film ini, memperlihatkan bagaimana ritual masyarakat adat itu menjadi panduan untuk hidup selaras dengan hutan yang sampai hari ini masih lestari.

"Sinopsis dari film ini membawa kita ke jantung tradisi masyarakat Dayak Taba di Kalimantan Barat. Di tengah hutan yang lebat dan kehidupan yang sederhana, sebuah ritual sakral bernama Nyeser dijalankan untuk menjaga keseimbangan antara manusia, roh, dan alam. Dalam ritual ini, sosok Amoth yang dipercaya sebagai roh penunggu dihormati dengan persembahan agar tidak mengganggu panen," pungkasnya. (Kontributor: Abang Indra).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....