Fenomena Biar Tekor Asal Tersohor dalam Dunia Bisnis

  • 27 Mei 2026 09:58 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Ada satu pola pikir lama yang masih bertahan hingga hari ini: “biar tekor asal tersohor.” Sekilas terdengar ringan, bahkan dianggap strategi “berani” dalam membangun nama. Namun jika dicermati lebih dalam, prinsip ini justru mencerminkan cara berpikir yang keliru dan tidak relevan di tengah realitas ekonomi digital saat ini.

Di era ketika informasi bergerak cepat dan transparansi semakin tinggi, popularitas tidak lagi bisa berdiri sendiri sebagai ukuran keberhasilan. Masyarakat hari ini bukan lagi audiens pasif. Mereka membandingkan, menilai, bahkan mengkritisi. Produk atau individu yang hanya mengandalkan sensasi tanpa kualitas akan cepat naik, tetapi jauh lebih cepat pula dilupakan.

Ironisnya, masih banyak pelaku usaha yang terjebak pada logika lama ini. Diskon besar-besaran, promosi berlebihan, hingga “gimmick” yang memakan biaya tinggi sering dilakukan demi satu tujuan: viral. Padahal, viralitas tanpa fondasi bisnis yang sehat hanyalah ilusi. Ia menciptakan kesan ramai, tetapi tidak selalu menghasilkan keberlanjutan.

Tidak sedikit usaha yang sempat ramai diperbincangkan, namun kemudian perlahan menghilang. Penyebabnya hampir sama: biaya promosi tidak sebanding dengan pemasukan, manajemen keuangan lemah, dan tidak adanya nilai yang benar-benar ditawarkan kepada konsumen. Dalam konteks ini, “tersohor” justru menjadi jebakan yang mahal.

Fenomena serupa juga terlihat dalam personal branding. Tidak sedikit orang rela mengeluarkan biaya besar demi terlihat populer di media sosial, mulai dari membeli pengikut hingga menciptakan konten sensasional. Namun, tanpa substansi yang jelas, popularitas semacam ini rapuh. Audiens saat ini semakin kritis; mereka lebih menghargai keaslian, konsistensi, dan nilai nyata dibanding sekadar pencitraan.

Yang perlu disadari adalahblanskap telah berubah. Kepercayaan kini menjadi mata uang utama. Tanpa kepercayaan, popularitas tidak memiliki arti. Bahkan, dalam banyak kasus, popularitas tanpa kredibilitas justru mempercepat runtuhnya reputasi.

Karena itu, sudah saatnya prinsip “biar tekor asal tersohor” ditinggalkan. Dunia hari ini menuntut pendekatan yang lebih rasional dan berkelanjutan. Promosi tetap penting, tetapi harus diimbangi dengan kualitas, perencanaan, dan pengelolaan yang matang. Membangun nama bukan soal seberapa cepat dikenal, tetapi seberapa lama bisa dipercaya.

Jika tetap memaksakan logika lama, maka yang terjadi bukanlah kesuksesan, melainkan siklus singkat: viral, ramai, lalu hilang. Sebaliknya, mereka yang fokus pada nilai dan keberlanjutan mungkin tumbuh lebih lambat, tetapi jauh lebih kokoh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....