Replika Bulu Ruai Dukung Budaya Dayak Ramah Lingkungan

  • 07 Jul 2026 20:08 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong – Camat Tayan Hulu, Laurianus Yoka mendukung pemanfaatan teknologi dalam pelestarian budaya Dayak sebagai upaya menjaga identitas masyarakat adat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Salahsatu inovasi yang ia soroti adalah penggunaan replika bulu burung Ruai sebagai pengganti bulu asli pada atribut budaya Dayak dalam Gawai Dayak Nosu Minu Podi ke XXII di Rumah Adat Dori Mpulor.

"Kami para penggiat budaya, termasuk isu lingkungan, melaksanakan semangat Laudato Si' Paus Fransiskus. Kita tidak boleh lagi melakukan perburuan terhadap binatang-binatang yang sebenarnya sudah sangat langka. Salah satunya burung Ruai yang hari ini keberadaannya semakin langka," kata Laurianus Yoka pada saat menghadiri kegiatan Gawai Dayak Nosu Minu Podi ke XXII di Rumah Adat Dori Mpulor, Kabupaten Sanggau, Selasa 7 Juni 2026.

Ia mengatakan, pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan mengorbankan kelestarian alam. Menurutnya, perkembangan teknologi kini memungkinkan masyarakat tetap mempertahankan identitas budaya Dayak melalui penggunaan replika bulu burung Ruai tanpa harus memburu satwa tersebut.

"Melalui pendekatan AI dan teknologi hari ini, tanpa menghilangkan kebudayaan itu, bulu burung Ruai bisa kita ciptakan kembali. Jadi masyarakat tetap bisa menunjukkan identitas budayanya tanpa perlu membunuh binatang," ujarnya.

Yoka menjelaskan, inovasi tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha berbasis budaya. Ia mengungkapkan, produk replika bulu burung Ruai hasil karya budayawan di Singkawang, Kalimantan Barat bahkan telah dipasarkan hingga Malaysia dengan harga yang terjangkau.

"Hari ini produk ini sudah diekspor sampai ke Malaysia. Harganya juga murah dan menjadi peluang bagi UMKM. Ke depan kami akan berkolaborasi agar masyarakat tidak meninggalkan budaya, tetapi tetap bisa menunjukkan identitasnya," ucapnya.

Ia berharap inovasi tersebut dapat menjadi contoh pelestarian budaya, pemanfaatan teknologi, dan upaya menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan. Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci agar warisan budaya Dayak tetap lestari sekaligus mendukung konservasi satwa langka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....