Kesetaraan Gender Dua Sisi Budaya dan Modern di Masyarakat

  • 08 Jun 2026 15:28 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Isu kesetaraan gender terus menjadi perhatian dalam dinamika sosial masyarakat yang semakin berkembang, termasuk di kalangan generasi muda yang mulai aktif menyuarakan pandangan mereka di ruang publik. Perdebatan mengenai apakah kesetaraan gender merupakan ancaman bagi tradisi atau justru tuntutan zaman modern masih menjadi topik yang menarik untuk dibahas dari berbagai sudut pandang.

Dare Pontianak dan Putri Bahari Indonesia RU 1 2025, Febi Hanifela, menilai bahwa kesetaraan gender perlu dipahami secara bijak sebagai bagian dari perkembangan sosial yang tidak dapat dipisahkan dari nilai budaya yang telah ada di masyarakat. Menurutnya, kesetaraan gender tidak boleh dimaknai sebagai upaya menghapus peran tradisional, melainkan sebagai bentuk keadilan dalam memberikan ruang yang sama antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing.

“Kesetaraan gender bukan untuk menghilangkan budaya, tetapi untuk menciptakan keseimbangan peran yang lebih adil antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial,” ungkap Febi Hanifela dalam obrolan Pengarustamaan Gender RRI Sanggau, Senin 8 Juni 2026.

Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif budaya, khususnya nilai-nilai yang hidup di masyarakat Melayu, laki-laki dan perempuan memiliki peran yang saling melengkapi dalam kehidupan keluarga dan sosial, sehingga pemahaman kesetaraan gender harus ditempatkan secara proporsional. Perkembangan zaman saat ini justru membuka peluang lebih luas bagi perempuan untuk berkiprah di berbagai bidang seperti pendidikan, ekonomi, hingga kepemimpinan tanpa harus meninggalkan identitas budaya yang dimiliki.

“Dalam budaya Melayu, laki-laki dan perempuan saling melengkapi sehingga kesetaraan gender harus dipahami secara proporsional, seiring perkembangan zaman yang membuka peluang luas bagi perempuan tanpa meninggalkan identitas budaya," jelasnya.

Febi Mengatakan bahwa Fenomena meningkatnya partisipasi perempuan di ruang publik dinilai bukan sebagai ancaman terhadap tradisi, melainkan sebagai bentuk adaptasi terhadap kebutuhan masyarakat modern yang semakin kompleks dan dinamis. Tantangan utama saat ini adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara nilai tradisi dan tuntutan zaman agar keduanya dapat berjalan beriringan tanpa saling bertentangan dalam kehidupan sosial masyarakat.

“Kesetaraan gender adalah dua sisi yang harus dilihat secara utuh, baik sebagai tuntutan zaman maupun sebagai ruang untuk memperkuat nilai budaya yang ada,” katanya.

Dengan pemahaman yang tepat dan menyeluruh, Febi berharap masyarakat dapat memandang kesetaraan gender bukan sebagai ancaman terhadap tradisi, melainkan sebagai bagian dari perkembangan sosial yang dapat memberikan ruang lebih adil bagi laki-laki dan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut juga diharapkan mampu menjadi peluang untuk memperkuat nilai keadilan sosial sekaligus menjaga serta mempertahankan identitas budaya di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, sehingga keduanya dapat berjalan seimbang tanpa saling bertentangan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....