Budaya Literasi Perkuat Peradaban Manusia dalam Perspektif Islam
- 24 Jul 2026 11:39 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Budaya literasi menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga keberlangsungan peradaban manusia. Dalam perspektif Islam, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai upaya memahami ilmu pengetahuan, mengembangkan akal, serta mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan bersama.
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Parindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sanggau, Syahid, mengatakan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh budaya literasi masyarakatnya. Semakin tinggi minat membaca, menulis, dan mengkaji ilmu pengetahuan, semakin kuat pula fondasi peradaban yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Peradaban yang besar selalu lahir dari masyarakat yang mencintai ilmu, islam sendiri mengajarkan umatnya untuk menjadikan membaca dan belajar sebagai bagian dari ibadah sepanjang hayat," ungkap Syahid dalam Obrolan Mutiara Pagi RRI Sanggau, Jumat 24 Juli 2026.
Ia menjelaskan bahwa literasi memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar mengenal huruf, literasi merupakan kemampuan memahami informasi secara utuh, berpikir kritis, mengambil keputusan yang tepat, serta menyampaikan pengetahuan dengan penuh tanggung jawab. Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi bekal penting dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Syahid mengatakan bahwa salah satu bukti pentingnya literasi adalah keberadaan catatan sejarah. Berbagai pencapaian umat manusia dapat dikenal hingga saat ini karena adanya tradisi menulis, mendokumentasikan ilmu, dan mewariskan pengetahuan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
"Apabila manusia tidak memiliki catatan sejarah, maka peradaban akan cepat punah karena pengalaman, ilmu, dan nilai-nilai kehidupan tidak dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya," ujarnya.
| Baca juga: Bekal Menjadi Tamu Allah di Baitullah |
Menurutnya, tantangan literasi saat ini bukan lagi terbatas pada rendahnya minat membaca, tetapi juga derasnya arus informasi di media digital. Banyak masyarakat menerima informasi secara instan tanpa memahami isi maupun memeriksa kebenarannya sehingga mudah terpengaruh oleh berita bohong dan provokasi.
Ia menilai strategi meningkatkan literasi masyarakat perlu dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, rumah ibadah, hingga komunitas. Orang tua perlu membiasakan anak membaca sejak dini, sementara tokoh agama dan pendidik terus mendorong budaya berdiskusi, menulis, serta memanfaatkan media digital sebagai sarana belajar yang positif.
Syahid berharap bahwa salah satu nilai penting yang harus ditanamkan kepada masyarakat adalah prinsip tabayun. Dalam ajaran Islam, setiap informasi yang diterima hendaknya diperiksa sumber, isi, dan kebenarannya sebelum dipercaya maupun disebarluaskan, kebiasaan tersebut akan melahirkan masyarakat yang lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah terprovokasi.
"Literasi akan membentuk pribadi yang cerdas, jujur, bertanggung jawab, serta mampu mengamalkan nilai-nilai moderasi beragama dalam kehidupan bermasyarakat," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....