Sering Disalahpahami, Ini Fakta Ruqyah yang Jarang Diketahui Publik
- 06 Mei 2026 09:12 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Ruqyah syar’iyah kerap kali diselimuti stigma dan kerap diasosiasikan dengan praktik mistis yang menimbulkan kesan menakutkan di tengah masyarakat. Padahal, metode ini memiliki landasan yang jelas dan kuat dalam ajaran agama, sehingga kesalahpahaman yang muncul lebih disebabkan oleh minimnya literasi dan pemahaman publik dalam memaknai praktik tersebut secara utuh.
Terapis Bekam dan Ruqyah Syar’iyah Klinik Yuzana Brunei Darussalam, Muhlinda, mengatakan bahwa ruqyah syar’iyah memiliki perbedaan yang sangat mendasar dengan praktik-praktik yang mengarah pada kesyirikan atau hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama. Metode ini sepenuhnya bersandar pada pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an serta doa-doa yang diajarkan dalam tuntunan Nabi, tanpa unsur ritual tambahan yang tidak memiliki dasar syariat.
“Ruqyah itu ada dua jenis ada ruqyah syirkiah dan ruqyah syariah. Kalau ruqyah syirkiah biasanya meminta sesuatu seperti sesajen, tapi kalau ruqyah syariah itu langsung membacakan ayat-ayat suci Al-Quran dan doa-doa Nabi,” ungkap Muhlinda dalam Obrolan Pengarusutamaan Gender RRI Sanggau, Senin, 4 Mei 2026.
Ia menjelaskan bahwa ruqyah syar’iyah kerap menjadi salah satu ikhtiar alternatif bagi pasien yang mengalami gangguan non medis, khususnya ketika keluhan yang dirasakan tidak menunjukkan indikasi jelas secara medis. Tidak sedikit pasien yang datang dengan berbagai keluhan fisik maupun psikologis, namun hasil pemeriksaan medis tidak menemukan penyebab yang spesifik, sehingga ruqyah menjadi salah satu pendekatan yang dipilih untuk membantu memberikan ketenangan dan pemulihan.
Dalam praktiknya, kata Muhlinda proses ruqyah kerap memperlihatkan reaksi yang beragam pada sebagian pasien, baik secara fisik maupun emosional. Respons tersebut sering dipandang sebagai salah satu indikasi adanya gangguan atau kondisi tertentu yang sebelumnya tidak disadari oleh pasien, sehingga menjadi bagian dari proses evaluasi dalam penanganan yang dilakukan.
“Ketika seseorang sakit tapi sudah ke dokter dan dinyatakan normal namun masih merasakan sakit, maka biasanya ketika diruqyah itu akan bereaksi entah kesurupan atau muntah,” ujarnya.
Setelah menjalani proses ruqyah, kata Muhlinda, tidak sedikit pasien yang merasakan perubahan positif berupa ketenangan batin, pikiran yang lebih stabil, hingga sebagian di antaranya mengaku mengalami perbaikan kondisi kesehatan. Hal ini dipandang sebagai salah satu bentuk manfaat yang dapat dirasakan, selama ruqyah dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat dan tidak menyimpang dari prinsip-prinsip agama.
“Jadi perlu kita sampaikan bahwasanya ini ada pengobatan yang tidak mahal cukup dengan kita yakin kepada Allah dan ikhtiar melalui ruqyah ini,” jelasnya.
Muhlinda berharap agar masyarakat tidak lagi memandang ruqyah syar’iyah sebagai sesuatu yang menyeramkan atau identik dengan praktik mistis yang keliru dipahami. Ia mengajak seluruh pihak untuk membuka wawasan dan memahami metode ini secara lebih utuh dan proporsional, sehingga tidak lagi terjadi kesalahpahaman yang dapat menimbulkan stigma di tengah masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....