Hari Bumi Momentum Keseimbangan Alam dan Mitigasi Bencana
- 22 Apr 2026 17:29 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Hari Bumi menjadi momentum refleksi bahwa hubungan manusia dengan alam harus kembali diseimbangkan, alam bukan hanya objek yang dimanfaatkan, tetapi juga harus dijaga keberlanjutannya. Ketika hutan berkurang, tanah kehilangan daya serap air, dan ekosistem terganggu, maka dampaknya akan kembali dirasakan oleh manusia dalam bentuk bencana.
Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah(BPBD) Kabupaten Sanggau, Kristian Hendro, menyampaikan bahwa berdasarkan data dari dokumen kajian risiko bencana selama 10 tahun terakhir, terdapat enam jenis potensi bencana di wilayah tersebut, dengan empat di antaranya yang paling sering terjadi.
“Dalam 10 tahun terakhir terdapat enam risiko bencana, dan empat yang paling sering terjadi sudah masuk dalam rancangan final dokumen rencana penanggulangan bencana,” kata Hendro, dalam Dialog RRI Sanggau Menyapa, Rabu 22 April 2026.
| Baca juga: Hidup Sementara, Bekal Menuju Akhirat |
Menurutnya risiko tertinggi dan paling sering terjadi di Kabupaten Sanggau adalah banjir dengan kategori sedang hingga tinggi. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, serta tanah longsor juga menjadi ancaman yang cukup dominan.
Disampaikannya, berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika(BMKG), intensitas hujan pada tahun 2026 tidak tergolong tinggi, namun kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena dapat memicu bencana lain seperti kekeringan maupun kebakaran lahan. Di sisi lain, potensi gempa bumi dan cuaca ekstrem juga turut memengaruhi ketidakstabilan kondisi alam di wilayah tersebut.
“Banjir menjadi risiko paling tinggi, disusul kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, serta longsor yang kerap terjadi di Sanggau,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hendro menyampaikan bahwa kondisi geografis dan topografi wilayah Sanggau turut berpengaruh terhadap meningkatnya risiko bencana. Alih fungsi lahan yang masif, terutama menjadi perkebunan dengan tanaman monokultur seperti kelapa sawit, menyebabkan perubahan ekosistem yang berdampak pada meningkatnya intensitas cuaca ekstrem, khususnya di wilayah dataran tinggi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sanggau kata Hendero, terus mendorong upaya mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai potensi bencana tersebut. Hal ini dilakukan melalui peningkatan koordinasi lintas sektor, edukasi kepada masyarakat, serta penguatan sistem kesiapsiagaan di tingkat daerah.
" Ya harapannya masyarakat dapat lebih peduli terhadap lingkungan serta berperan aktif dalam menjaga keseimbangan alam, sehingga risiko bencana dapat diminimalisir di masa mendatang," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....