Suka Duka dan Tantangan Guru Tahfiz Membimbing Santri

  • 15 Apr 2026 12:44 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Menghafal Al-Qur’an tidak hanya dipandang sebagai perjalanan intelektual semata, tetapi juga merupakan ujian mental dan fisik yang menuntut keteguhan hati serta konsistensi yang kuat. Di balik capaian hafalan para santri, tersimpan kisah perjuangan panjang yang sarat suka dan duka, baik dari sisi para penghafal maupun para pembimbing yang setia mendampingi setiap prosesnya.

Guru Tahfiz Pondok Al-Mukhlishin Antibar Kabupaten Mempawah, Rainold Renaldi, membagikan pengalaman mendalamnya dalam menjalani sekaligus membimbing proses hafalan Al-Qur’an di tengah dinamika kehidupan pesantren. Perjalanan tersebut tidak selalu berlangsung mudah, namun sarat dengan makna, pembelajaran hidup, serta pembentukan karakter yang terus menguatkan dirinya sebagai seorang pendidik.

“Menghafal Al-Qur’an itu bukan hanya soal mengingat, tetapi juga perjuangan melawan rasa lelah dan bosan. Dalam prosesnya, ada rasa sakit secara fisik dan mental, tetapi di situlah letak keberkahannya,” ujar Rainold dalam Obrolan Sore Ceria Pro 2 RRI Sanggau, Selasa, 14 April 2026.

Rainold menjelaskan bahwa dalam proses menghafal, para santri kerap dihadapkan pada kondisi kelelahan akibat padatnya aktivitas harian di lingkungan pesantren yang berjalan sejak pagi hingga malam. Situasi tersebut pada akhirnya menjadi ujian tersendiri yang mengasah konsistensi, ketahanan diri, serta kedisiplinan para santri dalam menjaga ritme hafalan mereka.

“Santri harus membagi waktu antara belajar, aktivitas pondok, dan menghafal, sehingga sering kali mereka merasa lelah. Namun dari situ mereka dilatih untuk tetap disiplin dan bertanggung jawab,” katanya.

Tantangan lain yang kerap muncul, menurutnya, adalah menurunnya motivasi di tengah perjalanan menghafal Al-Qur’an. Rasa jenuh serta berbagai godaan dari lingkungan luar menjadi faktor yang cukup dominan dan sering memengaruhi konsistensi santri dalam menjaga semangat belajar mereka.

“Banyak santri yang awalnya semangat, tetapi di tengah jalan mulai kehilangan motivasi. Ini menjadi tantangan bagi kami untuk terus menjaga semangat mereka agar tetap konsisten,” jelasnya.

Rainold mengungkapkan bahwa sebagai pembimbing, dirinya dituntut untuk mampu memahami karakter setiap santri secara mendalam serta memberikan pendekatan yang tepat sesuai kebutuhan masing-masing individu. Peran komunikasi yang intens dengan orang tua dalam proses pembinaan juga amat penting, agar perkembangan santri dapat terpantau dan didukung secara optimal dari berbagai sisi.

“Dalam membimbing santri, kami harus sabar dan memahami kondisi masing-masing anak. Pendekatan personal serta komunikasi dengan orang tua sangat membantu dalam menjaga perkembangan hafalan mereka,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa di balik berbagai tantangan tersebut, terdapat kebahagiaan tersendiri ketika melihat santri berhasil mencapai target hafalan. Momen tersebut menjadi penyemangat terbesar bagi seorang guru tahfiz.

“Ketika melihat santri berhasil menghafal dan menjaga hafalannya, itu menjadi kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan. Semua lelah terbayar dengan pencapaian mereka,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....