Bukan Hanya Hafalan, Inovasi Guru Muda Menjaga Semangat Santri Tahfiz

  • 15 Apr 2026 10:50 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Menghafal Al-Qur’an kerap dianggap sulit oleh banyak orang, namun bagi seorang guru tahfiz di Mempawah, anggapan tersebut justru menjadi peluang untuk menghadirkan inovasi dalam metode pembelajaran yang lebih adaptif dan humanis. Di balik proses yang panjang, terdapat strategi dan pendekatan yang disesuaikan dengan karakter setiap santri.

Guru Tahfiz Pondok Al-Mukhlishin Antibar Mempawah, Rainold Renaldi, mengisahkan pengalaman panjangnya dalam membimbing puluhan santri yang datang dengan latar belakang, karakter, serta kemampuan yang beragam dan dinamis. Peran seorang pendidik tidak hanya sebatas mengajarkan hafalan, melainkan juga menuntut kepekaan dalam memahami kondisi psikologis, pola pikir, serta kebiasaan belajar setiap santri secara mendalam dan berkelanjutan.

“Kami membimbing sekitar 30 hingga 40 santri dengan karakter yang berbeda-beda, sehingga pendekatan yang digunakan juga tidak bisa sama. Setiap santri membutuhkan metode yang sesuai agar proses menghafal berjalan efektif,” ungkapnya dalam Obrolan Sore Ceria Pro 2 RRI Sanggau, Selasa, 14 April 2026.

Rainold mengungkapkan bahwa salah satu kendala utama yang kerap dihadapi dalam proses pembinaan adalah munculnya rasa jenuh serta distraksi yang berasal dari lingkungan luar. Penggunaan gawai, khususnya saat momen kunjungan keluarga ke pondok, sering kali menjadi pemicu terganggunya fokus dan konsentrasi santri dalam menjaga ritme hafalan mereka.

“Santri sering kehilangan fokus ketika kembali terpapar kebiasaan di luar, seperti penggunaan gadget saat kunjungan. Hal ini membuat mereka harus beradaptasi kembali dengan ritme kehidupan pesantren,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, pendekatan personal menjadi kunci utama yang tidak bisa diabaikan. Pentingnya membangun komunikasi yang hangat dan terbuka, baik dengan santri maupun orang tua, guna menemukan solusi yang tepat, menyeluruh, dan berkelanjutan.

“Ketika santri mulai kehilangan semangat, kami lakukan pendekatan dengan merangkul dan memahami masalahnya. Kami juga menjalin komunikasi dengan orang tua agar dapat bersama-sama mendukung perkembangan anak,” jelasnya.

Pengembangan minat dan bakat, kata Rainold, turut menjadi strategi yang efektif dalam menjaga nyala motivasi para santri agar tetap konsisten dalam proses menghafal. Santri tetap diberikan ruang yang luas untuk mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, sebagai sarana penyaluran potensi sekaligus penyegar dari rutinitas yang padat.

“Santri tidak hanya fokus menghafal, tetapi juga bisa mengembangkan bakat seperti olahraga, silat, atau marching band. Dengan begitu, mereka tetap semangat dan tidak merasa jenuh,” ujarnya.

Rainold berharap masyarakat dapat memandang proses menghafal Al-Qur’an sebagai perjalanan panjang yang memerlukan dukungan lingkungan yang kondusif serta kesabaran yang berkesinambungan. Ia mengajak seluruh elemen, baik keluarga, pendidik, maupun masyarakat luas, turut ambil bagian dalam menumbuhkan generasi yang mencintai Al-Qur’an serta menjadikannya sebagai pedoman hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....